Sungai Musi, Harta Karun Sriwijaya, dan Jejak Peradaban Dunia

Berburu Artefak untuk Kolektor

Catatan perjalanan I Tsing pada abad ke-7 menempatkan Nusantara pada radar dunia. Ada Kerajaan Sriwijaya yang menjadi pusat penyebaran agama Buddha di sana. Seiring berjalannya waktu dan kian mendalamnya riset, Sriwijaya tidak hanya identik dengan kebuddhaan, tetapi juga pesatnya perniagaan dan majunya peradaban.

MATAHARI bersinar terik saat Sumatera Ekspres, Grup Jawa Pos, menelusuri Pulau Kemaro. Tujuannya adalah menemukan penyelam tradisional yang pernah mengangkat benda bersejarah dari dasar Sungai Musi. Kemaro terletak di delta sungai terpanjang di Pulau Sumatera tersebut. Tidak heran, mayoritas warganya adalah penyelam tradisional.

Pencarian terhenti di lingkungan RT 18, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Kota Palembang. Di sana, ada 14 kepala keluarga yang menggeluti usaha pencarian harta terpendam di dasar sungai. Salah satunya adalah Edi Tamrin. Pria 52 tahun itu sehari-hari bertani. Tapi, dia juga dikenal sebagai penyelam tradisional.

’’Jika tidak ada tanah waris keluarga, mungkin kami sudah tidak tinggal di pulau kecil ini. Tidak ada yang bisa diandalkan,’’ ungkap Edi pada Kamis (4/11) lalu.

Sama seperti warga yang lain, bapak empat anak tersebut memiliki perahu bermotor. Itu menjadi kendaraan utama untuk mendukung mobilitas penduduk Kemaro. Selain itu, perahu bermotor juga bisa disulap menjadi perahu wisata dan siap disewa para pelancong yang ingin menyusuri Musi atau melihat keindahan Jembatan Ampera dari atas permukaan air.

Perahu bermotor juga menjadi andalan saat Edi menjalani pekerjaannya sebagai penyelam tradisional. Meski menurunkan kemampuannya kepada anak-anaknya, dia menegaskan bahwa menyelami Musi bukanlah pekerjaan yang bisa menghidupi. Sebab, hasilnya tidak pasti.

Pada masa mudanya, Edi mendapatkan banyak barang berharga dari dasar Musi. Mulai keramik, piring kuno, guci, pot kembang, samurai, dan bahkan emas. Namun, sejak tiga tahun terakhir, dia jarang turun ke sungai.
’’Sudah tua. Tidak tahan lagi, Pak. Menyelam harus yang muda. Mereka kuat dan lebih gesit,” ungkapnya.

Harta paling berharga yang pernah Edi angkat dari dasar sungai adalah pot kembang. ’’Kata kolektor, itu pot kembang peninggalan Dinasti Ming. Jadi, dia sanggup membeli Rp 25 juta. Kalau kolektor jual ke luar, kita tidak tahu harganya. Karena memang warga sini hanya menjual kepada kolektor. Setelah dari kolektor putus,” terangnya.

Ada banyak kolektor yang berburu harta karun Sriwijaya. Umumnya, mereka memberikan panjar sekitar Rp 30 juta sampai Rp 50 juta. Begitu benda yang diinginkan terangkat dari sungai, kolektor akan melengkapi kekurangan pembayaran. Harganya ya para kolektor itu yang menetapkan.

Edi tidak pernah menyurvei pasar untuk menakar harga benda berharga yang dia temukan. Dia menurut saja pada harga yang diberikan para kolektor dan tidak berusaha mencari pembeli dengan harga lebih mahal. ’’Tapi kalu kito lah dienjuk modal, dak mungkin kito nak jual dengan wong lain. Kito nih wong Melayu, Pak. Punyo hati. Dak mungkin kito khianat dengan wong yang sudah modali kito,” jelasnya.

Cerita senada dipaparkan Hendri, adik Edi. Selama ini, area yang menjadi pusat penyelaman mereka adalah sekitar Posko TNI-AL hingga kawasan Kemaro. Dulu, dia pernah menemukan patung Buddha yang terbuat dari batu giok.

’’Tapi, itu cerita 15 tahun yang lalu. Tempatnya tidak jauh dari pulau. Tidak tahu patung tersebut peninggalan dinasti atau peninggalan perang. Saat ditemukan, patung agak kehijau-hijauan. Dengan kawan-kawan kito jual. Hargonyo waktu itu cuman Rp 1,5 juta,” paparnya.

Sampai di tangan kolektor, patung giok itu dijual ke luar negeri. ’’Yang aku denger duitnyo sampe Rp 2 miliar. Rezeki besak nian kawan kolektor tuh,” ujar Hendri.

Sejak dulu sampai sekarang, para penyelam tradisional itu tidak menggunakan peralatan canggih untuk mencari harta karun. Mereka hanya berbekal slang oksigen dan slang besar untuk mengisap lumpur di dasar sungai. Untuk dua slang tersebut, mereka membutuhkan sepasang kompresor.
Satu kompresor digunakan untuk mengisap lumpur, satu kompresor lagi untuk memompa oksigen ke dalam sungai.

Tidak hanya peralatan penunjangnya yang sederhana, para penyelam tradisional juga sangat mengandalkan insting saat mencari harta karun. Dasar sungai yang berlumpur membatasi jarak pandang mereka. Rata-rata para penyelam tersebut menyusuri sungai sedalam sekitar 30 meter itu dalam waktu minimal 30 menit.

’’Kita anak sungai. Menyelam adalah hal yang biasa. Luar biasanya ketika kita mencari harta karun saja. Karena sekali menyelam, bisa berjam-jam lamanya,” terang David.

Melalui slang penyedot lumpur itulah nanti benda-benda dari dasar sungai diangkat ke atas. Ke perahu motor. Mereka yang berjaga di ataslah yang lantas menyeleksi temuan. Ketika penyelam menemukan barang berharga di dasar sungai, penyelam akan memberi kode kepada penunggu kompresor di perahu. Kode itu hanya diketahui teman-teman satu tim. Setiap keluarga penyelam punya kode masing-masing.

Kalau sudah terlalu lama di dalam air dan terpapar arus dasar sungai yang kuat, penyelam harus segera naik lagi ke perahu. David menegaskan bahwa prinsip yang harus dipegang oleh para penyelam adalah menyudahi aktivitas jika tubuh sudah dingin. Penyelam lantas beristirahat di perahu. ’’Harus ada kopi di perahu. Itu wajib hukumnya sebagai penghangat tubuh,’’ tegas David. (jp)