Oleh: Yuda Pramono Andi

Menjelang Pilpres 2019, muncul banyak pernyataan-pernyataan yang tidak senang dengan kebijakan Joko Widodo sebagai Presiden. Pola kritik yang diberikan hampir sama, selalu berusaha menggiring opini “kebijakan itu hanya mencari suara menjelang Pilpres”.

 

Pasca pernyataan Jokowi tentang akan adanya anggaran untuk dana kelurahan, muncul cuitan dari lawan tanding di Pilpres 2019, Sandiaga Uno. Dia menganggap bahwa kebijakan tersebut sarat kepentingan politik menjelang Pilpres yang akan datang seperti kutipan pernyataannya, “Kalau niatnya untuk membantu masyarakat terlepas timingnya kapan ya itu harus kita apresiasi. Tapi kalau di tahun politik pasti masyarakat bisa menilai sendiri , apakah ini ada udang di balik batu atau apakah ini program sudah dicanangkan sebelumnya, masyarakat bisa menilai sendiri,”.

 

Terkadang, saya bingung mengapa seorang cendekiawan seperti sandiaga berpikiran serendah itu. Seorang yang telah menimba ilmu hingga ke Amerika, tidak memiliki visi pemikiran yang lebih jauh. Di samping itu, kebijakan ini merupakan hasil dari tanggapan masyarakat kota (kelurahan) yang merasa bahwa tidak adil jika hanya desa yang mendapat dana pembangunan. Lalu jika keluhan masyarakat ini tidak didengar, apa yang terjadi? Mungkin masyarakat mulai protes, demo dan mungkin Sandiaga juga akan hadir disana sebagai pahlawan kesiangan yang menuntut keadilan bagi masyarakat kota.

 

Di lain pihak, dengan bahasan yang sama, Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyampaikan pernyataan agar pemerintah tak sembarangan mengganggarkan program yang tidak memiliki payung hukum yang jelas. kebijakan itu pula dekat dengan Pilpres 2019 hingga menimbulkan pertanyaan.

 

Terkait pernyataan Fadli Zon ini, masyarakat harusnya sadar bahwa Fadli ini merupakan seorang yang ambigu. Sebuah program pemerintah pastinya diajukan dulu ke DPR, demikian juga dengan kebijakan dana kelurahan. DPR pastinya setuju dengan kebijakan tersebut karena tidak mungkin seorang Jokowi menyampaikan langsung ke pers tentang kebijakan tersebut tanpa disetujui DPR.

 

Kesimpulannya , mungkin Fadli ketika itu tidak ikut rapat atau lebih parah lagi, ikut rapat tapi tertidur dalam proses penyetujuan kebijakan tersebut.

 

Masyarakat Indonesia harus paham dengan logika dasar berikut. Kota Jakarta saja memiliki banyak pemukiman kumuh dan perkampungan miskin. Itu adalah kota Jakarta yang memiliki banyak infrastruktur yang luar biasa, namun tetap memiliki kondisi yang sedemikian rupa.

 

Mungkin seorang pebisnis seperti Sandiaga tidak tahu kondisi masyarakatnya di Jakarta, karena yang dia tahu sebagai pebisnis, dia telah menang ketika berhasil memenangkan Pilkada. Hanya sebatas pemikiran pebisnis yang baru saja memenangkan tender besar namun lupa memaksimalkan proyek tersebut.

 

Pihak oposisi, termasuk sandiaga juga pasti tidak tahu bahwa yang mendorong Jokowi mengeluarkan kebijakan seperti itu adalah  aparat Kelurahan melalui Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apkasi) yang menyampaikan keluhan dan urgensi untuk mendapat alokasi dana seperti di desa.

 

Mereka hanya berpikir bagaimana cara menjatuhkan Jokowi dengan segala cara. Dari fakta diatas, seharusnya kita tahu bahwa justru Jokowi mendengar keluhan rakyat secara langsung melalui perwakilan APKASI tersebut. Namun lagi-lagi, oposisi terlalu benci hingga logikanya tumpul dan selalu melakukan blunder dengan mengeluarkan pernyataan tanpa fakta dan data, hanya hoax.

 

Kepada seorang sandiaga Uno, anda adalah seorang cendekiawan. Rakyat Indonesia berharap sesuatu yang lebih baik dari anda yang sekarang ini. Jangan ibaratkan kondisi dan tantangan Indonesia seperti bisnis yang sering anda geluti. Indonesia ini jauh lebih dari pada itu.

 

Menjadi seorang pemimpin negara bukan lagi membicarakan untung rugi bagi anda, tapi imbas dari perbuatan yang anda lakukan terhadap masyarakat bangsa dan negara ini. Seharusnya orang sepintar anda tidak mengeluarkan statement tanpa fakta dan data seperti demikian. Menjadi pintar adalah hal yang hebat, tapi menjadi orang bijaksana adakah hal yang lebih luar biasa.

 

Tidak cukupkah dengan isu kasus Panama Papers yang menyebutkan nama anda sebagai salah satu dalam daftar penggrlut bisnis awang awang tersebut?

 

Tidak cukupkah dengan pengaduan dari rekan bisnis anda yang merasa tertipu dengan kecurangan yang mungkin anda lakukan sehingga mereka melaporkan anda? Jangan lah berdiri dan menampakkan diri seperti orang yang sempurna.

 

Joko Widodo bukan orang yang sempurna, tapi dengan diri yang apa adanya, dia tetap berusaha menjadi berkat bagi orang lain, bukan menjadi beban bagi orang lain sehingga sering dilaporkan orang.

 

Untuk memenangkan suatu pertandingan, jangan hanya melihat lawan tandingmu. Berkacalah kepada diri sendiri dahulu. Buktikan kelebihan dan kapabilitas dengan tindakan nyata, bukan dengan kata-kata atau  curhat di media sosial seperti rekan koalisi pendukung anda yang menghabiskan waktu lebih banyak bercuit di media sosial daripada bekerja di kantornya.

 

Ada hal yang lebih besar dari sekedar memenangkan perhelatan Pilpres 2019 mendatang dan hal itu membutuhkan tanggung jawab yang luar biasa berat. Dengan kondisi anda yang sekarang, saya pesimis sandiaga Uno mampu mengemban tanggung jawab tersebut. Namun, tidak menutup kemungkinan jika mulai berbenah diri dan menghilangkan kebencian dari nurani, anda bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan pasti masyarakat dengan sendirinya menilai anda.

 

Untuk saat ini, biarkan Joko Widodo bekerja dan tolong jangan ganggu dengan memprovokasi masyarakat. Dia masih mengemban tanggung jawab 1 tahun lagi dari apa yang diamanahkan kepadanya 4 tahun yang lalu ketika beliau terpilih menjadi presiden. Jangan tambahi beban Jokowi dengan menjadi pihak oposisi yang menutup hati nurani dan logika dengan kebencian semata hanya agar menang dalam Pilpres 2019 mendatang.

 

Tidak ada kebencian pada Sandiaga Uno dan kroni-kroninya. Hanya saja, sesuatu yang baik jangan kotori  dan bungkus dengan kebencian, karena hasil yang seharusnya baik bisa menjadi melenceng karena giringan opini murahan yang sering kalian utarakan kepada masyarakat.

 

Untuk saat ini, fokuslah menghilangkan kebencian dari hari nurani, agar ilmu yang luar biasa yang telah dianugrahkan kepadamu tidak menghasilkan logika bodoh yang bisa menghancurkanmu, dan bisa menghancurkan Indonesia ini.

Penulis adalah pengamat politik

 

 

 

 

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top