Almarhum semasa hidup.

Oleh Rakyat Asril

AKU awali saja dari kali pertama menjadi reporter Harian Orbit, 19 Januari 2010. Berstatus stringer dan tanpa pengalaman, tentu aku harus mencari cara agar mampu mendapat berita yang layak untuk kemudian ku serahkan ke redaktur saat itu, M Faisal Tampubolon.

Beruntung, ada beberapa senior yang ngajak tandem liputan sembari dia minta bonceng naik kereta (sepeda motor) ku.

Singkat cerita, oleh senior itu aku sering diajak ngopi dan makan siang di Warung Aspar Jl Kartini, Kota Medan. Yakni warung sebelah kantor Gubsu yang jadi tempat nongkrong dan ngutang beberapa wartawan yang bertugas di kantor pemerintahan tersebut.

Di warung atas parit itu aku mengenal beberapa wartawan handal dan punggawa LSM seperti Aktivis Barapaksi Otti S Batubara serta LSM Suara Proletar Ridwanto Simanjuntak. Kadang-kadang, seingat ku Direktur Letras Hendriko Damar juga muncul di situ.

Hingga sekira pertengahan 2012 ketika sudah ditugaskan menjadi asisten redaktur, aku jarang lagi ke warung yang dikomandoi Sofyan alias Bang Adek serta Dodi Jahanam yang baik hati itu.

Di tahun-tahun itu aku lebih memilih ‘rajin’ ngantor ketimbang menambah utang di warung Aspar. Untuk urusan liputan di Kantor Gubsu, sudah ada reporter handal Harian Orbit, Edison Tamba.

Tapi kemudian, sekira Februari 2014 sebelum pencoblosan Pilpres, aku memulai lagi ngopi di warung atas parit pinggir jalan tersebut.

Tak banyak berubah, dedengkot LSM masih sering berdiskusi di situ. Hanya saja para wartawan yang nge-pos di Kantor Gubsu sepenglihatan ku sudah silih berganti. Sepenglihatan ku.

Di antara beberapa wartawan handal itu ada Fakhrur Rozi (saat itu Koran Sindo), Feriansyah Nst (Tribun Medan), Damai Mendrofa (Aktual.co saat itu), Irfan Azmi Silalahi (Tribun Medan), M Nanda OC (saat itu Harian Mandiri), Pran Hasibuan (Sumut Pos), Samuel Nababan, Azmi Sitanggang (saat itu Batakpos) dan Doddy Franky Ismana (Sumut 24).

Nama terakhir, awalnya ku kira dia adalah mantan aparat yang ‘terjun’ ke dunia jurnalistik praktis, seperti seorang mantan tentara yang jadi wartawan kami di salahsatu kabupaten saat itu.

Perawakannya garang, suara keras, rambut cepak, pakai sepatu kets plus jaket kulit warna hitam yang sering dikenakannya.

Perkiraan ku diperkuat karena saat itu kebanyakan kawan-kawan menyapanya dengan panggilan ‘Pak Kombes’.

Namun setelah lama-kelamaan, tentu saja aku salah. Panggilan Kombes itu karena Doddy lama bertugas meliput di Mapolda Sumut dan handal membobol berita-berita yang tak didapat wartawan lain.

Sampai akhirnya kami, bersama wartawan-wartawan handal yang ku sebutkan tadi plus ditambah nama wartawan senior Andi Nasution, mendirikan sebuah wadah yang diberi nama Medan Jurnalis Club (MJC). Sebuah gerakan pencerdasan dan sosial yang kadang-kadang membuat diskusi publik di Medan Club’.

Doddy Franki Ismana alias Pak Kombes termasuk salahsatu yang paling getol menyumbang saran tema ketika diskusi publik ingin dibuat.

Bersama Anggota DPRD Sumut Sutrisno Pangaribuan, Doddy pulalah yang terbilang aktif mendorong agar kursi kosong Wagubsu era Gubsu HT Erry Nuradi, diangkat sebagai tema diskusi publik.

Hingga akhirnya, diskusi terlaksana, MJC mendorong dan lewat paripurna DPRD Sumut mengesahkan Hj Nurhajizah Marpaung menjadi Wagub Sumut saat itu.

Namun kami-MJC-tiba-tiba dikejutkan dengan kabar buruk. Pada 22 Juni 2019 pukul 18.30 Wib, Doddy Pak Kombes meninggalkan kami lebih dulu menghadap Sang Pencipta. Pak Kombes menghembuskan nafas terakhir setelah tiga hari koma di RS Royal Prima Medan.

Edison Tamba dan Feriansyah Nst, dua Presidium MJC yang dikenal sangat dekat dengan almarhum menyebutkan, awalnya Pak Kombes dilarikan ke RS Sembiring pada Ramadhan kemarin karena terjatuh. Jelang lebaran 1440 H itu, Pak Kombes pun sudah sembuh dan diperbolehkan pulang.

Namun, pada 19 Juni 2019 jelang tengah malam Pak Kombes kembali harus dilarikan ke RS Sembiring Delitua. Tapi karena alasan penting, Pak Kombes dipindah ke RS Royal Prima Medan 20 Juni 2019 dini harinya.

Kami-MJC-sempat menjenguk. Tapi Sabtu 22 Juni 2019 jelang Magrib, Allah SWT rupanya punya rencana lain buat Pak Kombes. Di usianya ke-48 tahun, Abang ini meninggalkan kami dengan kumpulan kenangan, canda-tawa, kopi Bang Adek dan telor jahanam-nya Warung Nasi Dodi.

Jelas kami kehilangan. Tapi kami akan berusaha menghidupkan lagi memori itu, mungkin dengan secangkir kopi, atau melalui sebuah diskusi. Mengheningkan cipta, lalu kami bahas persoalan publik yang selama ini pernah membelenggu kepedulian mu.

Selamat jalan, Pak Kombes.
Kami semua menyayangi mu.
Insha Allah Husnul Khatimah. Amin

Penulis adalah Presidium Medan Jurnalis Club

Jalan H Manaf Lubis (Gaperta Ujung), Kelurahan Kelurahan Tanjunggusta,Kecamatan Medan Helvetia, Kota Medan

No Telephone : 0877-6822-1959 | 061-8441466

Copyright © 2017 Bumantaranews.com, powered by Mahapalamultimedia

To Top