Aktivitas saat Natal & Tahun Baru akan Dikontrol

Cegah Gelombang Ketiga Covid-19

JAKARTA, bumantaranews.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pihaknya akan mengontrol aktivitas masyarakat selama hari raya Natal dan Tahun Baru dengan baik. Tujuannya, tidak terjadi lonjakan ketiga kasus Covid-19.

Budi mengatakan, berkaca dari pengalaman sebelumnya, lonjakan kasus Covid-19 biasanya terjadi setelah hari besar keagamaan.

“Jadi hari raya keagamaan besar akan terjadi lagi itu di Desember. Kalau kita bisa memastikan di Desember itu kita kontrol dengan baik, maka Januari dan Februari kita berhasil aman,” kata Budi dalam Seminar Sekolah Sespimti Polri Dikreg Ke-30 dan Sespimmen Polri Direg Ke-60 secara virtual, Rabu (6/10).

Ia mengatakan, jika lonjakan kasus Covid-19 tidak terjadi pasca Natal dan Tahun Baru, keinginan Presiden Joko Widodo untuk mengubah pandemi menjadi endemi bisa tercapai. Oleh karenanya, ia berharap seluruh pihak dapat bekerja sama untuk menekan kasus Covid-19 dengan mengurangi mobilitas.

“Karena mobilitas yang luar biasa nantinya akan menyebabkan lonjakan kasus,” ucapnya.

Lebih lanjut, Budi mengatakan, belum pernah dalam sejarah pandemi berakhir dengan cepat, paling cepat pandemi berakhir dalam kurun waktu 5-10 tahun. Oleh karenanya, kata dia, dalam penanganan pandemi Covid-19, targetnya bukan langsung menghilangkan virus Corona, melainkan menekan laju penularan virus.

“Seperti perang ini target operasinya cuma satu, bagaimana kita mengendalikan laju penularan, menekan penularan agar jumlah orang yang dirawat tidak lebih dari kapasitas RS kita,” ucap dia.

9.855 Orang di Daftar Hitam Masuk Mal

Budi Gunadi Sadikin juga mengungkapkan, masih banyak masyarakat yang masuk daftar hitam Covid-19 yang nekat beraktivitas di luar rumah. Daftar hitam merupakan istilah yang digunakan bagi mereka yang dinyatakan positif Covid-19 maupun memiliki kontak erat dengan pasien Covid-19.

Berdasarkan pelacakan yang dilakukan aplikasi PeduliLindungi, terdapat 9.855 orang yang masuk daftar hitam nekat masuk ke pusat perbelanjaan atau mal hingga kawasan industri.

“Ini kita sudah monitor dengan IT lihat untuk setiap aktivitas, di 6 aktivitas itu berapa yang daftar hitam (positif Covid-19), kita kaget juga ada orang yang sakit masih nyelonong masuk mal, masuk toko, pabrik pergudangan 1.000 orang,” kata Budi.

Budi menambahkan, temuan itu akan menjadi catatan pemerintah untuk memperbaiki sistem skrining di ruang publik terutama di enam aktivitas yaitu perdagangan, pariwisata, transportasi, pendidikan, perkantoran dan keagamaan.

“Ini harus paling dijaga, karena semua lonjakan kasus di kita terjadi sesudah acara keagamaan, bukan mingguan kita Jumat ke masjid, Minggu kita ke gereja bukan itu, tapi hari besarnya,” ujarnya.

Berdasarkan data Kemenkes 5 Oktober 2021 tercatat 9.855 orang teridentifikasi daftar hitam oleh PeduliLindungi dan masih berkeliaran di ruang publik. Dari jumlah tersebut, mereka paling banyak beraktivitas di mal yaitu 6.380 orang, dan sebanyak 1.068 orang di kawasan industri atau pabrik. (net)