Tabagsel

Mengelola Perkebunan Kelapa Sawit Secara Arif Merupakan Keharusan

Sipirok-Bumantara: Indonesia merupakan produsen minyak kelapa sawit mentah Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia. Pada tahun 2017, luas lahan perkebunan masyarakat di Kabupaten Tapanuli Selatan adalah 5.381,75 Ha dengan produksi 55.509,50 ton per tahun.

Pesatnya pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit, merupakan suatu tantangan pembangunan, khususnya bagi kelestarian kawasan hutan.

Sejalan dengan visi Pemerintah Daerah, yaitu Tapanuli Selatan yang maju berbasis sumber daya manusia pembangunan yang unggul, sehat cerdas, sejahtera serta sumber daya alam yang produktif dan lestari. Pemerintah daerah Kabupaten

Tapanuli Selatan berinisiatif membentuk forum kelapa sawit berkelanjutan yang bertujuan sebagai wadah koordinasi dan komunikasi SKPD terkait, pihak swasta, akademisi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) untuk mewujudkan pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang arif bagi kelestarian ekosistem.

Produksi kelapa sawit oleh petani di masyarakat sekitar 10 hingga 13 ribu ton per hektar dari potensi 24 ribu ton per hektar. Tantangan tata kelola budidaya kelapa sawit berupa penggunaan bibit, penggunaan pupuk, dan lokasi penanaman yang tidak tepat.

“Pada tahun ini, kami menjalin kolaborasi dengan Conservation International (CI) yang fokus untuk mencari solusi-solusi bersama mengatasi permasalahan khususnya bagi kebun-kebun masyarakat,” ungkap Ir. Saulian Sabbih selaku Assisten I Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Tapanuli Selatan, Kamis (22/2/2018) pada kegiatan Lokakarya Program Good Growth Partnership (GGP) Tapanuli Selatan.

Sementara itu, Ir. Ketut Sarjana Putra, MSc selaku Vice President Conservation International Indonesia mengatakan United Nations Development Program (UNDP) bermitra dengan Conservation International-Indonesia CI akan menjalankan program Green Growth Partnership (GGP), dukungan produksi komoditas yang mengurangi kerusakan hutan, mendahulukan pendekatan terpadu rantai pasokan untuk mengatasi akar penyebab deforestasi dari komoditas kelapa sawit.

“Pemilihan Kabupaten Tapanuli Selatan sebagai lokasi program, salah satunya adalah karena adanya komitmen yang sangat tinggi dari pemerintah daerah,” sebutnya

Bupati Tapanuli Selatan H. Syahrul M. Pasaribu, SH dalam sambutanya mengungkapkan, Bumi, air, dan seluruh kekayaan alam merupakan pinjaman dari anak cucu kita, artinya silahkan dimanfaatkan namun kenekaragaman hayati di dalamnya harus tetap terjaga.

“Tuntutan masyarakat yang semakin beragam, perlu diselaraskan dengan peningkatan pemahaman dan kepedulian berkebun kelapa sawit yang mengutamakan intensifikasi, bukan ekstensifikasi,” ujarnya.

Rencana program GGP yang akan dijalankan bersama dengan CI dan UNDP ini menerapkan pendekatan secara holistik yang akan dibahas melalui forum multi-pihak, sehingga diharapkan dapat memberikan alternatif solusi terbaik.

Sebagai langkah awal, H. Syahrul M. Pasaribu menandatangani SK 188.45/92/KPTS/ Tahun 2018 tentang pembentukan forum multi-pihak kelapa sawit berkelanjutan.

Di Provinsi Sumatera utara, Kabupaten Tapanuli Selatan adalah kabupaten pertama yang membentuk forum ini.

Reporter: Dian G

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top