H Harun

Banda Aceh-Bumantara: Perwakilan Banda Aceh bersama Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) RI menggelar dis­kusi media tentang peran media dalam berkontribusi untuk pembangunan daerah pedalaman dan perbatasan.

Diskusi yang akan diselenggarakan di Gedung PWI Aceh, Selasa (30/1/2018) ini akan menghadirkan sejumlah narasum­ber, yakni Bupati Bener Meriah Ahmadi SE sebagai pembicara kunci, lalu Ketua PWI Aceh Tarmilin Usman, Ketua AJI Ban­da Aceh Adi Warsidi, Khalisuddin selaku tokoh muda Gayo yang juga pe­nulis buku ‘Jejak Jokowi di Gayo’.

Kepala Perwakilan Harian Analisa Ban­da Aceh H Harun Keuchik Leumiek me­ngatakan, diskusi media ini mengam­bil tema “Optimalisasi Peran Jurnalis da­lam Pemberitaan Hasil-hasil Pemba­ngun­an Daerah Perbatasan dan Peda­lam­an dalam Rangka Memperkokoh NKRI”.

“Semula diskusi ini kita gelar pada Desember tahun lalu bertepatan dengan 3 tahun kepemimpian Jokowi-JK, namun karena ada kendala baru bisa kita gelar akhir Januari ini,” ujar H Harun.

Dikatakan, pembangunan daerah per­batasan termuat dalam poin ketiga da­ri Nawacita yang merupakan visi dan misi Jokowi yang dituangkan dalam program unggulan dalam masa pemerintahan Jo­ko­wi. Dalam Nawacita, Jokowi mene­gas­kan bahwa salah satu prioritas utama­nya adalah “membangun Indonesia dari ping­giran”. Pembangunan tak lagi terpu­sat (sentralisasi) di perkotaan, melainkan harus dilakukan menyebar di seluruh pelosok (desentralisasi).

Sangat Strategis

Pembangunan daerah perbatasan mempunyai arti yang sangat strategis bagi eksistensi suatu bangsa dan mem­bangun nasionalisme bagi warganya, terutama masyarakat yang secara lang­sung berada di daerah perbatasan terse­but guna memperkokoh kedaulatan NKRI.

Ujung dari pembangunan daerah per­batasan tersebut tentunya selain me­mang menyejahterakan rakyat di mana pun berada sebagai mandat politik negara, pembangunan daerah perbatasan me­ngemban misi bagaimana membangun rasa nasionalisme sehingga berdampak pada kuatnya NKRI.

“Di sinilah dibutuhkan tidak hanya sekadar keterlibatan pemerintah semata, namun keterlibatan berbagai stakeholder lainnya juga tidak dapat dinafikan. Khu­susnya, bagaimana peran jurnalis dan me­dia memberitakan dan menga­barkan kepada khalayak,” ujar dia.

Menurut Harun, salah satu unsur ter­penting dari media massa adalah warta­wan atau jurnalis. Sebab merekalah yang menjadi ujung tombak sebuah media mas­sa mampu dan dapat memproduksi berita-berita positif yang mem­bang­kit­kan optimisme  dan menyebarkannya ke­pada publik.

Kompetensi wartawan yang sesuai dengan kaidah-kaidah jurnalistik dan standar profesionalitas profesi wartawan mu­tlak dibutuhkan serta rasa nasio­nalis­me wartawan sangatlah diperlukan untuk selanjutnya dapat bersinergis dengan komponen bangsa lainnya dalam mem­perkokoh NKRI khususnya di wilayah perbatasan.

Berangkat dari fakta tersebut Kantor Per­wakilan Analisa Banda Aceh, lanjut Harun, berencana mendiskusikan  keber­hasilan apa saja yang berdampak positif bagi pembangunan daerah perbatasan khususnya Aceh selama pemerintahan Jokowi-JK.

“Intinya, membangun rasa nasiona­lisme di perbatasan agar dipahami sebagai sebuah supra struktur, di atas se­mua kepentingan individu dan kepen­ti­ngan golongan,” pungkas H .Harun

Editor: Rakyat Asril

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top