Daerah

Fakta Persidangan, Terdakwa Akui Lakukan Kekerasan Terhadap Rekan Kerja

Ilustrasi. Bumantara-Doc

Fakta Persidangan, Terdakwa Akui Lakukan Kekerasan Terhadap Rekan Kerja

Medan- Bumantara: Terkait aksi kekerasaan pegawai honorer DPRD Medan yang terjadi pada 26 September 2017 akhirnya mendapat pengakuan dari terdakwa.

Pelaku, Maysarah pegawai honorer di DPRD Medan tersebut menyebutkan, dirinya melakukan penamparan terhadap korban bernama Windy Sartika Putri yang juga merupakan rekan satu kantornya.

Hal ini terungkap saat Maysarah disidangkan sebagai terdakwa atas kasus dugaan penganiayaan di Ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (30/10/2018).

Pantauan dilokasi, pada sidang agenda mendengarkan keterangan saksi, Windy mengeluhkan perutnya akibat tendangan terdakwa. Saat itu, Windy sedang mengandung anak pertamanya yang usianya enam bulan.

“Tiga minggu janin saya tidak bergerak. Dua minggu saya berhalangan bekerja. Saat itu, saya juga memeriksakan kandungan. Tidak sempat dirawat karena dokter juga menyarankan agar istirahat di rumah saja,” katanya di hadapan Ketua Majelis Hakim Nazar Efendi.

Diketahui, terdakwa Maysarah dan saksi korban Windy merupakan honorer di DPRD Medan. Penganiayaan yang dialami Windy terjadi pada 26 September 2016 lalu.

Dalam kasus ini, terdakwa berstatus tahanan kota. Selain menendang perut, terdakwa Maysarah juga melakukan penamparan menggunakan tangan kanan, sehingga pipi Windy memerah.

“Awalnya ada perkataan terdakwa yang menyindir di dalam lift sebelum apel pagi. Pipi saya ditampar satu kali di lantai 6 DPRD Medan,” ucap Windy.

Saksi lainnya, Siti Rahmawati juga mengakui perbuatan penganiayaan yang dialami rekan kerjanya oleh terdakwa.

“Yang saya lihat pipinya sudah merah akibat bekas tangan. Saya melerai dan melihat Windy sudah kesakitan. Kondisinya saksi juga saat itu jilbabnya sudah berantakan,” katanya.

Majelis hakim sempat menanyakan apakah sudah ada perdamaian antara terdakwa dengan saksi. Namun, Windy menjawab, terdakwa Maysarah sama sekali tidak pernah beriktikad baik meminta maaf secara langsung selama setahun ini.

“Yang meminta maaf justru mertua terdakwa yang berkomunikasi lewat telepon. Bukan terdakwa langsung. Kondisi saya waktu itu sedang trauma dan emosi. Keluarga besar juga menyarankan untuk tidak berdamai saat itu juga,” ujarnya.

Dari amatan, terdakwa Maysarah hadir di persidangan masih menggunakan pakaian dinas. Ia duduk di sebalah kanan kedua saksi dan melipat tangannya sepanjang persidangan.

Diberikan kesempatan memberikan pernyataan, terdakwa Maysarah menyangkal telah menendang Windy yang sedang hamil. Padahal, dalam keterangan yang tertuang sesuai dakwaan, terdakwa mengakui tindakan tersebut.

Sebelum sidang ditunda, Ketua Majelis Hakim Nazar Efendi menekankan agar terdakwa Maysarah hadir pada sidang berikutnya dengan agenda mendengarkan keterangan terdakwa.

“Kalau berhalangan hadir atau sakit, silakan buat surat keterangan. Jangan sampai enggak hadir. Kalau pergi ke Carrefour, saya masukkan (penjara),” ucap hakim.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Patricia Pasaribu mendakwa terdakwa melangar Pasal 351 dengan ancaman maksimal dua tahun delapan bulan penjara.

Sementara itu, terdakwa yang dipertegas hakim mengenai perbuatannya melakukan kekerasaan penamparan tersebut, diakui akan keberanannya kejadian pada tahun 2017 tersebut.

“Benar pak,”ujar terdakwa Maysarah kepada hakim.

Dipertegas Hakim kembali mengenai pernyataan saksi Siti Rahmawati, terdakwa Maysarah  juga tidak membantah dan mengakui atas keberanaan kesaksian tersebut.

“Benar pak ada menampar”pungkasnya sembari menyangkal tindakannya menendang korban, yang sebelumnya diketahui Terdakwa mengakui¬† saat memberikan keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) di kepolisian .

 

Penulis : Syarief

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top