Daerah

Dugaaan Kekerasan SMA Negeri 1 Nisel, Pokja Humas KNPI Sumut Desak Poldasu Usut Tuntas

Medan-Bumantaranews: Dugaan kasus kekerasan dengan pemukulan dan penganiayaan dilakukan seorang oknum guru berinisial NH terhadap seorang murid berinisial JM di SMA Negeri 1 Amandraya, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara menuai kecaman dari Ketua Pokja Humas KNPI Sumut Ika Anshari.

Pasalnya, dugaan kekerasan yang dialami siswa tersebut, menyadarkan bahwa kekerasan masih saja terus terjadi di lingkungan pendidikan. Perlu adanya tindakan tegas dan respon cepat dilakukan aparat hukum.

“Kita sangat sayangkan, jika proses hukumnya kurang maksimal dilakukan. Kita masih percaya aparat kepolisian mampu menuntaskan dan menangkap pelaku”Ujarnya Ika.

Menurut Ika, kekerasan yang terjadi 19 Agustus 2017 silam merupakan waktu yang sangat panjang. Jika memang kasus ini tidak kunjung selesai, bisa berdampak pada buruknya prestasi kerja di Polres tersebut.

Kita harapkan dan desak Polda Sumut dapat menelusuri dan mengsuut tuntas persoalan ini. Agar tidak ada kesan ‘pendinginan’ kasusnya. Jika juga mengharapkan, Pihak keluarga melaporkan Juru periksa dan pimpinan kepolsian yang bersangkutan ke Propam.

“Jika memang ada kejanggalan bagi keluarga korban, laporkam sejumlah petugas yang coba bermain-main ke Propam. Kita siap mendapingi”pungkasnya.

Sementara itu, Kadis Pendidikan Sumut Arsyad Lubis yang berulang kali dikonfirmasi terkesan terkesan menutup dori. Beberapa kali wartawan menyambangi kekantor Dinas Pendidikam Sumut tidak berhasil bertemu dengan jawabab sedang rapat bersama jajaran.

“Bapak ada, lagi rapat”ujar wanita berseragam cokelat diruanga. Lantai 2 Disdik Sumut tersebut.

Diberitakan sebelumnya, abang korban, Boi Mendrofa menceritakan kekerasan itu berawal saat para guru di SMA Negeri 1 Amandraya termasuk oknum guru NH pergi melayat di les terakhir sekolah. Karena tak ada guru, para siswa di sekolah tersebut keluar kelas dan mencari aktifitifas masing-masing.

Teks foto: Korban JM saat dirawat di Rumah Sakit.

 

“Adek saya (JM-red) menonton voli,” kata dia.

Tak lama, oknum guru berinisial NH tersebut tiba-tiba kembali ke sekolah dan menginstruksikan agar seluruh siswa masuk ke ruangan masing-masing. Menurut Boi, korban JM saat itu tak mendengar dengan jelas instruksi yang diberikan, dan akhirnya menjadi murid terakhir yang masuk ke dalam kelas.

Sebelum masuk, lanjut Boi, oknum NH mempertanyakan mengapa JM terlambat masuk ke dalam kelas.

“Jadi dia sempat dipanggil, kata gurunya kamu dengar kusuruh masuk? Kata adek saya gak tahu saya tujuan bapak mau masuk atau gimana, karena guru itu pukul-pukul mik (Microfon), udah sana masuk, belum dipukulnya, hanya diusapnya saja muka pakai telapak tangannya,” kata Boi.

Saat hendak masuk, kata Boi, adiknya terbatuk dan tak sengaja meludah. Sikap ini agaknya menjadi pemicu kemarahan sang oknum guru dan memanggil kembali JM.

“Dia (NH-red) salah paham, adek saya dia fikir meludah ada tujuan melawan, jadi gurunya salah paham dan dia panggil antara kelas dan kantor, masih belum dikelas, sini kamu, langsung dipukul bagian kepala belakang antara bahu dan kepala, di tengkuk, yang penting bagian belakang, dibawah kepala, pas dipukul entah ditampar pakai tangan, jadi langsung berkunang-kunang di mata adek itu,” tutur Boi.

Tak puas dengan memukul tengkuk korban, NH melanjutkan aksi kekerasannya dengan menarik kerah JM dan membawanya ke dalam ruang kelas. JM disuruh jongkok dan ditampar berkali-kali.

“Masih belum puas guru itu ditariknya kerah baju adek itu disuruh masuk ke kelas, di depan temannya disuruh jongkok dan ditampar-tampar, gak terarah yang penting ditampar kepala timbal balik, dibilangnya kamu melawan ya?” kata Boi menirukan ucapan yang diduga diucapkan oknum NH.

Teks Foto: Korban JM awal mula bisa mengkonsumsi makanan. Diduga ada luka  seputar wajah sehingga sulit makan.

Menurut Boi, adiknya sempat keberatan dengan pemukulan yang dilakukan NH, kendati tak diindahkan dan malah menantang dan mengaku tak takut jika kasus tersebut dilaporkan ke pihak berwajib.

“Kata adek saya, ini bukan pukulan lagi pak ini namanya ini sudah kekerasan, diingatkan adek saya, tapi kata gurunya saya tidak takut mau melapor ke polisi saya tidak takut, dia tambah lagi dan entah kena batu akiknya kena di kepala disitu adek saya pingsan, tegang dan tidak sadarkan diri dan teman-temannya panik, gak pernah ini sama si Jurdil. Dikasih balsem tapi tidak sadarkan diri, semua teman-temannya sekitar 30 lebih menyaksikan,” tutur Boi.

JM akhirnya dilarikan ke Puskesmas Amandraya oleh rekan-rekan sekelas JM, kendati oleh oknum NH mencoba berbohong dengan melaporkan bahwa JM terjatuh.

“Dokter ragu karena dokter kan tahu bagaimana orang jatuh atau bagaimana, kata dokter kalian jujur saja, tapi akhirnya guru jujur kepada dokter, tapi ya cuma dokter itu dia jujur,” katanya.

Editor : Syarief

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top