Oleh: Rakyat Asril

Setelah dua laga awal mengalami kekalahan, Jumat 6 April 2018 PSMS Medan kembali berlaga di Liga 1 melawan Persija Jakarta. Skor berakhir untuk Medan 3, Persija 1.

Namun terlebih dulu, penulis ingin sedikit ke luar dari jalannya pertandingan dan akan lebih mencocokoligikan antara sepakbola dengan hiruk politik yang sedang berlangsung di Sumatera Utara, Pilgub Sumut.

PSMS Medan vs Persija Jakarta.

Duel itu rasa-rasanya seperti seteru antara Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah (Eramas) vs Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) di Pilgubsu.

Pasangan Eramas yang identik dengan Anak Medan versus Djoss yang banyak disebut adalah ‘petugas partai’ dari Jakarta.

PSMS Medan tentu kebanggaan Sumatera Utara, termasuk Cagub-Cawagub Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah, yang tidak setuju boleh angkat kaki ke Jakarta.

Dan sudah pasti, Persija jadi favorit warga Jakarta. Tapi apakah juga merupakan klub favorit Djarot Saiful Hidayat mantan Gubernur DKI Jakarta? Atau Sihar Sitorus Cawagub Sumut yang lahir di Jakarta?

Lalu bagaimana dengan jalannya pertandingan kemarin?

Medan punya karakter keras dan disiplin yang mumpuni. Pertandingan di Stadion Teladan kemarin, coach Djajang Nurjaman sepertinya paham betul karakter itu harus diterapkan untuk mematikan kreativitas anak-anak Jakarta.

Memainkan Roni Fatahillah sebagai starter menggantikan M Roby jadi salahsatu kunci mematikan bomber Jakarta, Marko Simic.

Coach Djanur sukses menerapkan taktik tersebut. Gaya permainan Roni yang sigap dan rap-rap, jadi momok bagi Marko Simic.

Alih-alih mencetak gol, Marko Simic malah melakukan gol bunuh diri ke gawang sendiri.

Lalu, mengaitkan jalannya pertandingan kemarin dengan jalannya Pilgubsu 2018 bukan sesuatu yang lebay.

Apalagi sudah banyak yang bilang, tim pemenangan Djoss lebih kreatif sekreatif permainan Persija Jakarta. Hal itu tidak diimbangi oleh kreativitas tim yang dimiliki pasangan Eramas.

Tapi makin kemari, tim Eramas sepertinya paham bahwa kreativitas itu harus diantisipasi dengan disiplin dan kesigapan di lapangan. Sama seperti saat dimainkannya Roni Fatahillah guna mematikan Marko Simic.

Ujung-ujungnya, kreativitas kampanye Djoss disebut ‘bunuh diri’ karena persoalan bagi-bagi Suket dan beras. Mereka pun sedang diproses sang pengadil, Bawaslu Sumut.

Di kubu Eramas, mereka makin percaya diri. Bahkan mulai berani merusak psikologis lawan. Kunjungan Edy Rahmayadi ke Kepulauan Nias 2-6 April 2018 adalah contohnya.

Selama ini, Kepulauan Nias diklaim sudah menjatuhkan pilihan mereka ke pasangan Djoss untuk urusan Pilgubsu.

Namun, saat Edy ke sana, Kepulaun Nias menaruh harapan sangat besar kepada kepemimpinan Edy Rahmayadi nantinya.

“Kami malu kalau sampai Eramas kalah di sini,” kata Sekretaris DPD Partai Golkar Nias Utara, Temulius Nazara, Rabu (4/4/2018) dalam konsolidasi pemenangan Kepulauan Nias di Lotu, yang dihadiri Cagubsu, Edy Rahmayadi.

Bukankah ini mengganggu psikologis lawan yang banyak mengklaim bisa meraup suara besar di Kepulauan Nias?

Ada yang menilai tulisan ini mengada-ada? Ya silakan saja.

Tapi yang perlu digarisbawahi adalah kesigapan dan disiplin keras jadi kunci anak-anak Medan mematikan kreativitas orang Jakarta.

Penulis adalah editor Bumantaranews.com, aktif di facebook dengan akun Rakyat Asril

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top