Oleh: Dasjagarni Ulinai

Pemilihan Umum atau yang akrab disebut dengan pemilu oleh masyarakat Indonesia adalah suatu proses pemilihan seseorang untuk mengisi jabatan politik tertentu.
Dilaksanakan setiap 5 tahun sekali untuk menggenapi sistem pemerintahan Indonesia, yaitu demokrasi.

Meskipun banyak masyarakat yang semangat untuk mendapat tinta ungu, harus diakui bahwa masih banyak juga segelintir masyarakat yang malas untuk pergi ke pos pemilihan dengan alasan tidak mempunyai pilihan. Namun tidak jarang kita akan melihat beberapa masyarakat yang masih perduli dan berani mengingatkan agar tidak “golput” atau yang berarti lebih memilih untuk tidak memilih.

Reaksi kecil seperti itu sangat membantu berjalannya kelangsungan pemilu di Indonesia. Bukan semata hanya untuk mencoblos kertas, tapi juga untuk mempertahankan sendi-sendi demokrasi di Indonesia serta mencapai suatu masyarakat yang adil dan makmur.

Akan dilaksanakan lagi pemilu untuk kesekian kalinya pada tanggal 17 April 2019. Setiap partai politik sudah siap dengan anggota masing-masing yang akan menyalonkan diri menjadi anggota legislatif negara. Untuk pemilihan umum presiden, kali ini hampir sama seperti 5 tahun yang lalu.

Kedua calon presiden masih sama, hanya wakilnya yang berbeda. Jika 5 tahun lalu Joko Widodo berpasangan dengan Jusuf Kalla, kali ini beliau bersama dengan Ma’aruf Amin. Pasangan kedua ditempati oleh Prabowo Subianto yang 5 tahun lalu berpasangan dengan Hatta Rajasa, namun sekarang berganti menjadi Sandiaga Uno.

Kedua pasangan juga sudah siap dengan visi-misi yang akan didebatkan di stasiun televisi nasional.
Berhubungan dengan tahun pemilu, banyak kubu-kubu baru di dalam masyarakat terbentuk. Bukan hanya berhenti di situ, untuk beberapa orang yang berhubungan darah juga banyak yang bercekcok mulut karena perbedaan pendapat dan berujung dendam di hati.

Entah itu karena berita hoaks yang dibaca atau orang lain yang menyebarkan isu-isu yang belum jelas kebenarannya. Untuk mencegah terjadinya hal seperti itu, masyarakat harus dengan pintar menelaah berita. Seperti mencari kebenaran atau fakta dari sumber lain contohnya.

Bukan hanya pintar mencari kebenaran saja, masyarakat juga seharusnya pintar untuk berkomentar. Dengan perkataan yang baik, enak didengar, dan tidak menjatuhkan, maka perpecahan pun tidak akan timbul. Tentu saja, agar masyarakat bisa berperan lebih aktif dan bijak butuh bimbingan dari pihak yang berwewenang atau pemerintah.

Contoh hal yang bisa dilakukan adalah sosialisasi politik. Sosialisasi politik yang dikenalkan oleh Michael Rush dan Phillip Althoff berarti oleh pengaruh mana seorang individu bisa mengenali sistem politik yang kemudian mempengaruhi persepsi serta reaksi terhadap gejala politik. Dengan melaksanakan sosialisasi politik, bukan hanya masyarakat saja yang teredukasi, namun juga sistem politik tetap terpelihara.

Selain pemerintah, seorang tokoh masyarakat yang bertutur kata baik dan mengerti tentang politik juga sangat dibutuhkan. Masyarakat lebih cenderung mengikuti perkembangan jaman yang semakin modern, banyak yang berpikir sosialisasi hanya menambah bosan.

Dengan adanya seorang tokoh masyarakat, masyarakat yang memiliki pola pikir seperti itu akan cenderung mendengarkan apa yang tokoh masyarakat itu katakan dan pemikirannya tentang politik akan berubah.

Kelangsungan pemilu tidak hanya bergantung pada sikap dan perilaku masyarakat, tapi juga dari penerbit sumber berita. Jika setiap penerbit mencari keaslian data sebelum berita diterbitkan, tidak menggunakan bahasa yang provokatif, tidak menyebarkan isu SARA, dan tidak menjatuhkan, maka masyarakat juga tidak akan terpancing yang akan mengakibatkan melakukan hal tidak senonoh.

Jika pola pikir masyarakat sudah berubah, maka karakter setiap individu sudah terbentuk. Masyarakat akan cenderung lebih berpikir ke depan untuk jangka waktu yang lama. Kemudian masyarakat akan lebih perduli dengan keadilan hukum, keamanan, dan keteriban.

Dengan itu, masyarakat akan bersama-sama menjamin berjalannya keberlangsungan pembangunan nasional dalam dimensi pembangunan manusia yang merupakan tahap awal dari segala pembangunan.

Pembangunan nasional adalah serangkaian usaha pembangunan yang berkelanjutan meliputi seluruh kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara untuk mewujudkan tujuan nasional yang termaksud dalam Pembukaan UUD 1945.

Bukan hanya pembentukan karakter, tetapi pembangunan nasional juga berguna untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang damai, berkeadilan, demokratis, berdaya saing, maju, dan sejahtera dalah wadah NKRI yang didukung oleh masyarakat Indonesia yang mandiri, sehat, beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cinta tanah air, berkesadaran hukum dan lingkungan, disiplin dan mempunyai etos kerja yang tinggi serta mengusai IPTEK.

Demi kelangsungan pemilu di tahun 2019 ini butuh banyak sekali kerja sama. Mulai dari kelompok terkecil, yaitu keluarga hingga yang terbesar, yaitu negara.

Seperti cara-cara yang telah disebutkan di atas, dihimbau kepada masyarakat untuk tidak menyebarkan dan/atau mudah termakan hoaks, menjadi lebih bijak ketika berkomentar, dan sama-sama saling membantu pertumbuhan nasional.

Renggo

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top