Bumantara/Daniel

Percut-BUMANTARA: Rendahnya hasil tangkapan selama tiga hari berada di tengah laut yang diakibatkan angin kencang dan pasang mati, maka laebih banyak pengeluaran untuk kebutuhan pokok selama di laut ketimbang hasil penjualan.

Sementara itu untuk memenuhi kebutuhan pokok maka nelayan harus mencari tempat penjualan yang bisa hutang, terlebih bahan utamanya beras 5kg untuk persediaan di laut. Solar 60 L itu kebutuhan kapal di laut selama 3 hari, gula 2 kg itu kalau kepingin ngopi atau ngeteh selama di laut. Apalah daya di laut kalau tidak ada rokok, rokok itu biasa selama 3 hari 6 bungkus per orangnya.

Jika dihitung total utang sekali berangkat selama 3 hari Rp1juta, sementara pendapatan hasil penjualan hanya Rp800 ribu, hal ini memberatkan nelayan saat terjadinya pasang mati dan angin goncang.

Sukma,  istri Sarifuddin selaku penjual kopi dan gorengan di sekitar Bagan Percut Sei Tuan Deliserdang mengungkapkan, kalau hanya menerima pendapatan suami saja tidak cukup karena semua semua sudah mahal, bahan pokok mahal dan juga kebutuhan biaya anak saja kurang.

“Karena itu saya ikut mencari tambahan berjualan di sekitaran walaupun hasilnya tidak seberapa hanya 50rb/harinya,” katanya kepada Bumantara sebelum Ramadhan lalu.

Sukma

Setiap pagi saya sudah harus berada di warung untuk melayani nelayan yang terkadang pesan kopi dan gorengan, hal ini tidak memberatkan saya karna demi keberlangsungan hidup dan membesarkan anak di rumah yang harus duduk di bangku sekolah.

Sukma mengungkapkan, terkadang dia sedih bagaimana nasib hidup anaknya ke depannya apakah dia mampu menyelolahkannya atau tidak karena setiap harinya terkadang utang sana dan utang sini.

Penulis: Daniel
Editor: Nur Fatimah

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top