Muhammad Asroi (kiri) bersama Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Zainul Majdi dalam suatu pertemuan belum lama ini. Foto/dok

Sidimpuan-Bumantara: Puisi Sukmawati dinilai menistakan agama dan telah memantik kemarahan umat. Untuk itu, proses hukum harus berjalan apalagi sudah banyak yang melaporkan.

“Yang namanya pelanggaran hukum harus diproses hukum. Kita sudah ingatkan berkali-kali jangan pernah menyinggung agama dan perasaan umat,” kata Ustad Kondang Tapanuli Bagian Selatan, Muhammad Asroi, Sabtu (7/4/2018).

Menurut Asroi yang juga Ketua BKPRMI Tapsel itu, membandingkan azan yang merupakan bagian dari Agama Islam dengan lagu merupakan pelecehan.

“Lagu apapun itu tidak bisa dibandingkan dengan seruan azan. Kalau Buk Sukmawati tak paham itu, maka harusnya tidak menyinggung agama,” imbuh Asroi.

Asroi yang merupakan pelapor kasus penistaan agama oleh Ahok itu juga menilai, proses hukum yang dilakukan terhadap Sukmawati merupakan langkah tepat.

“Kalau tidak, maka ada ketidakadilan hukum. Ini berbahaya kalau sampai pelanggar hukum dibiarkan,” kata Asroi.

Menurut Asroi, kasus Sukmawati menjadi catatan keras bagi siapa pun agar tidak melakukan penistaan agama.

“Kita tidak menolelir siapapun yang menistakan agama. Kita berharap persoalan Sukmawati menjadi persoalan terakhir bagi kita semua,”tuturnya.

Umat Islam patut marah karena kepercayaannya dilecehkan.

“Saatnya tunjukkan cemburu kita pada agama (islam) ini. Kobarkan pembelaan kita untuk syariat ini. Teriakkan kalimat suci dari bibir kita. Kubur puisi hina di bawah telapak kakimu,” pungkasnya.

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top