Urip Murtedjo, Dokter yang Mengumpulkan Ragam Kenangan FK Unair 1970

Cerita saat menjalani dokter instruksi presiden (inpres) itu kini telah abadi. Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) angkatan 1970 mengukuhkan cerita mereka dalam sebuah buku. Mereka menyebutnya Buku Kenangan. Dibutuhkan waktu hampir dua tahun agar buku itu rampung.

GALIH ADI PRASETYO, Surabaya

MERAWAT kenangan, membagikan cerita kepada khalayak luas agar memori itu tidak terhapus termakan umur. Itulah yang menjadi cita-cita Dr Urip Murtedjo SpB(K)KL PGD Pal-med agar kisah mereka saat menjalani dokter inpres tetap utuh. Dia bersama alumni FK Unair angkatan 1970 membukukan cerita itu agar menjadi inspirasi dan pengetahuan untuk yang lain.

Buku Kenangan itu digagas Urip bersama koleganya yang lain. Program dokter inpres merupakan ide awal yang muncul untuk merealisasikan karya tersebut. Apalagi program itu hanya ada saat zaman Urip dan 120 alumnus FK Unair 1970 menempuh studi kedokteran. Akhirnya, awal pandemi Covid-19 pada 2020 menandai dimulainya proyek itu.

Urip menjadi ketua tim pengumpulan cerita. Dibantu dr Abu Rohiman MS SpMK(K) yang juga menjabat ketua alumni FK Unair angkatan 1970.

”Program dokter inpres mewajibkan kita untuk mengabdi ke daerah pelosok selama tiga tahun. Kalau belum menjalani program itu, tidak bisa meneruskan ke jenjang berikutnya,’’ kenang Urip saat ditemui di kediamannya di kawasan Semolowaru.

Penugasan mulai dari Sumatera hingga Papua dialami masing-masing alumnus FK. Berbagai cerita senang, sedih, hingga susah muncul selama mereka mengabdikan diri di sana. Merasakan bagaimana sosok mereka menjadi tumpuan harapan kesehatan masyarakat.

Urip mengatakan, mereka ditempatkan di puskesmas yang berlokasi di masing-masing daerah. Jangan bayangkan puskesmas itu seperti sekarang. Kondisinya jauh berbeda dengan akses yang serba terbatas.

”Ada 70 dokter yang menceritakan kisah mereka dan dimuat di buku tersebut. Bukan perkara mudah mewujudkan buku ini. Butuh dua tahun untuk mengumpulkan cerita-cerita itu,’’ ujar pria kelahiran Surabaya tersebut.

Tidak mudah bisa mengumpulkan kembali serpihan alumni yang tersebar di berbagai daerah. Belum lagi kehilangan jejak seperti nomor telepon.

”Tetapi, saat saya utarakan gagasan saya untuk membuat buku kenangan ini, luar biasa sambutannya. Senang mereka dan mau berpartisipasi. Akhirnya, siapa yang mau bisa mengirimkan karyanya,’’ ujar Urip. Total ada 70 cerita yang terkumpul. Sekelumit kisah mereka ditorehkan dalam tulisan. Urip pun tidak membatasi seperti apa tulisan tersebut dan seberapa panjang.

Maklum saking lamanya, tentu ada sepenggal cerita yang sudah terlupakan. Bagi Urip, yang terpenting cerita itu bisa menginspirasi pembaca. Juga bahan nostalgia para pelakunya.

Bahkan, kisah itu menjadi kenangan kolega yang sudah tutup usia. Selama proses pengumpulan cerita hingga terbit. Ada tiga alumnus yang lebih dulu meninggal.

Nyatanya, buku itu turut mempererat hubungan antaralumnus. Bahkan, Urip menceritakan ada salah seorang teman yang rajin mengecek teman-temannya setiap hari. ”Jadi, bertanya itu di grup, kowe ijek urip opo ora,’’ ucap Urip diselingi tawa. (jp)