Ilustrasi

Oleh: Andrea Penas

Pengguliran isu komunisme akhir-akhir ini kembali terjadi. Seorang pria bernama Wahyudin Firmansyah harus mendapatkan 9 jahitan di kepalanya akibat dihajar oleh massa di Kelurahan Sukaratu, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten.

Wahyudin, yang mengalami gangguan kesehatan mental, menjadi sasaran amukan massa karena dituduh hendak membunuh seorang tokoh agama setempat yang bernama KH Encep Muhaemin.

Diduga tuduhan PKI yang ditujukan ke Wahyudin dipicu oleh pakaiannya, yakni baju dan celana serba merah. Informasi itu berdasar video yang merekam kejadian saat massa mengeroyok Wahyudin.

Video tersebut beredar di media sosial Facebook dan WhatsApp sejak Sabtu (10/2/2018). Tak ayal, publik dunia maya pun langsung memviralkan postingan video tersebut.

Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky Pastika mengatakan, pihaknya sudah melakukan penulusuran terkait beredar video itu. Menurutnya, sosok korban dalam video tersebut bukanlah seseorang yang menganut faham PKI.

“Tak ada indikasi PKI, jadi korban itu tunawisma dan diduga memiliki gangguan jiwa, besok akan kita cek masalah kejiawaannya,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, Kabidhumas Polda Banten AKBP Zaenudin menyampaikan, terkait berita bahwa ada orang yang menyuruh untuk membunuh KH. Encep Muhaemin di Kabupaten Pandeglang itu adalah hoax.

“Yang lucu adalah KH. Encep tidak pernah merasa ada orang yang mengawasi dirinya, lho kok orang lain yang sibuk memviralkan bahwa KH. Encep akan dibunuh. Luar biasa. Ada skenario apa ini?”ungkap AKBP Zaenudin.

Entah dengan alasan dan tujuan apa, tiba-tiba isu-isu PKI kembali dimunculkan ke permukaan oleh sekelompok orang setelah lama “nyaris tak terdengar”.

Jika hal tersebut dimaksudkan agar kita selalu waspada terhadap bahaya laten PKI, mungkin niat tersebut sangat mulia dan sebagai warga negara yang baik kita harus mendukung segala upaya yang baik untuk menjaga tetap kokohnya Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta.

Tetapi jika alasan tersebut digunakan untuk “membodohi” rakyat dengan maksud untuk mendapatkan simpati masyarakat luas untuk “kepentingan tertentu”, maka kelompok tersebut lebih jahat dari PKI.

Jadi, jika ada suatu kelompok tertentu yang mengaku beragama atau atas nama agama memperalat PKI dan memanfaatkan isu-isu PKI untuk meraih kekuasaan, maka kelompok tersebut “lebih PKI dari pada PKI”.

Melalui corong-corong media sosial, isu hoax PKI dihembuskan kepada segenap warga bangsa. Masyarakat dibuat ketakutan, paranoid dan jika dibiarkan maka fitnah dan berita hoax tersebut dianggap sebagai kebenaran semata. Jika sudah begini, adagium Josef Goebbels, Menteri Propaganda Era Nazi Hitler,

“Kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran” menjadi kebenaran sendiri di dunia maya. Pesan-pesan bernada propaganda ini lebih menghasilkan reaksi emosional daripada reaksi rasional.

Untuk itu, masyarakat dituntut untuk lebih cerdas dan tidak mudah terprovokasi dengan isu- isu tersebut. Jadilah warga media sosial yang baik, dengan tidak menyebarkan berita-berita hoax yang akan berdampak negatif pada persatuan dan kesatuan Indonesia.

Penulis adalah Kontributor LSISI

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top