Semarang-Bumantara: Belakangan ini penyalahgunaan isu SARA kerap digunakan, utamanya dalam politik di Indonesia.

Oknum dan kelompok-kelompok pemilik kepentingan seringkali mempolitisasi SARA sebagai alat untuk memecah belah dan mengalahkan lawan politik.

Cara berpolitik seperti ini dapat merusak bangunan persatuan anak bangsa dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jika tidak dicegah, politisasi SARA dan hoax juga akan digunakan dalam Pilkada Serentak 2018 dan Pilpres 2019 mendatang.

Diperlukan gotong royong semua pihak untuk melawan hoax dan politisasi SARA. Sehingga rutinitas pemilihan umum setiap lima tahun benar-benar menjadi pendidikan politik yang sehat bagi bangsa Indonesia, utamanya generasi pemuda yang akan melanjutkan kepemimpinan kelak.

Untuk itu, Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi) bekerjasama dengan The Mahfud Ridwan Institute (MRI) mengadakan lokakarya literasi media dengan tema “Gotong Royong Mencegah Kampanye Hitam dan Politisasi SARA Pada Pilkada Serentak 2018”.

Kegiatan ini akan diselenggarakan pada hari Selasa, 20 Maret 2018, Pukul 09.00-12.30 WIB, di Pondok Pesantren Edi Mancoro Jl. Imam Bonjol Km. 04, RT.002 RW.001, Gedangan, Tuntang, Semarang, Jawa Tengah, 50773.

Kegiatan ini akan diisi beberapa narasumber di antaranya: Kiai Haji Muhammad Hanif, S.Sos, M.Hum, (Pengasuh Pondok Pesantren Edi Mancoro).

Kemudian Nining Susanti, S.Sos.I (Koord Divisi Pencegahan dan Hub Antarlembaga Panwas Kota Semarang), Prof. Dr. Asfa Widianto (Pakar Komunikasi dari STAIN Salatiga), Hariqo Wibawa Satria, M.Si (Direktur Eksekutif Komunikonten).

“Tantangan kita di era digital, terutama terkait dengan masalah kampanye hitam dan hoax, menjadi begitu berat jika hanya dipikul sendiri. Maka dari itu, diperlukan kerjasama dari berbagai pihak untuk mencegah agar trend politik semacam itu tidak menodai sistem perpolitikan kita,” ungkap KH. Muhammad Hanif.

Muhammad Hanif menambahkan, melalui kegiatan ini, kita ingin membentuk generasi muda, khususnya santri, yang pro-aktif dalam membela NKRI, termasuk memerangi kampanye hitam dan hoax.

Sebenarnya, kecintaan seluruh santri terhadap NKRI tidak perlu diragukan lagi. Namun kesadaran dan kemampuan mereka untuk memfilter informasi tetap harus ditingkatkan, sebab tantangan media informasi di masa depan akan berlipat-lipat lebih berat ketimbang dengan sekarang.

Sementara Pengamat media sosial dari Komunikonten, Hariqo Wibawa Satria, menyatakan bahwa membangun gotong royong di media sosial dapat dimulai dengan kesadaran 1928. Kita ini sudah bersumpah bahwa kita adalah satu.

Tujuan sama, yakni ingin menjadikan Indonesia maju dan menjadi tempat yang menyenangkan, membahagiakan bagi seluruh lapisan warga negara Indonesia.

“Bangsa lain sudah memanfaatkan media sosial untuk kepentingan nasionalnya dengan efektif. Lihatlah Korea Selatan, Amerika, Inggris, Turki, India, dan China. Kita jangan sampai tertinggal, jangan sampai media sosial kita gunakan untuk saling memfitnah, dan melakukan penyalahgunaan isu SARA. Kapan kita akan maju jika trend ini diteruskan, bangsa lain sudah berlari, kita masih berdebat tentang hal-hal yang sudah diputuskan dengan susah payah oleh para pendiri NKRI ini,” tegas Hariqo Wibawa Satria.

Editor: Renggo

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top