Kadistan dan Koperasi Tidak Hadir, Gubsu Edy Marah

SIANTAR, bumantaranews.com – Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi marah ketika Kepala Dinas Pertanian Dan Kepala Dinas Koperasi Kota Pematangsiantar tidak hadir dalam kunjungannya ke Siantar, Selasa (21/9/2021).

Gubsu meminta Ketua DPRD Kota Pematangsiantar, Timbul Marganda Lingga, untuk memeriksa kedua kadis tersebut.

Hal itu dikatakan langsung oleh Gubernur Sumut Edy Rahmayani saat melakukan kunjungan kerja ke rumah dinas walikota Siantar yang dihadiri oleh Walikota dan Wakil walikota, Kejari Siantar, Kapolres, Dandim, Para Kadis, Camat dan lurah sekota siantar.

Ditengah tengah acara tersebut, Gubernur Sumut memanggil satu-persatu Kepala Dinas, Camat dan lurah setempat. Namun saat itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Pertanian Ali Akbar dan Kepala Dinas Koperasi yang dijabat oleh Jadimpan Pasaribu tidak hadir.

“Mana kepala dinas pertanian, akan saya kupas kepalanya tidak datang dia. Kepala dinas koperasi tidak aja juga, ini tidak jelas. Pak ketua DPRD, persoalkan ini,” tegas Edy.

Edy Rahmayani juga menyebutkan dirinya merupakan perwakilan pemerintah Pusat untuk daerah Sumatera Utara.

“Jadi saya punya wewenang ini. Jangan mentang-mentang gubernur, gubernur tidak ada apa-apanya. Nanti capek kau saya buat,” tegas Edy Rahmayani.

Sementara itu PJ Sekda Kota Pematangsiantar, Jubaidi saat diwawancarai wartawan menyebut yang bersangkutan telah hadir sejak pagi.

Dalam kesempatan itu Gubernur Edy menjelaskan, tiga tahun menjabat Gubernur Sumatera Utara, beberapa komoditas tanaman kebutuhan pokok mengalami pertumbuhan, terutama bawang merah dari yang 21 persen kini mencapai 64 persen.

“Beras kita surplus, cabai merah surplus, cabai rawit surplus, daging ayam ok, telur ayam oke. Kemudian gula sedang dalam pembuatan pabrik di Langkat. Kemudian bawang putih masih sulit. Setiap tahun masih import dari Singapura, padahal tanahnya tak ada,” kata Edy.

Sementara, khusus di Siantar, kebutuhan pokok memiliki rapor merah. Cabai defisit 100 persen, bawang merah defisit 100 persen, bawang merah defisit 100 persen, bawang putih defisit 100 persen dan kentang defisit 100 persen. Hanya Beras yang tercapai 30 persen, dan jagung surplus 100 persen. (mat/int)