Perayaan natal di medan belum lama ini. Foto/Dok

Oleh : Ricky Renaldi

Tidak terasa sebentar lagi hari natal dan tahun baru 2018 segera hadir. Natal adalah waktu yang paling dinantikan oleh Kristiani bahkan orang non-Kristen sekalipun.

Dikarenakan ketika datangnya Natal memberikan berkah kepada seluruh umat seperti berkah dalam menjual pernak pernik Natal, dan berkah untuk menjalin silaturahmi antar umat beragama.

Bisa dibayangkan bagaimana indahnya penjual mukenah dan peci juga dibarengi dengan menjual topi dan pernak pernik berbau sinterklas. Natal, peristiwa yang satu ini pastilah kaya makna, terutama bagi umat Kristiani.

Karena itu, gereja memperingati dan merayakannya setiap tahun, supaya kekayaan maknanya terus-menerus memaknai kehidupan kita. Sebenarnya, kapan pertama kali umat Kristiani memperingati dan merayakan Natal?

Jawabannya, tergantung umat Kristiani yang mana. Umat Kristiani di Mesir, misalnya, konon mulai merayakan Natal pada abad ke-3, tanggalnya 6 Januari, bertepatan dengan suatu hari raya umum. Namun, Gereja Roma Katolik sendiri mulai memperingati Natal pada akhir abad ke-4, tanggalnya 25 Desember.

Selanjutnya, tanggal itu pun diikuti oleh gereja-gereja di tempat-tempat di Indonesia sampai dengan sekarang. Jadi, dihitung-hitung, tradisi memperingati dan merayakan Natal di Indonesia sudah cukup tua usianya.

Sudah lebih dari enam belas abad, yang menjadi pertanyaan, setelah lebih dari enam belas abad diperingati dan dirayakan, apakah masih terjalinnya kerukunan dan berkah Natal bagi masyarakat Indonesia?

Pertanyaan ini perlu dibedah satu per satu karena setiap suku dan daerah punya caranya sendiri untuk merayakan Natal. Walaupun acara Natal biasanya identik dengan orang kristiani akan tetapi di beberapa daerah ternyata Natal dijadikan ajang keberagaman seluruh umat beragama.

Bali – “Ngejot” dan “Penjor”

Bali memang menjadi provinsi dengan penganut Hindu terbesar di Indonesia, tapi keberagaman juga terasa di sana. Beberapa warga yang Kristiani merayakan Natal dengan tradisi “Ngejot”, yang merupakan perayaan berupa membagikan bingkisan atau makanan pada tetangga. Perayaan ini membagikan ke siapa saja dengan menu khas Bali.

Selain itu, umat kristiani juga akan memasang “Penjor” di rumah dan gereja. Hal tersebut serupa dengan umat Hindu yang merayakan Galungan.

Yogyakarta – Wayang Kulit “Kelahiran Kristus”

Sebuah pentas Wayang Kulit disaksikan warga Kristiani di Yogyakarta. Bukan Wayang Kulit biasa, tapi ini berkisah tentang lahirnya Yesus Kristus. Selain itu perayaan juga dilaksanakan di Gereja dengan berdoa bersama untuk Yesus.

Tidak hanya itu, warga juga melaksanakan pemotongan hewan. Hewan-hewan kurban ini merupakan hasil menabung dan patungan warga selama beberapa bulan. Dengan tujuan meningkatkan rasa kebersamaan antar warga, tradisi ini ditutup dengan bagi-bagi daging sembelih dan makan bersama.

Papua – Bakar Batu

Sering disebut juga sebagai tradisi Barapen, perayaan ini berupa memasak bersama warga sekitar. Lalu dari mana sebutan “Bakar Batu”? Batu dibakar dengan hasil kayu yang digesek terus menerus hingga memercikkan api.

Tradisi ini menunjukkan bahwa setiap orang mengucap rasa syukur atas kebersamaan, kemampuan mereka dan dapat saling berbagi serta mengasihi sesama.

Hal tersebut memberikan gambaran untuk kita bagaimana perlunya kita saling menjaga keberagaman antar umat beragama. Indonesia bisa menjadi satu karena sifat toleransi, saling peduli dan saling menolong sehingga perlu untuk terus dilestarikan ditengah merebaknya aksi-aksi intoleran belakangan ini.

Kita dapat banyak bercermin dari banyak peristiwa memilukan, akibat masyarakat tidak mampu mengelola perbedaan dengan baik. Salah satu kasusnya, dapat belajar dari Genosida Rwanda yang memporak-porandakan negara tersebut akibat konflik bernuansa SARA.

aat itu, suku Hutu benar-benar ingin menghabisi seluruh Suku Tutsi dan untuk itu, mereka membuat gerakan propaganda agar seluruh suku Hutu terlibat dalam pembantaian suku Tutsi.

Hal tersebut terjadi karena propaganda negatif yang dibuat oleh musuhnya dan ditelan mentah-mentah oleh masyarakat yang terprovokasi.
Tidak dapat dibayangkan jika hal tersebut terjadi di Indonesia. Jika benar terjadi di Indonesia tidak dapat dibayangkan beberapa agama atau suku saling menyerang dan mengelompok menjadi satu sehingga seluruh masyarakat menjadi terpengaruh oleh propaganda tersebut.

Oleh sebab itu, sepertinya kita perlu bersepakat untuk mewaspadai munculnya propaganda asing yang ingin menjerumuskan Indonesia ke dalam konflik sekterian dengan menggunakan isu SARA. Dengan demikian, diperlukan komunikasi yang baikagar segala perbedaan dapat dijembatani.

Oleh sebab itu, dengan momentum Natal ini kita jadikan perayaan ini sebagai berkah dan perekat bagi seluruh rakyat Indonesia. Saling mengawasi saling menjaga dan Saling menghormati, itulah jati diri rakyat Indonesia dan Jati diri Bangsa.

Penulis adalah Mahasiswa Universitas Nusa Cendana

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top