Kualuh Leidong-Kualuh Hilir Labura Masih Tertinggal

by -30 views

PEMERINTAH Provinsi Sumatera Utara diminta lebih peka mencermati pemerataan pembangunan di daerah ini. 71 Tahun Indonesia merdeka, masih ada kawasan di Labuhanbatu Utara (Labura) yang masih tertinggal, alias belum tersentuh pembangunan.

“Pak Gubernur Sumut dan Bupati Labura silakan cek langsung ke lapangan sehingga menjadi bahan pemaparan bagi pemerintah pusat,” tegas Ahmad Riduan Hasibuan, aktivis muda Nahdlatul Ulama ini kepada Bumantara, Minggu (19/2).

Daerah pesisir pantai tepatnya, Desa Teluk Pulai Kecamatan Kualuh Leidong hingga Kualuh Hilir di Kabupaten Labura, berada di sekitar Sungai Kualuh menjadi bagian catatan sejarah keterbelakangan Sumatera Utara.

“Jalan protokolnya persis seperti jalanan menuju ke sawah. Ini harus menjadi perhatian pemerintah baik pusat maupun daerah. Ini telah kita sampaikan kepada presiden, harapannya pemerintah provinsi dan kabupaten lebih peka dan bisa lebih dahulu merespon ini,” kata Riduan yang juga Bendahara Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB-PMII) ini.

Dia berharap, pembangunan dan uang daerah tidak hanya digunakan untuk yang tampak di depan mata orang banyak. “Pembangunan harus merata sampai ke pelosok desa. Kalau Presiden Jokowi katakan bahwa pembangunan kita Indonesia sentris bukan Jawa sentris, harusnya pemerintah daerah bisa menterjemahkan itu lebih detail,” ujarnya.

Dia juga berharap anggota DPR baik pusat maupun daerah bisa dan mau bersuara tentang kebutuhan rakyat. “Janganlah lupakan mereka yang memilih anda, dosa anda kalau tidak amanah,” katanya.

Dikatakan, pemerataan pembangunan di daerah pesisir masih menjadi perhatian serius yang harus di selesaikan pemerintah pusat, provinsi mau pemerintah kabupaten kota karena ini akan menyangkut hajat hidup regenerasi.

Ketimpangan pembangunan daerah perkotaan dan pedesaan terasa masih menemui titik kesenjangan. Dampaknya, ujar Riduan, kemiskinan di daerah pedesaan semakin meningkat akibat infrastruktur yang tak kunjung baik dan tergolong sangat memperihatinkan.

Editor: Maruli Siregar