Tapteng-Bumantaranews: Fenomena 99 batu susun di sebuah Sungai di Sungai Cibojong, Kecamatan Sidahu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat terus menjadi perbincangan.

Bermula, viralnya foto dan video batu susun itu, dianggap sebagai fenomena alam dan terkaitpaut dengan ‘urusan’ magic.

Terungkap, bahwa batu susun itu adalah ulah kreatifitas sebuah komunitas Rock Balancing. Batu-batu itu memang sengaja disusun untuk menarik perhatian.

Nah, bekalangan beredar foto dan video yang tak kalah jauh lebih fenomenal dari 99 batu susun di Sukabumi ini yang juga viral di media sosial (Medsos).

Salah satu penampakan fenomena wisata berupa alur sungai di Desa Sibintang, Kecamatan Sosorgadong, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, kian menjadi sorotan para touris lokal dan luar negeri. Tepatnya, di daratan di alur sungai dan muara tak jauh dari Jembatan Sibintang Pasir.

Sekilas, areal sungai ini memang terlihat tak berbeda dengan sungai kebanyakan. Kendati perbedaan akan terlihat ketika melihat seratusan gundukan tanah membentuk gunung-gunung mini yang berbaris secara random.

 

Ratusan ‘gunung mini’ ini bukanlah ulah manusia yang sengaja mencari sensasi dan agar ulahnya menjadi viral di jagat linimasa, melainkan terbentuk secara alamiah dalam kurun waktu bertahun-tahun. Belum diketahui, berapa tahun proses pembentukan terjadi.

Terlihat gunung-gunung mini itu berketinggian dan berdiameter variatif hingga setengah meter. Rerumputan tumbuh disekeliling gunung-gunung mini itu.

Belum diketahui penyebab munculnya gunung-gunung tersebut. Menurut sejumlah sumber, gundukan tanah itu disebabkan hewan serumpun kepiting yang memang menggali tanah dan memicu munculnya gundukan membentuk gunung-gunung mini tersebut.

“Gak tahu apa penyebab. Sudah lama memang bukit-bukit mini itu,” kata tokoh pemuda setempat, Darwin Hutagalung di Tapteng belum lama ini.

Dikatakan Darwin, sepengetahuan dirinya gunung-gunung mini ini terbentuk secara alamiah disebabkan aktifitas sejenis kepiting yang menggali tanah untuk dijadikan sarang.

“Alami dia terbentuk, katanya memang begitu, ada kepiting-kepiting buat sarang, lama-lama tanah nya jadi gundukan gitu,” ucap Darwin.

Kendati Darwin mengatakan, dirinya sebenarnya sejak lama berharap agar ada sejenis penelitian untuk mengungkap rahasia munculnya gundukan-gundukan tanah tersebut

“Ya, kan bisa diteliti, sebenarnya apa penyebab terjadinya gundukan, berapa lama proses terjadinya, kan bisa menambah khasanah ilmu pengetahuan,” harapnya.

Kata dia, meski belum diberi nama khusus, gundukan-gundukan tanah itu sering dijadikan pengunjung dan wisatawan untuk ber swafoto.

“Karena memang unik, jadi sering foto-foto memang wisatawan,” katanya.
Warga lainnya, Pasaribu mengaku baru menyadari keunikan dari gunung-gunung mini itu. Ia dan rekannya yang memang sedang dalam perjalanan ke Barus mengaku sempat berhenti dan mengabadikan gunung-gunung mini itu.
“Unik, dan sebenarnya eksotis ya,” kata Pasaribu.

Dia pun berharap, lokasi tersebut bisa jadi salah satu objek wisata yang dapat dijadikan sebagai penarik wisatawan. Tak hanya itu, penelitian terhadap fenomena itu menurut dia juga layak dilakukan.

“Iyalah, bagus kalau diteliti, jadi tahu apa penyebabnya, lalu kalau bisa diberi nama atau sebutan kan lebih memberi nilai jual untuk dijadikan salah satu lokasi wisata,” harapnya.

Editor : Edi S. T

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top