Politisi “Sontoloyo” Itu, Politisi “Ngangon Bebek”

by -4 views

catatan | ingot simangunsong

 

HA…ha…ha… Politisi “sontoloyo”.

Presiden Joko Widodo—yang populer dipanggil Jokowi—mengingatkan masyarakat Indonesia, agar wanti-wanti dengan kehadiran politisi “sontoloyo” yang berusaha memecah-belah rasa persatuan dan kesatuan.

“Hati-hati, banyak politik yang baik-baik, tapi juga banyak sekali politik yang sontoloyo. Ini saya ngomong apa adanya saja sehingga mari kita saring, kita filter, mana yang betul dan mana yang tidak betul. Karena masyarakat saat ini semakin matang dalam berpolitik,” ucap Jokowi di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018), saat membagikan 5.000 sertifikat hak atas tanah untuk masyarakat.

Pernyataan Jokowi tersebut, membuat politisi yang merasa tersinggung “sontak kaget” dan merasa “kepanasan”.  Bagaimana tidak, karena kata “sontoloyo” sangat menohok dan mengganggu ruang gerak para politisi busuk, penjahat politik, politisi sakit jiwa, konglomerat hitam dan mafia proyek/anggaran.

Di Pulau Jawa, “sontoloyo” adalah sebutan bagi pemilik pekerjaan sebagai pengembala itik atau bebek atau disebut juga tukang angon bebek.

Seorang sontoloyo biasanya mengembala ratusan ekor bebek dengan cara berpindah mengikuti musim panen padi di daerah pesawahan.

Konon dalam profesinya mengembala ratusan bebek, si “sontoloyo” tersebut, akan menyulitkan orang lain. Hal itu, misalnya dirasakan ketika rombongan bebek tersebut menyeberangi jalan. Karena jumlahnya besar, pengguna jalan menjadi terhalang.

Tidak hanya itu, terkadang bebek tersebut ada yang memakan padi yang belum dipanen, sehingga orang lain yang tidak sabar akan mengumpat dan menyebut “dasar sontoloyo”.

Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan arti kata sontoloyo yakni konyol, tidak beres, dan bodoh. Sontoloyo biasa digunakan sebagai makian. Ini hampir sama dengan kata bajingan yang justru kemudian menimbulkan konotasi negatif ketika mengucapkannya.

Menurut KBBI, bajingan adalah penjahat, pencopet, kurang ajar (kata makian). Sedangkan dalam bahasa Jawa, bajingan adalah pengendara gerobak sapi.

Mencermati apa yang disebut di atas, wajar saja jika para politisi busuk, penjahat politik, politisi sakit jiwa dan konglomerat hitam, merasa gerah dengan disebut-sebutnya agar masyarakat berhati-hati dengan politisi “sontoloyo”.

Politisi “sontoloyo” itu, identik dengan sekumpulan orang yang konyol, tidak beres, dan bodoh, serta setara dengan “pengangon bebek”.

Benar-benar telak. Benar-benar menohok uluh hati. Benar-benar membongkar habis tabir ketidak-beresan berpolitik para politisi “sontoloyo”.

Walau melalui proses yang panjang sekali pun, kebaikan dan kebenaran itu, menyimpan kekuatan dahsyat, yang tiba-tiba dapat mencelat dengan deras dan menerjang garang menghantam ketidak-benaran, ketidak-becusan, dan kebodohan berpolitiknya para politisi “sontoloyo”.

Jokowi telah melepaskannya, dan kekuatan itu benar-benar melesat layak anak panah lepas dari busurnya serta menancap pada titik sasaran, yakni para politisi busuk, penjahat politik, politisi sakit jiwa, konglomerat hitam dan mafia proyek/anggaran.

Kalau “sontoloyo” adalah sebutan bagi pemilik pekerjaan sebagai pengembala itik atau bebek atau disebut juga tukang angon bebek, maka politisi “sontoloyo” itu, ya politisi “ngangon bebek.”

Artinya, massa para politisi busuk, penjahat politik, politisi sakit jiwa, konglomerat hitam dan mafia proyek/anggaran yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan orang itu, layaknya bebek yang mereka angon.

Namanya bebek angonan politisi “sontoloyo”, ya hasilnya ya “sontoloyo” juga. Sungguh memprihatinkan, jika bangsa kita, dihuni para politisi “sontoloyo” pengangon bebek.

Jokowi telah melepas anak panah dari busurnya dan sudah menancap di uluh hati politisi “sontoloyo”. Kita tinggal menunggu, bagaimana masyarakat Indonesia dapat memberi apresiasi setingginya terhadap keberadaan para politisi “sontoloyo”, agar ruang geraknya semakin menyempit dan kehilangan tempat di hati masyarakat Indonesia.

Semoga…!!!

 

Penulis wartawan Bumantaranews.com