Daerah

Dugaan Kekerasan Siswa SMA Negeri 1 Nisel, Begini Jawaban Polda Sumut

Teks Foto : Kabid Humas Polda Sumut Rina Sari Ginting. Bumantara-ist

Medan-Bumantaranews: Dugaan kasus kekerasan dengan pemukulan dan penganiayaan dilakukan seorang oknum guru berinisial NH terhadap seorang murid berinisial JM di SMA Negeri 1 Amandraya di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara menuai titik terang.

Pasalnya, kekerasan yang terjadi 19 Agustus 2017 silam tersebut dipastikan masih terus dilakukan pengusutannya secara tuntas.

“Dalam kasus tersebut, sudah diperiksa saksi 2 orang pelajar yang sekelas dengan korban.” Ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting melalui aplikasi media Whatsapp massengger, Jumat (02/03/2018) kepada wartawan.

Namun, dijelaskannya hasil pemeriksaan kedua saksi tersebut belum menguatkan status pelaku untuk dijadikan sebagai tersangka.

“Belum menjurus/ belum kuat untuk menjerat terlapor untuk dijadikan tersangka.”Jelas Rina.

Teks Foto :Korban ketika dirawat di Rumah Sakit

Namun upaya untuk mencari alat bukti dan tambahan keterangan saksi-saksi baru masih terus dilakukan. Saat ini, unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) sedang melayangkan surat ke pihak sekolah untuk memanggil beberapa nama sebagai saksi lanjutan.

“Unit PPA berangkat ke Amandraya sekolah sikorban, mencari saksi-saksi lain yg melihat kejadian untuk kami layangkan surat panggilan saksi. Terimakasih” pungkasnya.

Sebelumnya, kasus kekerasan yang belum menunjukkan titik terang tersebut menjadi sorotan dari Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Utara.

Ketua Pokja Humas KNPI Sumut Ika Anshari menilai perlunya perhatian serius dari Polda Sumut terhadap penanganan kasus yang sudah setahun tersebut terjadi.

“Kita sangat percaya dan yakin, Polda masih mampu melakukan penuntasan sejumlah kasus kriminal di Sumut, Walau sudah setahun. Jika Benar ada hal lain, Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpaw pasti langsung menindak tegas”Pungkasnya.

Sementara itu, Kadis Pendidikan Sumut Arsyad Lubis yang berulang kali dikonfirmasi terkesan terkesan menutup diri.

Beberapa kali wartawan menyambangi kekantor Dinas Pendidikan Sumut tidak berhasil bertemu dengan jawaban sedang rapat bersama jajaran.

“Bapak ada, lagi rapat” pungkas wanita berseragam cokelat yang berada diruangan lantai 2 Disdik Sumut.

Informasi sebelumnya, berdasarkan keterangan abang korban, Boi Mendrofa menceritakan kekerasan itu berawal saat para guru di SMA Negeri 1 Amandraya termasuk oknum guru NH pergi melayat di les terakhir sekolah.

Karena tak ada guru, para siswa di sekolah tersebut keluar kelas dan mencari aktifitifas masing-masing.

“Adek saya (JM-red) menonton voli,” kata dia.

Tak lama, oknum guru berinisial NH tersebut tiba-tiba kembali ke sekolah dan menginstruksikan agar seluruh siswa masuk ke ruangan masing-masing.

Menurut Boi, korban JM saat itu tak mendengar dengan jelas instruksi yang diberikan, dan akhirnya menjadi murid terakhir yang masuk ke dalam kelas.

Sebelum masuk, lanjut Boi, oknum NH mempertanyakan mengapa JM terlambat masuk ke dalam kelas.

“Jadi dia sempat dipanggil, kata gurunya kamu dengar kusuruh masuk? Kata adek saya gak tahu saya tujuan bapak mau masuk atau gimana, karena guru itu pukul-pukul mik (Microfon), udah sana masuk, belum dipukulnya, hanya diusapnya saja muka pakai telapak tangannya,” kata Boi.

Saat hendak masuk, kata Boi, adiknya terbatuk dan tak sengaja meludah. Sikap ini agaknya menjadi pemicu kemarahan sang oknum guru dan memanggil kembali JM.

“Dia (NH-red) salah paham, adek saya dia fikir meludah ada tujuan melawan, jadi gurunya salah paham dan dia panggil antara kelas dan kantor, masih belum dikelas, sini kamu, langsung dipukul bagian kepala belakang antara bahu dan kepala, di tengkuk, yang penting bagian belakang, dibawah kepala, pas dipukul entah ditampar pakai tangan, jadi langsung berkunang-kunang di mata adek itu,” tutur Boi.

Tak puas dengan memukul tengkuk korban, NH melanjutkan aksi kekerasannya dengan menarik kerah JM dan membawanya ke dalam ruang kelas. JM disuruh jongkok dan ditampar berkali-kali.

“Masih belum puas guru itu ditariknya kerah baju adek itu disuruh masuk ke kelas, di depan temannya disuruh jongkok dan ditampar-tampar, gak terarah yang penting ditampar kepala timbal balik, dibilangnya kamu melawan ya?” kata Boi menirukan ucapan yang diduga diucapkan oknum NH.

Menurut Boi, adiknya sempat keberatan dengan pemukulan yang dilakukan NH, kendati tak diindahkan dan malah menantang dan mengaku tak takut jika kasus tersebut dilaporkan ke pihak berwajib.

“Kata adek saya, ini bukan pukulan lagi pak. Ini namanya sudah kekerasan, diingatkan adek saya, tapi kata gurunya saya tidak takut mau melapor ke polisi saya tidak takut, dia tambah lagi dan entah kena batu akiknya kena di kepala disitu adek saya pingsan, tegang dan tidak sadarkan diri dan teman-temannya panik, gak pernah ini sama si Jurdil. Dikasih balsem tapi tidak sadarkan diri, semua teman-temannya sekitar 30 lebih menyaksikan,” tutur Boi.

JM akhirnya dilarikan ke Puskesmas Amandraya oleh rekan-rekan sekelas JM, kendati oleh oknum NH mencoba berbohong dengan melaporkan bahwa JM terjatuh.

“Dokter ragu karena dokter kan tahu bagaimana orang jatuh atau bagaimana, kata dokter kalian jujur saja, tapi akhirnya guru jujur kepada dokter, tapi ya cuma dokter itu dia jujur,” katanya.

Editor : Syarief

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top