Oleh: Joko Anwar

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan harga premium akan mulai resmi naik pada Rabu 10 Oktober lalu. Penyesuaian kenaikan harga BBM sendiri mengacu pada harga minyak mentah dunia, yang terus merangkak naik yang menyentuh menembus 80 dolar per barel.

Yang perlu digaris bawahi adalah persoalan BBM naik bukan karena pemerintah, melainkan karena harga minyak dunia yang juga naik. Namun kondisi tersebut menuai beberapa oppsisi yang dengan sigap menyalahkan pemerintah.

Selang beberapa saat, Presiden meminta rencana kenaikan itu dibahas sambil menunggu kesiapan Pertamina. Pemerintah akhirnya mengambil langkah untuk membatalkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium

Penundaan tersebut disertai dengan alasan yang logis mengingat kondisi yang terjadi saat ini. Pertama, Presiden meminta kajian terhadap perubahan harga minyak internasional. Termasuk neraca minyak dan gas bumi keseluruhan.

Faktor kedua, Jokowi meminta Kementerian Keuangan menganalisis kondisi fiskal dalam menjaga harga BBM. Adapun pertimbangan ketiga adalah Presiden menginginkan daya beli masyarakat terjaga dan menjadi prioritas. Terpenuhinya beberapa indikator tersebut diharapkan membantu fundamental ekonomi tetap bugar.

Tindakan penundaan kenaikan BBM tersebu mendapat tanggapan positif oleh Mantan Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian, Rizal Ramli.

Dirinya mengungkapkan apresiasinya kepada Presiden Joko Widodo atas penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Menurutnya, langkah penundaan kenaikan harga BBM tersebut dinilainya tepat. Rizal menilai hal itu lantaran  daya beli rakyat golongan menengah bawah sedang merosot.

Penundaan tersebut tentunya mendapat respon positif oleh beberapa pihak termasuk masyarakat sendiri.
Namun langkah positif Jokowi justru dicurigai oleh pesaing politiknya. Sandiaga Uno.

Sandiaga menduga pembatalan kenaikan tersebut jangan sampai dilakukan karena pertimbangan politik yang kini masuk tahun politik.
“Jangan sampai kebijakan murni ini dilakukan untuk pertimbangan politik,”

Ia juga menambahkan, yang perlu digarisbawahi jangan sampai pasokan premium langka. Karena itu, juga harus ada pemikiran kebijakan jangka menengah dan jangka panjang. Olehnya karenanya, meski harga BBM tidak naik namun tak menutup kemungkinan harga BBM dapat naik sewaktu-waktu. Sebab, nilai tukar dolar terhadap rupiah masih terus menguat. Terlebih tren harga minyak dunia juga terus meningkat.

Sandiaga seolah-olah menuduh pemerintahan saat ini tega memainkan kebijakan ekonomi demi politik. Namun apakah seperti itu? selelah beberapa alasan logis yang telah dijelaskan sebelumnya mungkinkah Jokowi setega itu pada rakyat?.

Tentu saja tidak, Jokowi mengeluarkan kebijakan tersebut karena merasa kondisi Indonesia saat ini masih belum cukup stabil. Indonesia mengalami troublepressure seperti terjadi gempa dan tsunami yang terjadi di beberapa daerah.

Adanya kenaikan BBM tentu saja membuat masyarakat Indonesia semakin tertekan. Oleh karna itu Presiden mengeluarkan kebijakan untuk penundaan kenaikan BBM sementara waktu. Jelas bukan karena politik.

Mengapa Sandiaga bisa menuduh seperti itu? Kita lihat dulu siapakah Sandiaga ini.

Sandiaga lahir di Riau 28 Juni 1969 dari pasangan Razif Halik Uno (Henk Uno) dan Rachmini Rachman Uno (Mien Uno).
Lulus dari Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat Summa Cum Laude, ia kemudian melanjutkan pendidikan untuk meraih gelar Master of Business Administration dari George Washington University pada 1992.

Selesai dengan sekolahnya, Sandiaga memutuskan pulang dan memulai bisnis di Indonesia. Beberapa perusahaan yang ia dirikan termasuk perusahaan konsultan keuangan PT Recapital Advisors dan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya.

Sebagai pengusaha, nama Sandiaga pernah tercatat dalam “Panama Papers” pada 2016 sebagai direktur dan pemegang saham beberapa perusahaan seperti Goldwater Company Limited, Attica Finance Ltd, Velodrome Worldwide, dan Sun Global Energy Inc.

Perusahaan-perusahaan tersebut beralamat di British Virgin Island dan Seychelles dan terdaftar sebagai klien Mossack Fonseca pada periode 1 Juli 2002 hingga 28 Mei 2009.

Selain prestasinya dalam dunia bisnis, Sandiaga juga kerap dilaporkan ke polisi oleh beberapa rekan bisnisnya terkait tuduhan penggelapan lahan dan pencucian uang, beberapa kasus tengah ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi.

Jelas kiprah Sandiaga sebenarnya lebih banyak berkaitan dengan dunia bisnis di Indonesia dibandingkan dunia politik.
Mungkin karena Sandi adalah seorang pengusaha yang hebat, yang hidupnya bergelimangan harta. Sulit merasakan kondisi yang saat ini terjadi. Sehingga statmen tersebut terucap.
Masyarakat Indonesia tentusaja harus cerdas. Harus bisa membedakan mana kebijakan yang memang benar-benar bermanfaat untuk kesejahteraan kita dan mana dilakukan berdasarkan kepentingan pribadi.

Menjadi kritikus itu mudah, yang sulit adalah memberikan solusi kongkrit untuk membangun bangsa ini lebih sejahtera.

Penulis adalah Pengamat Sosial Politik

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top