Politik

Respon Milenial Mempengaruhi Tingkat Partisipasi Pemilih Pemilu 2019

Muhammad Asril

Medan-Bumantara: Memang dalam perjalanan bangsa ini, agak sulit kita membahas demokrasi tanpa kehadiran partai politik.

Dalam tataran teori politik, belum ada alternatif yang pas untuk meramu representasi politik selain dengan campur tangan parpol.

Oleh karena itu, anak muda yang secara politik berpreferensi kepada demokrasi (keterbukaan, akuntabilitas publik, kebebasan, dan lain-lain), jika ingin secara nyata mengabdi untuk memperbaiki demokrasi, jalur parpol adalah salahsatu opsi yang mungkin dan layak.

Namun beberapa tahun belakangan ini masih ada celah bahwa parpol masih kurang responsif terhadap preferensi dan kepentingan politik anak muda.

Celah itu yang kemudian diisi dengan metode yang saya sebut sebagai respon milenial parpol/caleg. Yakni sebuah respon yang mengakomodir kepentingan politik milenial melalui konsep-konsep berbasis digital melalui sosial media.

Sosial media bisa diandalkan untuk beraspirasi, meski bisa dikatakan bahwa media sosial masih belum dianggap aksi nyata parpol/caleg.

Namun, media sosial yang dikelola dengan profesional, bisa dijadikan ruang komunikasi dunia maya antara politisi dengan warganet, antara penyelenggara pemilu dengan pemilih.

Ruang-ruang itulah yang kemudian secara perlahan bisa mempengaruhi warganet untuk antusias terhadap politik dan menentukan pilihannya kepada politisi yang terjun dalam pesta pemilihan umum.

Dengan kata lain, media sosial bisa sangat mempengaruhi generasi milenial untuk berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Kita harus mencatat, bahwa demokrasi berhasil jika angka partisipasi pemilih tinggi dalam sebuah pemilihan umum.

Lalu, bagaimana sebenarnya antusiasme politik anak-anak muda di daerah pemilihan saya di Medan Utara?

Medan Utara yang terdiri dari empat kecamatan yakni Kecamatan Medan Deli, Medan Labuhan, Medan Marelan dan Belawan menjadi daerah yang terbilang cukup tinggi krisis kepercayaannya terhadap pemerintah maupun penyelenggara pemilu yang tidak mengakomodir kepentingan milenial.

Padahal kawasan Medan Utara menjadi lumbung suara dan tingkat partisipasi pemilihnya cukup tinggi pada beberapa momen Pemilu maupun Pilkada.

Salahsatu bukti pada Pilgubsu Juni 2018 kemarin, tingkat partisipasi pemilih khususnya anak muda di Medan Utara meningkat hingga 16-18 persen.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi meningkatnya partisipasi pemilih tersebut. Di antaranya konsep sosialisasi berbasis warganet dan digital yang dilakukan penyelenggara pemilu.

Konsep seperti itu mengikuti arus perkembangan warga Kota Medan yang sudah berkomunikasi dengan jejaring sosial, meski hanya mempengaruhi 16-18 persen suara pemilih.

Atas kondisi itu pula, dengan sendirinya parpol maupun caleg juga sudah banyak memperbaiki metode kampanyenya dengan berbasis digital.

Dengan demikian bisa dipastikan pandangan politik anak muda sangat dipengaruhi oleh metode-metode sosialisasi dan kampanye yang dilakukan kontestan Pemilu/Pileg.

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top