Kejar Vaksinasi Covid-19 Selesai Januari 2022

JAKARTA, bumantaranews.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan vaksinasi Covid-19 dapat diselesaikan dalam kurun waktu 12 bulan, terhitung sejak 13 Januari 2021. Tanggal itu merupakan hari pertama program vaksinasi Covid-19 dimulai.

“Kita diminta selesai dalam 12 bulan, kita mulainya kalau enggak salah 13 Januari, jadi kita ngejar targetnya jadi Januari tahun depan, kita harapkan semuanya selesai,” kata Budi dalam konferensi pers melalui kanal YouTube Kemenkes RI, Selasa (24/8).

Budi mengatakan, vaksinasi Covid-19 mencapai 50 juta suntikan pertama pada 8 Juli yang lalu atau membutuhkan 26 pekan. Untuk itu, ia menargetkan, dalam kurun waktu tujuh pekan ke depan, capaian vaksinasi Covid-19 mencapai 50 juta berikutnya. Dengan catatan, laju percepatan vaksinasi per hari mencapai 1,4 juta suntikan per hari.

“Syukur-syukur bisa empat minggu, jadi kalau 50 juta butuhnya empat minggu, satu bulan akhirnya kita nyuntiknya 1,3 sampai 1,4 juta per hari supaya dapat empat minggu, tapi kalau kita bisa dapat empat minggu 50 juta, sekarang kan 100 juta di Agustus,” ujarnya.

Lebih lanjut, Budi mengatakan, hingga akhir tahun 2021 terdapat empat bulan untuk mempercepat pelaksanaan vaksinasi dengan target vaksinasi mencapai 200 juta.

“Kita ada September, Oktober, November, Desember itu kan ada 4 bulan, kalau 4 bulan itu kita bisa capai rata-rata sebulan 50 juta, kita bisa dapat 200 juta,” pungkasnya.

Sebelumnya, Budi mengungkapkan, Presiden Joko Widodo memberikannya target agar dalam kurun waktu tujuh pekan, vaksinasi dapat mencapai 50 juta suntikan.

“Nah saya dikasih target dari pak Presiden (Jokowi) dan Menko (Luhut Binsar Pandjaitan) jangan 27 minggu, berikutnya bisa enggak 7 minggu mencapai 50 juta berikutnya, sehingga kita sedang bekerja keras supaya kita bisa mencapai 100 juta di akhir bulan ini,” kata Budi, Senin (16/8).

Budi juga mengimbau pemerintah daerah tidak perlu menyetok vaksin Covid-19 yang sudah tiba di daerahnya. Budi menegaskan, atas arahan Presiden Joko Widodo, setiap vaksin yang tiba di daerah harus langsung dipakai sesuai ketentuan dari pemerintah pusat.

“Daerah tidak perlu memegang stok karena nanti akan diatur suntikan keduanya dari pusat. Jadi pakai aja semuanya disuntik sesuai dengan aturan,” kata Budi.

Budi mendapat kabar belakangan ini ada sejumlah daerah yang merasa kekurangan vaksin Covid-19. Menurut dia, hal itu terjadi karena ada daerah yang menyetok suplai vaksin yang ada di daerah. Ia menyebut, saat daerah mendapat stok 1.000 dosis vaksin untuk suntikan dosis pertama, pemda setempat hanya menyuntikkan sebanyak 500 dosis. Sedangkan, sisanya disimpan untuk penyuntikan dosis kedua.

Padahal, ia menegaskan, seharusnya daerah tidak perlu menyetok vaksin untuk penyuntikan dosis kedua. Ia pun meminta pemda mematuhi arahan pemerintah pusat dalam hal menyuntikkan vaksin. Budi pun menekankan, manajemen stok vaksin Covid-19 sudah diatur pemerintah pusat.

“Jadi kalau kita bisa bilang, ini sebagai suntikan 1, lakukan sebagai suntikan 1 semuanya. Kalau ini sebagai suntikan kedua, lakukan sebagai suntikan kedua semuanya. Manajemen stoknya dilakukan di pusat sehingga tidak dilakukan di daerah,” tegasnya.

Lebih lanjut, Budi memastikan stok vaksin Covid-19 di Tanah Air masih banyak. Ia memaparkan, pada pekan keempat bulan Agustus, Indonesia akan mendapatkan sekitar 19.550.900 dosis vaksin. Pekan kelima bulan ini akan mendapatkan 13.865.860 dosis vaksin. Bahkan, di bulan September, Indonesia juga direncanakan mendapat sekitar 80.717.720 dosis vaksin Covid-19.

“Oleh karena itu rakyat Indonesia, pemerintahan daerah, nggak usah khawatir. Kita pasti akan kirimkan cukup banyak ke daerah-daerah minggu ini dan minggu depan,” ungkap dia. (net)