Wisata

Hulu Danau Toba tak Kalah Menakjubkan

Pemandangan direkam dari puncak Sipiso-piso, hulu Danau Toba

Catatan: Maruli Siregar  PEMANDANGAN takjub keindahan Danau Toba, Sumatera Utara dapat dinikmati bukan saja di Parapat atau Tuktuk Samosir. Salah satu dari tujuh keajaiban dunia ini juga dapat dinikmati dari Sipisopiso, Tongging, Kabupaten Tanahkaro atau Silalahi Desa Sabungan Kabupaten Dairi, hulu Danau Toba.

Asyik memang. Terlebih bagi anda yang menikmati perjalanan dari arah Medan. Udara dingin pegunungan Bukitbarisan dapat dirasakan ketika memasuki wilayah Sibolangit. Singgah mengunyah jagung panas, bandrek dan jajanan lain di Panatapan, puncak bukit perbatasan Deliserdang-Tanahkaro.

Anda bisa mandi air belerang Sidebukdebuk, yang mengalir dari Gunung Sibayak. Penting menghangatkan tubuh di kawasan dingin yang menusuk tulang. Tidak mahal, hanya bayar retribusi wisata, parkir dan uang masuk di pengelola yang kita tuju beberapa ribu rupiah.

Jika bersama keluarga, memang asyiknya kalau bawa bontot dari rumah. Jadi bisa gelar tikar dan makan bersama di joglo-joglo yang disediakan pengelola pemandian. Seakan tidak mau pulang, kalau sudah merendam tubuh di kolam air panas berbelerang yang suhunya beragam, mulai dari level rendah hingga level panas.

Perjalanan masih panjang. Alam indah Ciptaan Tuhan masih terhampar membentang hingga Danau Toba. Mari kita bergegas meninggalkan Sidebukdebuk. Beranjak menikmati Kota Brastagi. Gundukan rumput hijau membentang di halaman Hotel Bukit Kubu. Anak-anak bisa melepas penat dengan berlari-lari di hamparan rumput. Mengejar bola, main layangan, menjerit-jerit hingga merebahkan tubuh di bawah pohon nan rindang.

Kita menuju Pasar Buah Brastagi. Beragam buah dan sayuran hasil pertanian dan kebun masyarakat Tanahkaro. Di kawasan Pasar Buah ini pengunjung juga bisa membeli beragam souvenir dan pakaian yang berkhas Wisata Brastagi.

Sebaiknya memang, oleh-oleh dan buah untuk makanan dalam perjalanan dibeli di Pasar Buah ini. Sebab ketika memasuki kawasan Danau Toba, kita tak menemukan buah-buah unik, kecuali mangga mungil yang dikenal dengan mangga Parapat jika sedang musim.

Ayo… kita beranjak menelusuri Jl Djamin Ginting ke Arah Simpang Merek. Pertiga Jalan menuju Sidikalang dan Pematangsiantar ini kita harus singgah di swalayan untuk melengkapi kebutuhan selama berada di Danao Toba.

Sekira 200 Meter dari pertiga jalan ini kita belok ke kanan, turun menuju ‘ubun-ubunnya’  Danau Toba. Lebih kurang tiga kilometer kita menemukan gapura Dinas Pariwisata Tanahkaro. Karcis retribusi wisata wajib dibeli di sini. Berlaku untuk menikmati air terjun Sipiso-piso dan Tongging Danau Toba.

Jika ada gangguan pada kesehatan jantung, sebaiknya tidak iseng atau nekad menelusuri ratusan anak tangga ke titik terjunnya air Sipiso-piso. Butuh waktu sekitar 45 menit jalan santai ke bawah, dan 60 menit untuk naik kembali.

Perjalanan cukup asyik dan mulai meletihkan. Jangan kuatir, setelah menikmati kawasan Sipiso-piso salah satu titik hulu Danau Toba itu, perjalanan dapat dilanjutkan, turun melintasi tikungan-tikungan curam ke Tongging. Kalau masih lapar, dapat menikmati ikan bakar khas Danau Toba di pantai tongging. Joglo berbaris di atas danau disediakan pengelola. Pemandangan tak berbatas sepanjang danau yang tepinya seakan menyentuh langit.

Jika hari sudah mulai senja, karena seharian berwisata, jangan paksakan menuju Pantai Silalahi di Desa Sabungan, Kabupaten Dairi. Jalan sepanjang 10 kilometer menelusuri bukit yang mendinding air danau Toba membutuhkan konsentrasi penuh oleh Sopir.

Sebaiknya check in Hotel yang harganya relatif terjangkau di Tongging. Bersama keluarga menikmati malam di hulu Danau Toba. Tempat ini benar-benar untuk wisata, tidak terlalu padat seperti di Parapat atau pun di Tuktuk Samosir. Malam seakan kurang panjang. Desiran air terjun Sipiso-piso mulai terdengar keras seiring bertambahnya larutnya malam.

Pagi, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pantai Silalahi. Danau Toba nan biru, bunga-bunga tumbuh liar di dinding danau seakan menjadi marka jalan mengingatkan sopir untuk tetap melajukan kendaraan di jalur yang benar. Jalan sempit sangat berbahaya ketika kendaraan berpapasan dari arah berlawanan.

Pohon mangga yang dikenal dengan mangga Parapat berusia lumayan tua bagai menjadi benteng erosi pegunungan. Mangga ini cukup dikenal hingga ke mancanegara oleh touris luar.

Memasuki gapura perbatasan Tanahkaro-Dairi, kita dapat menolehkan pemandangan tetap ke arah kiri (Danau Toba). Tampak tugu mirip Monas di Jakarta. Tugu ini merupakan menumen bagi Marga Silalahi. Setelah itu kita juga menemukan sejumlah rumah adat Batak yang kurang terawat. Keberdaan rumah-rumah adat Batak ini bagai tanda bahwa perjalanan segera terhenti di Pantai Silalahi.

Pantai Silalahi, dari arah kaki Bukit Barisan dialiri anak sungai yang airnya cukup dingin. Muara di pantai ini tidak dalam. Meski cukup aman bagi anak-anak, kita tetap harus mengawasi mereka ketika sedang mandi dan bermain air di danau ini. Berbeda dengan di Parapat apalagi di Tuktuk Samosir, pantai yang indah dengan pasir putih cukup indah di Pantai Silalahi ini.

Naik Kapal Feri seperti di Parapat juga tersedia di kawasan Wisata Silalahi ini. Jangan lupa pulang, terlebih bagi anda yang sudah berhari-hari wisata meninggalkan rumah. Rutinitas pekerjaan juga sudah pasti  menunggu kembalinya anda berwisata. (*)

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top