Oleh: Safira Rahma Putri

Hoax bukanlah hal yang tak lazim didengar masyarakat. Bahkan hoax hampir menjadi sebuah problematika yang kerap dijumpai disetiap lini, baik dalam bentuk media massa, maupun media lain yang tentunya dapat digunakan sebagai alat untuk menyebarluaskan hoax.

Hoax memiliki arti buruk bagi presepsi setiap individu. Hoax adalah berita bohong yang disampaikan dengan tujuan yang negatif. Tentu saja negatif, sebab hoax dapat memicu konflik dan hal-hal lain yang merusak keutuhan serta ketentraman kehidupan bermasyarakat.

Dewasa ini, hoax telah menjadi persoalan serius yang perlu ditangani secara bijak. Mengingat efek yang timbul akibat hoax itu sendiri. Banyak hoax yang beredar, membuat masyarakat gelisah karena terkadang sulit membedakan antara fakta serta hoax. Apalagi kebanyakan dari mereka, masyarakat menerima hoax secara mentah-mentah tanpa dikonfirmasi terlebih dahulu dengan fakta-fakta yang sebenarnya.

Pola pikir masyarakat yang mudah tersulut memungkinkan hoax beredar secara cepat tanpa adanya pengawasan yang ketat.
Semakin hari, hoax pun makin menjamur.

Banyaknya pengguna teknologi serta kemudahan yang disediakan, dimanfaatkan oleh para penyebar hoax untuk mudah menyebar isu yang tentunya merugikan banyak pihak. Seperti yang masyarakat alami menjelang pemilu tahun 2019.

Mendekati bulan-bulan panas menjelang pemilu, tak bisa dipungkiri bahwasanya banyak beredar isu-isu tak sedap menerpa linimasa teknologi. Kalimat provokasi, hujatan, dan apapun yang berhubungan dengan hoax, telah menjadi makanan sehari-hari bagi masyarakat.

Dan hal tersebut harus dilawan dengan partisipasi dari berbagai elemen masyarakat.

Menurut beberapa survei, pemuda milenial merupakan elemen penting yang perlu ambil bagian dalam menangkal berbagai hoax yang marak di berbagai media massa. Sebab, pemuda milenial adalah pengguna terbesar media massa dan berpengaruh terhadap jalannya perhelatan politik.

Hampir setengah dari pemilih di seluruh Indonesia merupakan pemuda milenial. Maka dari itu, kecerdasan serta kebijaksanaan kaula muda perlu ditingkatkan dalam menghadapi hoax yang beredar.

Pemuda milenial sudah semestinya berperan aktif dalam mengkampanyekan diri untuk menjadi pemilih cerdas dengan tidak mudah menerima kabar yang tersebar secara langsung. Perlu dicermati dan divalidasikan setiap kabar tersebut, supaya pemuda milenial tidak dapat terprovokasi hingga akhirnya menimbulkan hal yang tidak diinginkan.

Meski begitu, bukan hanya pemuda milenial saja yang harus ambil peran dalam menyikapi problematika ini. Perlu adanya sinergi dari pemerintah, tokoh-tokoh, serta para calon pemimpin yang akan bertarung di perhelatan pemilu kelak.

Pemerintah berusaha untuk membatasi ruang dan menyediakan fitur keamanan agar hoax tidak dapat berkembang secara cepat dan perlu ada penegakkan hukum secara tegas supaya sang penyebar hoax dapat jera. Tokoh-tokoh dapat membantu menyediakan pendidikan politik secara umum agar menghasilkan pemuda milenial yang cerdas dan anti hoax.

Dan yang tidak kalah penting pula, peran para calon pemimpin juga harus membantu agar hoax tidak merajalela dan merusak karakter bangsa. Para calon sudah semestinya tidak saling menyindir ataupun memprovokasi. Calon pemimpin harus memberikan contoh yang baik dan saling rukun dengan calon yang lain pula.

Peran dari berbagai pihak diperlukan demi mencapai kemaslahatan bersama. Hoax timbul dari tidak adanya rasa percaya, solidaritas, kebijaksanaan, dan adanya perasaan saling curiga terhadap sesama.

Maka dari itu, mari kita sama-sama bersatu dan menjaga keutuhan agar hoax tidak kembali hadir dan merusak kesatuan bangsa. Kecerdasan dan kebijaksanaan berbagai elemen, diperlukan agar masing-masing dari mereka tidak terjerumus hingga akhirnya jatuh dalam negatifnya hoax itu sendiri.

Penulis adalah peneliti LSISI

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top