Wagubsu Jawab Keluhan Petani Soal Waduk Perupuk

by -3 views

Batubara-Bumantara: Wakil Gubernur Sumatera Utara Musa Rajekshah meninjau Waduk Perupuk di Desa Perupuk, Kecamatan Limapuluh, Kabupaten Batubara, Jumat (28/6).

Hal ini berkaitan dengan keluhan para petani di tiga desa di Kabupaten Batubara. Wagub bertemu langsung dan mendengar keluhan mereka.

Para petani khawatir terhadap air laut yang tidak terbendung lagi oleh Waduk Perupuk, yang dapat merusak lahan pertanian mereka.

“Kami mendengar keluhan dari masyarakat soal ini. Maka saya berjanji untuk langsung meninjau ini. Setelah melihat, ternyata ini masih ranahnya pemerintah kabupaten,” ucap Wagub usai meninjau Waduk Perupuk bersama Plt Kepala Dinas Sumber Daya Air, Cipta Karya dan Tata Ruang Sumut Zonny Waldi, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sumut Baharuddin Siagian dan rombongan.

Wakil Gubernur mengatakan, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Bupati Batubara untuk mengatasi masalah tersebut. Jika anggaran Pemkab cukup, maka perbaikannya diserahkan ke kabupaten. Jika anggaran  kabupaten tidak mencukupi, maka akan ada bantuan dari Pemprov Sumut ke Kabupaten Batubara agar bisa melakukan perbaikan.

“Intinya secepat mungkin akan kita koordinasikan. Setelah itu kita bahas bagaimana untuk perbaikannya,” ucapnya.

Kepala Bidang Perairan Dinas Tarukim Kabupaten Batubara Setiawan mengatakan, sebenarnya untuk jarak 5 km, 1.623 hektare lahan petani yang ada di tiga desa yakni Desa Perupuk, Pematang Panjang dan Desa Bulan-bulan, masih aman.

Yang dikhawatirkan petani saat ini adalah pintu klep dari waduk yang mulai rusak, dan ini dapat merusak sekitar 1.623 hektare lahan petani, mulai dari petani padi, sawit dan lainnya.

“Ini dibangun pada tahun 2004, dan saat itu masih Kabupaten Asahan. Setelah pemekaran, ini jadi kewenangan Kabupaten Batubara,” ujar Setiawan, seraya  mengatakan bahwa aliran tersebut merupakan pembuangan dari beberapa perusahaan di sekitar desa tersebut.

“Pada awalnya pembangunan waduk hanya untuk mengemplang air saja. Tidak terpikir dahulu untuk membangun permanen. Karena pintu dari kayu, maka pintunya cepat rusak,” ujar Setiawan lebih lanjut.

Salah seorang petani Zainudin, yang ikut mengawasi waduk tersebut sangat khawatir jika debit air laut naik, maka tanaman yang ada akan rusak.

“Maka kita sangat berharap ada perbaikan pintu klep ini oleh pemerintah agar lahan kami tidak rusak,” ungkap petani padi tersebut.

Reporter: Otti S Batubara
Editor: Rakyat Asril

Leave a Reply