Gempa M 4,5 Kagetkan Warga Tapsel: Lalo… Ro Lalo!

TAPSEL, bumantaranews.com – Guncangan gempa mengayun di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, terutama Kecamatan Sipirok. Wargapun sempat kaget dengan guncangan gempa itu.

“Lalo, lalo, ro lalo, (gempa, gempa datang gempa) teriak Sinandean (65) salah seorang warga sambil beranjak dari tempat duduknya saat mengikuti makan bersama di salah satu acara.

Amatan wartawan, walau sempat kaget, namun warga tak panik dengan situasi itu. Sebab menurut warga, ayunan gempa tidak begitu kencang. Selanjutnya wargapun kembali melanjutkan aktivitas masing-masing.

Warga lain, Ali Siregar (60) mengutarakan, datangnya gempa bagi warga di wilayah Sipirok, dari dulu selalu diyakini, menjadi suatu pertanda bakal terjadinya perubahan cuaca. Contohnya, jika selama ini sedang musim hujan, maka dengan datangnya gempa diyakini akan berganti jadi cerah atau kemarau. “Biasanya seperti itu dari dulu,” ucapnya

Sebelumnya BMKG mengumumkan gempa dengan magnitudo (M) 4,5 terjadi di Tapanuli Selatan, Selasa (28/9). Tak ada peringatan potensi tsunami akibat gempa ini.

Dilihat dari situs BMKG, gempa ini terjadi pada pukul 13.53 WIB. Pusat gempa berada pada kedalaman 3 km. Gempa terjadi di koordinat 1,69 LU-99,15 BT. “Pusat gempa berada di darat 17 km Barat Laut Tapanuli Selatan,” tulis BMKG.

Gempa dirasakan pada skala MMI II-III di Tapanuli Selatan. Skala Mercalli atau MMI adalah satuan untuk mengukur kekuatan gempa bumi.
Makin besar skala MMI, makin kuat gempa dirasakan. Belum ada laporan soal kerusakan akibat gempa.

Sekolah Lapang Gempabumi

Di sisi lain, Stasiun Geofisika Kelas I Deli Serdang melaksanakan Sekolah Lapang Gempabumi (SLG) di Kantor Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) di Sipirok. Kegiatan diikuti masyarakat sekitar, stakeholder dari TNI/Polri, RRI, dan BPBD Wilayah setempat.

“Tujuan kegiatan SLG untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat sekitar tentang apa itu gempabumi dan tsunami,” Kepala Stasiun Geofisika Kelas I, Deli Serdang Agus Rianto dalam keterangannya, Selasa (28/9).

Kegiatan yang berlangsung dua hari ini dibuka langsung Bupati Tapsel Dolly P Pasaribu didampingi Kepala Balai Besar MKG Wilayah I Medan Hartanto secara luring dan Deputi Bidang Geofisika Muhammad Sadly, Komisi V DPR RI Jhoni Allen Marbun, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami Bambang Setiyo Prayitno secara daring.

Dikatakan, Bupati Tapsel dalam sambutannya mengatakan mengapresiasi dan berterimakasih atas kepada BMKG yang telah melaksanakan kegiatan SLG di wilayah kerjanya Tapsel. Alasannya pemahaman masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terkait gempabumi dan tsunami diberikan BMKG semakin bertambah.

Sementara Deputi Bidang Geofisika Muhammad Sadly secara daring menjelaskan, BMKG berperan penting dalam penyebaran informasi gempabumi dan info dini tsunami melalui Ina-TEWS.

“SLG ini salah satu kegiatan yang mendorong pembentukan desa atau komunitas siaga gempabumi dan tsunami berdasarkan 12 indikator yang sudah ditentukan oleh IOC-UNESCO,” jelasnya seraya mendorong pemerintah daerah untuk melakukan simulasi gempabumi dan tsunami di lingkungan masyarakat secara berkelanjutan.

Dalam kesempatan sambutannya, Jhonni Alen Marbun secara daring mengatakan, kesiapsiagaan masyarakat akan memberikan dampak yang signifikan untuk mengurangi dampak risiko bencana gempabumi dan tsunami khususnya di Tapsel.

“Karenanya saya mendorong peserta yang dilatih dapat menjadi perpanjangan tangan kepada masyarakat sekitar untuk mengenal potensi gempabumi dan tsunami di daerah sekitar,” harapnya.

Sementara Dr Daryono yang menjadi narasumber dari Pusat Gempa bumi Nasional (PGN) menjelaskan bahwa Tapanuli Selatan merupakan wilayah yang berpotensi gempabumi yang diakibatkan aktivitas, Zona Megathrust, patahan Sumatera, zona outerise dan patahan lokal seperti Toru, Angkola dan Barumun.
“Aktivitas gempabumi yang terjadi di Tapsel dapat memberikan dapak yang merusak dan signifikan, untuk itu diperlukan pemahaman masyarakat terhadap potensi gempa yang terjadi untuk mengurangi dam[pak kerusakan dan korbannya,” harapnya.

Marzuki Sinambela dalam pendampingan kegiatan SLG ini menjelaskan kesadaran masyarakat lokal di Kabupaten Tapanuli Selatan akan memberikan dampak positif terhadap mitigasi bencana gempabumi dan tsunami.

“Pelatihan SLG ini tidak hanya menghasilkan sadar budaya bencana tapi menghasilkan pembentukan komunitas atau desa siaga gempabumi dan tsunami yang juga dilengkapi dengan tas siaga gempa,” pungkasnya. (dc/ant/int)