Ilustrasi

Medan-Bumantara: Setelah pernyataan Presiden Joko Widodo mengenai masuknya nama Cicit pendiri NU KH Bisri Syamsuri, Drs Muhaimin Iskandar (Cak Imin) dalam 5 besar Cawapres 2019, Presiden Joko Widodo kembali menyebutkan sejumlah nama Ulama dan Tokoh Islam dalam bursa calon wakil presiden pendampingnya.

Hal ini diucapkan saat dikonfirmasi wartawan pada seusai menghadiri acara bela negara Garda Pemuda Nasdem di Pancoran, Jakarta Selatan, Senin (16/7/2018)

Beberapa nama yang dimaksud, yakni mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Gubernur NTB Tuan Guru Bajang Muhammad Zainul Madji, dan Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto.

Sebelumnya juga disebut KH Ma’ruf Amin ( Ketua MUI) dan KH Said Agil Siraz (Ketua NU) juga ramai di bicarakan menjadi salah satu kandidat terkuat mendampingi Jokowi.

 “Alasan Jokowi untuk mendapatkan dukungan dari Ulama, Kyai dan Organisasi massa Islam sebenarnya secara politik sudah tepat. Karena kondisi objektif pasca Pilkada DKI membuat persepsi di kalangan umat Islam bahwa pemerintahan Jokowi tidak Isami,” ujar Ketua Aliansi Santri-Nasionalis (ASN) Sumut, Muhammad Ikhyar Velayati Harahap, di Medan, Selasa (17/7/2018).

Ikhyar mengatakan strategi Jokowi memilih Ulama dan Para Kyai sebagai cawapres serta mengungkap nama tersebut ke publik secara bergiliran tidak tepat dan tidak etis. Hal ini justru rentan terjadi perpecahan di antara sesama umat Islam maupun umat Islam- non Islam.

“Akan lebih baik jika para ulama sepuh dan Kyai Kharismatik jangan dilibatkan langsung dalam politik elektoral atau diposisikan sebagai politisi, tetapi sebagai King Maker. Tidak bisa kita bayangkan ulama besar seperti KH Ma’ruf Amin, KH Said Agil Siraj, Tuan Guru Batang ketika masa kampanye dihina dan diejek oleh pendukung paslon lain di lapangan kampanye maupun dunia medsos, situasi ini rentan terjadi gesekan dan perpecahan di akar rumput,” kata Ikhyar.

Ikhyar yang juga Ketua PKNU Sumut menambahkan, penyebutan nama Ulama dan Kyai Kharismatik oleh Jokowi justru bisa membuat elektabilitasnya anjlok di mata umat Islam.

“Jika nama Ulama atau Kyai yang disebut berbeda dengan yang di pilih, maka umat Islam merasa Ulama atau Kyainya di-PHP dan dijadikan daun salam. Ikut dimasak dalam kuali, tetapi dibuang pertama kali ketika masakan terhidang di meja makan,” tukas Ikhyar.

Editor: Rakyat Asril

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top