Oleh: Ingot Simangunsong.

 

Danau Sidihoni, danau yang berada di atas Danau Toba di Desa Sabungan Nihuta, Kecamatan Ronggur Nihuta, Kabupaten Samosir.  Terletak pada ketinggian 1.300 meter dari atas permukaan laut, dan dapat ditempuh dengan mengendarai sepedamotor dari Pangururan (ibukota kabupaten) dengan jarak sekitar 8 kilometer.

Danau ini terletak di atas endapan danau yang terbentuk pada saat pengangkatan PulauSamosir  yang membentuk system cekungan akibat patahan local hasil kegiatan tektonik.

Di sebuah warung yang disinggahi penulis, Joker Nadeak yang sedang asyik menikmati tuak, merekomendasikan nama Ompung Poster Simalango (72), warga Desa Sabungan Nihuta, yang paling layak untuk dijadikan narasumber menceritakan tentang Danau Sidihoni.

“Dia yang lebih memahami dan cerita yang disampaikannya, memang pernah diketahui dan dirasakannya,” kata Joker Nadeak yang menyarankan kalau hendak ketemu Ompung Poster jangan lupa membawa sebungkus rokok.

Saat ditemui, Ompung Poster sedang merumput di kebun kopi yang berada di sekitar rumahnya. Dua anak kecil-cucu Ompung Poster-menghampirinya dan memberitahukan ada tamu.

Ompung Poster meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri penulis serta mempersilahkan masuk. Di dalam rumah yang sangat sederhana dengan lantai tanah, hanya tergelar tikar. Kemudian sebuah televisi yang sedang asyik ditonton cucunya.

Lazimnya bertamu, kami saling bersalaman. Maklum, karena sama-sama orang Batak, kami saling menyebut marga. Kemudian Ompung Poster menanyakan apa maksud kedatangan ke rumahnya.

Sembari mengisap rokok, Ompung Poster mulai cerita tentang Danau Sidihoni.

Danau Sidihoni, katanya, dulunya adalah sebuah tempat untuk beroleh kekuatan, kehormatan, dan kebahagiaan. Jika ada kejangkitan wabah penyakit, para orangtua mengadakan ritual dan mempersembahkan sajian berupa itak putih (tepung beras) untuk mangahoni atau mangelek-elek (memohon) agar penyakit hilang.

“Dulukan, belum ada mantra atau dokter, jadi kesanalah orang-orang menyampaikan pengaduan, dan kalau memang rezeki, y asembuh, atau terkabulkan permintaannya,” kata Ompung Poster.

Tidak hanya untuk kesembuhan, juga untuk permintaan lain seperti mendapatkan kedudukan (kehormatan) dan kekuatan, dilakukan di danau itu.

Sampai saat ini, menurut Ompung Poster, masih banyak orang yang mengunjungi danau untuk menyampaikan niatnya sebagaimana yang pernah dilakukan masyarakat di sekitar.

Ompung Poster menguatkan ceritanya, dengan menunjukkan adanya tanda di sebelah utara danau, ada dibangun batu berbentuk segita yang di atasnya terdapat 7 cawan. Tidak jauh dari situ, berdiri tiang kecil dimana bendera tiga warna hitam putih dan merah berkibar. Di tempat itu sering ditemukan sesajian berupa daun sirih, jeruk purut, tembakau, dan itu pertanda ada yang melakukan ritual mangahoni atau mangelek-elek.

Pertanda Musibah

Yang tidak kalah menarik, Ompung Poster juga mengungkapkan tentang air danau yang dapat berubah warna menjadi merah seperti darah.

“Kita melihatnya memerah darah, tetapi kalau airnya diambil, ternyata jernih,” katanya.

Ompung Poster mengisahkan, jika air sudah berubah warnah merah, itu pertanda akan terjadi musibah besar yang menggemparkan. Namun, musibah itu tidak terjadi di Samosir, tetapi di daerah lain.

Ompung Poster menyebutkan tentang pemberontakan G30S/PKI, tergulingnya Soekarno dan Soeharto, meninggalnya Ibu Tien Soeharto, terjadinya reformasi, meninggalnya Gus Dur, musibah tsunami dan gempa Nias.

“Itu kejadian, yang diawalidengan berubahnya warna air danau,” ujar Ompung Poster.

Bicarapun Harus Dijaga

Ompung Poster mengingatkan, selama berada di kawasan danau, tidak dibenarkan melakukan tindak-tanduk yang tidak sopan. Berbicara harus dijaga dan mengambil sesuatupun, tidak boleh sembarangan.

Ompung Poster mengatakan, pernah terjadi, seorang anak perempuan (gadis), selama dua minggu menghilang. Setelah dilakukan ritual permohonan, anak perempuan itu, akhirnya ditemukan di sekitar danau dimana dia bermain-main.

Menurut anak perempuan itu-seperti yang diceritakan Ompung Poster-dianya dapat melihat bagaimana orangtuanya dan warga sibuk mencari-carinya. Bahkan, berteriak-teriak memanggil, tapi tidak seorang pun mendengar dan melihatnya.

“Itulah kejadian yang pernah terlihat dan kenyataannya memang demikian. Kalau kita ceritakan itu sekarang, orang pada tidak percaya,” kata Ompung Poster.

Mengenai yang terjadi di danau itu, pernah dialami Joker Nadeak yang pernah menangkap ikan dengan jala, dan hasil tangkapan lumayan. Kemudian dimasukkan ke dalam keranjang. Namun sampai di rumah, ikan itu tidak ada, dan entah kemana menghilang.

Tidak hanya itu, katanya, ada yang mengherankan terjadi di danau itu, yakni ketika itu ada yang memancing dengan menggunakan 20 mata pancing. Seharusnya dengan 20 mata pancing, yang didapatya 20 ekor ikan, namun kenyataannya yang terpancing 21 ekor.

Seperti diungkapkan Ompung Poster, “Sipangidoangogo, pangidoansangap, pangidoantua, idomolo Tao on. Jai molomasanajolosahit i son, i boaninang do tusimangahoni, mangelek-elek manang mangalu-alu asa bali sian daging sahit i. (Artinya, danau itu, merupakan tempat beroleh kekuatan, kebahagiaan dan kehormatan. Dulu, kalau ada anak yang sakit, orang tua membawanya ke danau dan memohon agar penyakitnya sembuh).”

Bagi para backpacker maupun traveler yang senang menikmati pemandangan alam dengan biaya minim, Danau Sidihoni sangat direkomendasikan. Tak Cuma indah, atmosfernya juga terasa sangat alami. Sejauh mata memandang tidak ada pemukiman penduduk dan sesekali masih ada warga yang menggembalakan sapi dan kerbau di sini.

Selain itu untuk memasuki kawasan ini juga tak dikenakan biaya. Namun mungkin untuk mencari lokasi tepat DanauSidihoni agak sedikit sulit karena minimnya papan petunjuk. Bisa jadi hal inilah yang membuat banyak orang belum terlalu familiar dengan danau di atas danau ini.

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top