Kejayaan Pergerakan Pemuda Tabagsel dari Era Pra Kemerdekaan

SIDIMPUAN, bumantaranews.com – Memperingati Sumpah Pemuda, Kamis (28/10), Bagas Godang Institute, bersama dengan KNPI serta HIPMI Padangsidimpuan dan organisasi mahasiswa dan kepemudaan, menggelar diskusi publik dalam mengkaji sejarah pergerakan pemuda Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel), jauh sebelum Indonesia merdeka. Dan itu diharapkan jadi pemantik bagi pemuda Tabagsel untuk berkolaborasi demi daerah dan bangsa.

Founder Bagas Godang Institute, Muhammad Iqbal Harahap MSi menuturkan, jauh pra kemerdekaan, banyak tokoh muda Tabagsel telah menjadi pionir, pendiri dan sebagai orang pertama yang memiliki karya di bidangnya. Namun kini, katanya, pergerakan pemuda Daerah Tabagsel ini seperti stagnan dan hanya bertahan di daerah. Untuk itu, perlu pengkajian ulang sejarah para tokoh bangsa yang berasal dari daerah ini.

“Kita pasti kenal Willem Iskander. Bapak Pendidikan Indonesia. Bahkan di Tahun 1800-an telah mendirikan sekolah guru untuk pribumi. Dia bahkan termasuk pribumi pertama yang bersekolah di Eropa. Masih banyak lagi tokoh lainnya dari Tabagsel yang berperan dalam pendirian Bangsa Indonesia,” ungkapnya, berharap diskusi tersebut dimanfaatkan masing-masing pemuda sebagai pemantik penggali potensi diri.

Narasumber sebagai pemantik dalam diskusi yang diikuti ratusan orang secara zoom dan puluhan lainnya secara langsung, ada Akhir Matua Harahap dan Baharuddin Aritonang.

Akhir Matua merupakan dosen di Universitas Indonesia yang mengggemari sejarah tokoh, daerah, peradaban ada asal usul di lima kabupaten kota di Tabagsel. Akhir Matua memiliki gudang tulisan sejarah yang bisa jadi referensi di blogspot pribadinya; akhirmh.blogspot.com , dengan sumber data primer, berbagai teks dan bahkan koran berbahasa Belanda.

Membuka pembicaraan sejarah, Akhir Matua bercerita bila di Tahun 1854, dua anak afdeling Angkola-Mandailing, Asta dan Angan telah menginjakkan kaki di Pulau Jawa dan menjadi mahasiswa kedokteran pertama dari luar pulau Jawa, di sekolah kedokteran yang didirikan pada tahun 1851, yang kelak berubah nama dan dikenal sebagai STOVIA. Lulus sekolah kedokteran, keduanya kemudian mengabdi di Angkola dan Mandailing.

Berselang 11 Tahun, tepatnya di Tahun 1862. Sutan Sati Iskandar atau kini dikenal sebagai Willem Iskander, telah mendirikan Kweekschool Tanobato, sekolah guru untuk pribumi. Dengan bantuan Asisten Residen, bernama Godon.

Di antara tahun itu, banyak perubahan administrasi dan pusat pemerintahan Hindia Belanda. Dan pada tahun 1879, sekolah guru terbaik se Hinda Belanda itu dipindah ke Padangsidimpuan, kota yang baru dibangun sebagai pusat Asisten Residen yang membawahi Angkola-Mandailing dan beberapa daerah lainnya.

Dari sana pula, banyak melahirkan tokoh-tokoh yang kelak bergerak di Batavia atau di Belanda dalam bidang pendidikan, kesehatan, guru, wartawan, dan termasuk dalam perumusan sumpah pemuda. Seperti Rajiun Harahap, gelar Sutan Kasayangan yang mendirikan Indische Vereeniging, kelak menjadi Perhimpunan Indonesia. Merupakan organisasi pertama mahasiswa Indonesia, dan didirikan di negeri Belanda. Bahkan sensus penduduk di Tahun 1920, jumlah orang Batak di tanah Jawa sebanyak 868 jiwa. Kebanyakan dari mereka berasal dari Afdeeling Padangsidimpuan.

Perihal sumpah pemuda, Akhir Matua menyebut kongres pemuda di Tahun 1928, pemuda tidak bersumpah melainkan deklarasi bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Pemuda baru bersumpah di Tahun 1953 dalam peringatan kongres di Tahun 1928 tersebut.

Sebelum kongres pemuda, ada namanya Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Dan kongres PPPKI 29 September 1928 yang diorganisir Parada Harahap menetapkan Dr Soetomo sebagai ketua.

Dan pada Kongres Pemuda di Batavia pada 28 Oktober 1928. Dr Soetomo memilih Soegondo sebagai Ketua, sementara Parada Harahap memilih M Jamin dari Sumateranen Bond sebagai Sekretaris dan Amir Sjarifoeddin Harahap dari Bataksche Bond sebagai bendahara. Keputusan Kongres ini menetapkan; bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu.

Parada Harahap merupakan wartawan, pimpinan media dan tokoh yang dihargai wartawan Indonesia. Ia juga mendirikan Akademi Wartawan. Kaitannya kelak dengan Sumpah Pemuda Tahun 1953, adalah Ali Mochtar Hutasuhut yang merupakan anak didik Parada Harahap. Sekaligus Ketua Dewan Mahasiswa Akademi Wartawan, yang merupakan ketua panitia Sumpah Pemuda 28 Oktober 1953 di Deca Park atau di kawasan Monas hari ini.

“Jadi pemuda baru bersumpah di Tahun 1953. Dan hasil ini pula dibawa oleh Soekarno sebagai presiden dan M Yamin dalam integrasi Indonesia,” jelas Akhir Matua.

Pemantik lainnya, Baharuddin Aritonang, merupakan tokoh asal Tabagsel yang pernah menjadi Ketua BPK-RI, Doktor Hukum Tata Negara dan juga penulis. Dalam diskusi ini, Baharuddin menyayangkan tidak hadirnya pemimpin daerah. Sepantasnya, kata dia, bupati atau walikota atau bawahannya mengambil manfaat dari diskusi-diskusi yang membangun seperti ini. Demi kemaslahatan daerah.

“Daripada memikirkan pemerakan daerah lebih baiklah memikirkan pusat kegiatan daerah, penelitian yang mudah, akses pendidikan dan diskusi seperti ini sebenarnya sangat berguna bagi daerah,” ungkapnya.

Dan satu yang disayangkannya. Daerah sama sekali seperti acuh pada catatan-catatan, atau teks sejarah tokoh-tokoh yang berasal dari daerah itu sendiri.

“Saya ingat, pernah membaca. Bila Timur Lang itu, dia berperang berdasarkan catatan-catatan pelancong sehingga mengetahui bagaimana keadaan daerah yang ingin diperanginya itu,” katanya beranalogi.

Terakhir, Baharuddin berpesan kepada pemuda di daerah khususnya di Kota Padangsidimpuan untuk jangan bergantung pada anggaran daerah. Gali potensi, tingkatkan diri dan untuk mencari hal-hal baru yang belum ada sebelumnya.

“Termasuk mungkin mengkaji ulang atau menguji kemungkinan lain dari pemaparan pak Akhir Matua tadi,” tandasnya. (san)