IAKN Tarutung Gelar Pelatihan Penggerak Perdamaian

Bersama Kemenko PMK RI dan Paritas Institute

TAPUT, bumantaranews.com – Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Tarutung melalui Pogram Studi Pendidikan Penyuluh Agama – Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan dan Paritas Institute menggelar Seminar Nasional dan Pelatihan Penggerak Perdamaian, beberapa waktu lalu.

Ketua Panitia Seminar Nasional dan Pelatihan Penggerak Perdamaian, Dr Hanna Dewi Aritonang MTh dalam press rilisnya menyampaikan, bahwa kegiatan itu merupakan buah sulung dari kerjasama Prodi Penyuluh Agama  (PPA) Fakultas Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Tarutung dengan Paritas Institut. “Kegiatan itu dilaksanakan selama empat hari kerja, yakni Senin tanggal 8 November 2021 hingga Kamis tanggal 11 November 2021 (8-11/11) lalu. Kegiatan itu juga dilakukan secara daring dan luring di Aula Mini Kampus IAKN Tarutung,” jelasnya.

Menurutnya, pada hari pertama kegiatan itu diadakan Seminar Nasional dengan tema “Revolusi Mental Menuju UKN yang Inklusif” dan pemateri atau key not speaker dalam Seminar itu adalah Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Budaya dan Prestasi Olahraga Didik Suhardi PhD dengan paparan berjudul “Kebijakan dan Peran Pemerintah dalam Membangun Manusia dan Kebudayaan”. “Sedangkan  pemateri kedua adalah Dekan FIPK IAKN Tarutung Dame Taruli M.Pd.K dengan paparan berjudul Implementasi 5 Budaya Kerja Kementerian Agama di IAKN Tarutung,” bebernya seraya menambahkan pemateri ketiga yakni Direktur Paritas Institute Pdt Penrad Siagian, M.Th dengan materi berjudul Peran Kekristenan di Ruang Publik.

Dia menyampaikan, acara itu mendapatkan atensi dari seluruh peserta, dibuktikan dengan hadirnya sebanyak 45 peserta di aula mini IAKN Tarutung dan 217 orang peserta secara virtual dari berbagai kalangan seperti mahasiswa, dosen, penyuluh agama, komunitas gereja tampak antusias mengikuti pemaparan dalam seminar nasional. “Pada hari kedua belangsung pelatihan Agen Penggerak Perdamaian, dimana peserta diajak menganalisa kadar intoleransi dalam diri sendiri. Kemudian mereka diajak berpikir kritis terhadap situaasi aktual tentang realitas pluralisme agama dan tantangannya dalam konteks Tapanuli Utara dengan metode analisa sosial,” jelas Hanna.

Kemudian pada hari ketiga, sambungnya, peserta diajari cara melakukan kampanye perdamaian melalui tulisan baik dalam media cetak maupun media on line. “Sedangkan pada hari keempat diadakan explosure dengan mengunjungi dan bersilaturahmi dengan komunitas Muslim baik mewakili Persatuan Putra Jawa Kelahiran Sumatera (Pujakesuma), Muhammadiyah, Nahdatul Ulama dan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) bertemapat di masjid Syuhada Tarutung,” bebernya.

Sementara, saat membuka kegiatan itu, Didik Suhardi PhD menyampaikan bahwa seminar nasional dan pelatihan agen penggerak perdamaian selaras dengan program yang dicanangkan oleh pemerintah “Indonesia Melayani, Indonesia Bersih, Indonesia Tertib, Indonesia Mandiri, dan Indonesia Bersatu”. “Pemerintah terus berupaya mencetak generasi muda yang tangguh untuk menjaga kedaulatan NKRI dan sekaligus mengikis radikalisme agama dengan memberi perhatian mulai dari pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif,” jelasnya.

Selain itu, sambungnya, juga dilakukan optimalisasi golden age dengan program-program penurunan stunting,  program PAUD dan penyelenggaraan pendidikan pada tingkat dasar dan menengah termasuk dalam pemenuhan kebutuhan guru dan distribusinya. “Kemudian penyelarasan kurikulum, pemanfaatan teknologi dan penyediaan dana BOS dan KIP sampai pada realisasi berbagai program pelayanan kepada masyarakat usia produktif dan lansia,” jelasnya.

Sebelumnya, Pdt Dr Andreas A Yewangoe selaku dewan pengawas Paritas Institute mendorong terwujudnya teologi kerendahan hati, yang menyelaraskan agama dan iman. “Pancasila sejatinya merupakan ruang publik yang sudah tersedia dan menjadi tugas generasi muda untuk melanjutkannya. Realitas pluralisme menuntut masyarakat Indonesia khususnya kaum muda untuk dapat hidup berdampingan dengan yang lain melalui kesadaran pentingnya menghargai perbedaan sebagai sebuah kekayaan hidup,” jelasnya. (ril/rb)