Penahanan Calo CPNS di Palas Ditangguhkan

PALAS, bumantaranews.com – Sri Dina Waty (51), wanita terduga calo CPNS yang ditahan Polres Palas seminggu lalu, kini sudah dilepas. Setelah sempat ditahan lebih kurang seminggu, penahanannya ditangguhkan pihak keluarga.
Kabar dilepasnya wanita yang berprofesi honor Tata Usaha di SMKN 1 Barumun ini dibenarkan Kapolres Palas AKBP Jarot Yusviq Andito, Selasa (10/8).
Melalui hubungan telepon seluler, Kapolres menyebutkan penahanan terhadap tersangka calo CPNS ini telah ditangguhkan pihak keluarga.

Meski demikian, proses hukum kasus penipuan dan penggelapan tersebut masih berjalan. “Ya (dilepas, red), ditangguhkan pihak keluarga. Tapi kasusnya tetap berjalan proses kok,” ungkap AKBP Jarot.

Sebelumnya diberitakan, Polres Palas melakukan penahanan terhadap Sri Dina Waty (51), atas dugaan tindakan penipuan. Oknum tata usaha di SMKN 1 Barumun ini ditahan sejak Sabtu (31/7) lalu sekira pukul 13.00 WIB.

Informasi yang diterima tersangka diduga melakukan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan sebagaimana dimaksud dalam unsur uraian pasal 378 dan atau pasal 372 dari KUHPidana. Penahanan terhadap wanita ini juga berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/86/IlI/2021/SPKT/PALAS/SU, tanggal 22 Maret 2021 lalu, yang dilaporkan Aldi Amron Martua Nasution (33) yang beralamat di jalan karya nomor 34 lingkungan VI Medan Kelurahan Sei agul kecamatan Medan barat kota medan.

Penahanan terhadap Sri Dina Waty, membuka kembali persoalan pengangkatan CPNS Kategori II pada Pemkab Palas 2013 lalu. Yakni dengan modus bisa mengurus pelapor lolos jadi CPNS, oknum tata usaha yang berstatus honor ini meminta uang.

Dari keterangan polisi, aksi penipuan ini terjadi pada 14 November 2013 lalu. Saat itu tersangka Sri Dina Waty mendatangi almarhumah Hj Mintana Marida Hasibuan. Disitu tersangka menjanjikan bisa mengurus pelapor untuk menjadi ASN pada penerimaan CPNS tahun 2013 di Kabupaten Padang Lawas. Tentunya dengan syarat, membayar Rp150 juta.

Meski pelapor mengikuti tes, dan ternyata pelapor dinyatakan tidak lulus menjadi ASN.

Dan kemudian pada 18 Maret 2014, tersangka kembali mendatangi almarhumah Hj Mintana Marida Hasibuan, yang merupakan ibunda pelapor. Dan kembali menjanjikan bisa memasukkan pelapor untuk menjadi ASN dengan cara menyisipkan pada penerimaan CPNS tahun 2016.

Lagi-lagi dengan pelicin, membayar Rp50 juta. Namun tetap tidak juga diangkat PNS hingga saat ini.

“Sampai dengan saat sekarang ini pelapor belum juga diangkat menjadi ASN, dan total uang yang diterima oleh tersangka sebesar Rp200 juta,” sebut Kapolres Palas AKBP Jarot Yusviq Andito melalui Kasat Reskrim AKP Aman Putra SH.

Dan dari hasil pemeriksaan polisi, tersangka mengakui perbuatannya telah melakukan dugaan tindak pidana penipuan dan atau penggelapan di Jalan profesor HM Yamin nomor 34 A Sibuhuan Kecamatan Barumun.

Sementara itu, Kepala SMKN 1 Barumun H Mukmin Saiful Daulay membenarkan bahwa Sri Dina Waty merupakan petugas tata usaha di sekolah tersebut. Statusnya sejak lama masih honor.

Perihal penahanan terhadap oknum tata usaha SMKN 1 Barumun ini, kepala sekolah belum mengetahui hingga berita ini dibuat. Hanya saja, tersangka sempat bercerita persoalan ini jauh sebelumnya.

“Kalau penahanannya saya tidak tahu, cuma kasusnya ini dia pernah cerita,” kata H Mukmin. (tan)