Medan-Bumantara: Mengonsumsi daging biawak yang dipercaya bagi sebagian masyarakat sebagi obat penyembuhan beberapa penyakit, merupakan sebuah kekeliruan.

Hal ini dikatakan Yora Rizky selaku pendiri sekaligus pengurus Kombur-Kombu Varanus Keepers Medan, sebuah forum komunitas pemerhati biawak di Kota Medan.

Yora menyebutkan, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengonsumsi daging biawak justru beresiko menimbulkan berbagai penyakit akibat bakteri yang terkandung dalam daging biawak.

“Resiko mikrobiologi yang paling jelas yang berasal dari mengonsumsi daging reptil seperti biawak, kemungkinan karena adanya bakteri patogen, terutama salmonella, shigella dan juga escherichia coli, Yersinia enterolitica, Campylobacter, Clostridium dan Staphylococcus aureus, yang dapat menyebabkan penyakit dari berbagai tingkat keparahan,” sebutnya Jumat (9/2/2018).

Selain itu, Yora mengatakan, menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Food Microbiology, menunjukkan bahwa orang-orang yang mengonsumsi daging reptil seperti buaya, biawak, ular, maupun jenis reptil lain dapat meningkatkan resiko untuk terjangkit berbagai penyakit seperti, Trichinosis yang merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit cacing gelang (nematoda), yang dapat merusak jaringan pada tubuh manusia.

Yora menjelaskan, Nematoda adalah sejenis cacing parasit seperti Trichinella spiralis, yang ketika seseorang mengonsumsi daging yang telah terkontaminasi jenis cacing ini, maka pada saat telah tertelan, cacing parasit tersebut akan dapat melewati saluran usus untuk menyerang jaringan lain, seperti otot, di mana mereka akan bertahan hidup.

“Gejala awal ditandai dengan ketidaknyamanan perut, diare, serta mual-mual yang dimulai 1 hingga 2 hari setelah mengkonsumsi daging tersebut, selanjutnya, gejala akan semakin berkembang dengan timbulnya nyeri otot, gatal, demam, menggigil, serta rasa nyeri pada persendian yang akan timbul setelah 2 hingga 8 minggu setelah konsumsi,” jelasnya.

Selanjutnya, selain sebagai bahan komsumsi, Yora juga menyayangkan keberadaan hewan biawak yang akhir-akhir ini banyak digunakan sebagai hewan peliharaan terutama yang berasal dari alam liar.

Selain mempengaruhi keberlangsunganya di alam liar, Yora mengungkapkan, seringnya komunitas pemelihara biawak yang memaksakan hewan peliharaan untuk terlibat dalam kegiatan gathering, juga dapat menyebabkan hewan mendai stress dan memungkinkan hal membahayakan terjadi kapan saja.

“Berangkat dari keprihatinan terhadap hal ini lah forum Kombur – Kombu Varanus Keepers Medan dibentuk,” katanya.

Reporter: Dian G
Editor: Renggo

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top