Ilustrasi

Oleh: Nurul Ilmi Sani

Indonesia adalah Negara yang bersistem demokrasi yang mena membuka kebebasan informasi. Namun bukan berarti kebebasan itu disalah gunakan dengan menyebarkan berita bohong yang penuh rekayasa dengan seenak hati.

Siapa yang menyangka kebencian bisa dijadikan komoditas. Kendati demikian, berita hoaks telah lama bergerak bebas di dunia maya. Bukan hanya dunia maya, melainkan di kehidupan nyata. Bahkan menjadi bahan politik guna membangun opini publik.

Dampak yang telah ditimbulkan oleh para perekayasa informasi telah mengacaukan masyarakat. Banyak kasus buruk yang terjadi akibat Hoax, karena banyak oknum atau para perekayasa yang memang sengaja memanfaatkan hoax sebagai pedang mereka untuk menimbulkan perang masyarakat.

Kembali ke hoax, hoax adalah berita bohong yang disebarkan oleh kelompok tertentu untuk kepentingan kejahatan suatu oknum. Menurut kamus besar Indonesia, ‘hoaks’ didefinisikan sebagai ‘malicious deception’ atau kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat’.

Dari segi bahasanya arti kata hoaks tidaklah terdengar indah bahkan, hoaks tidak asing lagi di telinga setiap rakyat Indonesia yang berarti sesuatu yang membahayakan. Kalau hoaksnya saja membahayakan, berarti sang pelaku rekayasa informasinya adalah orang-orang yang sangat berbahaya dengan pola kerja yang membahayakan keutuhan Negara.

Bayangkan, betapa bahayanya kalau sang perekayasa berita bohong bermain-main dengan hal yang sungguh tak layak pakai. Membuat orang-orang lalai dengan sesuatu yang tak seharusnya dipercayai. Betapa kemunduran moral sebagai masyarakat kita sudah bearada di titik nadir. Tentu pelaku-pelakunya harus segera diusut dan dikenakan pasal yang diatur dengan undang-undang.

Kementrian Komunikasi dan Informatika akan menerapkan kebijakan denda terhadap media sosial yang tidak mampu menangani berita bohong atau menyesatkan.

Direktur jendral aplikasi dan Informatika Kementrian dan Informatika Kominfo, Semual, Abrijani Pengerapan mengatakan, dalam waktu dekat konsep denda kepada media sosial terkait hoax diterapkan di Indonesia.

Walaupun telah dilakukan berbagai cara oleh pemerintah untuk menanggulangi hoax (berita bohong), para perekayasa tak kunjung sadar akan perilaku criminal yang telah mereka lakukan.

Inilah keberanian orang-orang pengecut tanpa unsur akal sehat. Hal ini menjadi masalah yang dapat menjatuhkan pembangunan Nasional. Bahkan,
Oleh karena itu oknum tersebut (para perekayasa informasi) harus segera diusut tuntas, dengan penindakan tegas.

Dan juga Negara atau khususnya pemerintah yang memiliki andil untuk penuntasan ini agar cepat bertindak adil untuk semua keganjalan yang dapat menghancurkan keutuhan Negara. Pun harus mampu memberikan perlindungan maksimal terhadap kemajemukan bangsa ini. Demi terciptanya Negara yang damai dan berkualitas.

Tak hanya pemerintah upaya untuk menuntaskan hoax bukanlah semata-mata dari pemeritah. Tetapi, upaya setiap rakyat Indonesia untuk menghidupkan kembali akal sehat yang mungkin sempat mati ditelan hoaks-hoaks yang beredar.

Marilah kita ciptakan optimisme dalam berfikir dengan meninggalkan media social yang membawa dalam keburukan. Dan tak kalah pentingnya adalah marilah meningkatkan minat baca setiap individu rakyat Indonesia, karena dengan membacalah kita dapat mengenal dunia, bukan diperkenalkan dunia oleh para perekayasa informasi yang kurang pengetahuan.

Dengan inilah dapat terciptanya Negara Indonesia yang damai dan sejahtera dalam mengahadapi masa depan khususnya Pemilu 2019. Dan semoga, dengan hal ini pada 17 april yang akan datang terwujudnya Indonesia baru, yaitu hari hidupnya akal sehat, yang terbebas dari segala isu-isu yang beragam dan tak jelas maksud dan tujuanya, serta menyebabkan keterpecah-belahan warga Negara Indonesia.

Penulis adalah peneliti LSISI

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top