Guru Matematika SMP Ajarkan Perkalian Pakai Kartu Ponetif

KABANJAHE, bumantaranews.com – Pembelajaran Matematika sering menitikberatkan pada kemampuan berhitung. Cara ini kerab membuat siswa cenderung menghafal rumus dalam perhitungan, tanpa memahami konsep materi. Sebagai contoh, siswa menghafal perkalian bilangan, tetapi tidak memahami konsep perkalian itu sendiri.

Untuk menghindari hal tersebut, Totaria Simbolon, S.Pd, guru Matematika SMP N 3 Kabanjahe yang juga merupakan Fasilitator Daerah (Fasda) Tanoto Foundation, mencoba membelajarkan Matematika pada materi Perkalian Bilangan Bulat, dengan menggunakan kartu positif dan kartu negatif (Ponetif).

“Teknik ini saya gunakan agar siswa memahami konsep perkalian bilangan bulat dengan  mengalami (menggunakan media), dan mampu menyimpulkan bagaimana konsep perkalian bilangan bulat itu berlangsung,” kata Totaria kepada Sumut Pos, kemarin.

Pada pembelajaran dengan kartu ponetif ini, siswa melakukan aktifitas pembelajaran yang dipandu dengan lembar kerja yang sudah disiapkan guru. Pembelajaran dilakukan baik secara mandiri di rumah maupun Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas.

“Pada saat pembelajaran mandiri, siswa menyiapkan kartu positif dan kartu negatif sebanyak 50 buah. Selanjutnya menyelesaikan lembar kerja yang dikirmkan guru pada google classroom maupun WA group,” jelasnya.

Siswa diminta menempelkan kartu ponetif pada lembar kerja, yaitu perkalian 2 x 3 dengan menempelkan tiga buah kartu positif pada baris pertama. Kemudian menambahkan kembali tiga kartu positif pada baris kedua. Lalu menghitung semua kartu positif. “Itulah hasil dari perkalian 2 x 3,” katanya.

Untuk perkalian 3 x (-4), siswa menempelkan kartu negatif sebanyak empat buah pada baris pertama. Kemudian menambahkan empat kartu negatif pada baris kedua.

Untuk perkalian 3 x (-4), siswa menempelkan kartu negatif sebanyak empat buah pada baris pertama. Kemudian menambahkan empat kartu negatif pada baris kedua. Selanjutnya menambahkan kembali empat kartu negatif pada baris ketiga, lalu menghitung semua karu negatif yaitu sebanyak 12 kartu negatif (-12). “Itulah hasil perkalian dari 3 x (-4),” lanjutnya.

Untuk perkalian (-3) x (-4), siswa menempelkan empat buah kartu negatif pada baris pertama, empat kartu negatif pada baris kedua, dan menambahkan empat kartu negatif pada baris ketiga. Jika pengali bertanda negative, maka siswa membalikkan semua kartu. “Artinya, kartu negatif berubah menjadi kartu positif. Kemudian siswa menghitung semua kartu yang menjadi kartu positif, maka (-3) x (-4) adalah 12,” paparnya menjelaskan metode pembelajaran itu.

Untuk menyimpulkan bagaimana perkalian pada bilangan bulat, siswa diminta mengamati hasil kerjanya pada Lembar Kerja, dan menyimpulkan perkalian pada bilangan bulat. Di mana perkalian dua tanda yang sama adalah positif, dan perkalian bilangan berbeda tanda adalah negatif.

Untuk memantapkan pemahaman siswa saat belajar mandiri pada PTM terbatas, Totaria Simbolon meminta siswa mendiskusikan hasil lembar kerjanya secara berpasangan. Kemudian mempresentasikan hasil kerjanya. “Setelah semua memaparkan hasil kerjanya, saya memberikan penjelasan tentang perkalian bilangan bulat, untuk menambah pemahaman siswa,” katanya.

Menurut Totaria, elajar Matematika dengan teknik itu diikuti siswa dengan antusias. “Para siswa terlihat bersemangat, bahkan ketika diotanya tanggapannya,  siswa berkata, metode dengan kartu ponetif  lebih menyenangkan, bahkan membuat mereka mampu memahami konsep  perkalian pada bilangan bulat,” tutupnya. (tota/mea)