Dari Talkshow RRI: Kota Medan, Membangun dengan Menghancurkan

by -9 views

Medan-Bumantara: Jelang peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Jumat (16/8/2019) malam, RRI Medan menyiarkan talkshow berkaitan sejarah Pertempuran Medan Area.

Ada dua narasumber dihadirkan dalam talkshow dipandu penyiar Hasma Lubis itu. Yakni Dr Suprayitno MHum Sejarawan USU dan Dr Edy Ikhsan SH MA Antropolog USU. Lalu, bagaimana nilai-nilai history itu jika dikaitkan dengan pembangunan di Kota Medan?

Dr Suprayitno mengurai sejarah Perang Medan Area yang dimulai 9 Oktober 1945 hingga Juli 1946 sebelum Agresi Militer Belanda I.

“Sebelum 14 Agustus 1945 NICA membonceng Belanda untuk menyiapkan kedatangan ke Indonesia mengambilalih pemerintahan dari tangan Jepang,” kata Suprayitno.

Kedatangan tentara sekutu dan NICA ternyata memancing berbagai insiden terjadi di Markas NICA yang terletak di Jalan Bali, Kota Medan pada 13 Oktober 1945.

Saat itu, seorang penghuni merampas dan menginjak-injak lencana merah putih yang dipakai pemuda Indonesia. Hal ini mengundang kemarahan pemuda Indonesia dan menggempur markas yang pasca perang dijadikan hotel di kawasan Sambu tersebut. Perang Medan Area ini dipimpin Ahmad Tahir dari pihak Indonesia.

“Sekarang hotel bekas markas itu sudah tak ada lagi. Padahal ini peninggalan sejarah,” kata Suprayitno.

Dari gempuran itu, merembetlah ke pertempuran lainnya. Di antaranya daerah Brayan hingga Helvetia yang dikomandoi Kolonel Bejo menyerang stasiun kereta.

“Jadi bukan hanya di Surabaya saja, di Medan Area peperangan juga terjadi,” kata Suprayitno.

Suprayitno menegaskan sebelum Jepang menyerah ternyata Belanda sudah sedari awal ingin mengambilalih pemerintahan di Indonesia.

“Pada 10 Oktober Belanda dipimpin Ted Kelly mendarat di Belawan memulai Perang Medan Utara. Sedangkan Mayjen Chember mendarat di sejumlah titik di Sumatera Utara untuk mengamankan Pulau Sumatera. Jadi siasat mereka sudah jauh-jauh hari memang,” kata Suprayitno.

Bahkan di Medan, Belanda membuat sendiri batas wilayah Medan yang memprovokasi rakyat. Belanda menyebar berita bohong (hoax) untuk memecah-belah rakyat dari pasukan yang satu ke pasukan lainnya.

“Tujuannya agar dunia menilai bahwa Indonesia tidak bisa mengatur negaranya yang baru merdeka. Untuk kemudian Belanda dengan mudah mengambilalih kekuasaan,” urai Suprayitno.

Pertempuran itu meninggalkan jejak-jejak sejarah. Namun sayang, tidak sedikit yang tak terawat dan bahkan hilang ditelan pembangunan.

Menyikapi ini, Dr Edy Ikhsan menilai ada kesedihan mendalam ketika mengetahui bahwa banyak situs sejarah di Medan ini yang kondisinya memprihatinkan.

“Kalau kita bicara Tugu Apolo misalnya. Ini monumen perlawanan rakyat Medan yang sama besarnya dengan Bung Tomo di Surabaya. Namun kita lihat bersama-sama apa yang terjadi di tugu Apolo Jalan Sutomo Medan itu,” kata Edy Ikhsan.

Kondisi di sana tidak menunjukkan kesadaran sejarah terhadap apa yang sudah diperjuangkan laskar TKR serta pengorbanan anak istri mereka.

Menurut Edy Ikhsan, sebenarnya kawasan Medan ini bisa disebut history of city atau kota sejarah.

“Medan gak ada yang kurang dengan sejarah dan nilai-nilainya. Di sekitar lapangan benteng ada markas Belanda yang kini hilang. Disebut Lapangan benteng karena itu dulunya di sekitar sana banyak markas Belanda yang dijadikan benteng pertahanan mereka. Begitu juga dengan Lapangan Merdeka Medan dengan monumen Tamiang nya. Entah ke mana sekarang monumen itu,” urai Edy Ikhsan.

Jadi, sambung Edy Ikhsan, memang ada sebuah keadaan yang sangat menyedihkan untuk membuat kota ini tidak lagi memiliki identitas.

“Dan juga menyakitkan bagi keluarga pejuang, berarti tidak ada yang bertanggungjawab dengan jejak-jejak sejarah itu,” ujar Edy Ikhsan.

Lantas siapa yang bertanggungjawab dengan kondisi seperti ini?

“Sebenarnya kewenangan pemerintah memiliki tanggungjawab yang lebih besar. Dimana-mana kota di dunia itu historycal backgorund dari kehadiran kota itu menjadi dibanggakan. Tapi coba kita tanya kembali ke anak-anak Medan apakah tau sejarah Kota Medan?” ujar Edy Ikhsan.

Menurut Edy lagi, sebenarnya hal itu berkaitan dengan pendidikan sejarah.

“Tapi kan praktik-praktik kongkrit dari pemerintah harus nyata di sekolah diajarkan sejarah teori supaya anak-anak itu paham. Jadi guru-gurunya mau lihat napak tilas sehingga masih ada bukti (sejarah),” ujar Edy.

Penelepon on air pertama, Hutagalung menyinggung pembangunan Kota Medan yang menghancurkan sejarah kota itu sendiri.

Menyikapi itu, Edy Ikhsan menyinggung tanggungjawab Pemko Medan terhadap konsep pembangunan yang kerap menghancurkan jejak sejarah.

“Seharusnya kota itu diletakkan sebuah ruang hidup yang nyaman tanpa melupakan sejarahnya. Itu kan kewenangan pemerintah, harus ada standing izinnya dan sebagainya siapa yang memberi izin itu kalau tidak pemerintah,” ujar Edy Ikhsan.

Edy membayangkan jika bangunan sejarah itu masih ada, betapa kekayaan Kota Medan itu sangat luar biasa.

“Betapa kayanya kita dengan jejak sejarah di Medan ini. Tapi saya selalu bertanya mengapa kita membangun tetapi menghancurkan?” tukas Edy Ikhsan.

Editor: Rakyat Asril

Leave a Reply