Material Bangunan Mahal, Penerima RTLH Mengeluh

TAPTENG, bumantaranews.com – Program bantuan pemerintah berupa Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) untuk memberikan hunian yang layak bagi warga tidak mampu, yang dikenal dengan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) telah menjadi harapan masyarakat untuk membangun rumah yang layak dihuni. Banyak warga yang mendambakan  walau tidak semua beruntung mendapatkannya.

Ternyata pelaksanaan pengerjaan program RTLH tidak semulus yang dibayangkan, justru ditemukan beberapa warga penerima manfaat, mengaku kecewa dan kewalahan karena bedah rumah tidak sesuai janji yang disampaikan. Tim pelaksana dari instansi terkait seperti yang diungkapkan Tiayu Siahaan (65) kepada wartawan di Lingkungan X Kelurahan Hutabalang Kecamatan Badiri Kabupaten Tapanuli Tengah, Selasa (16/11)

“Sudah satu bulan dikerjakan tapi belum juga selesai dan selama itu juga kami terpaksa berteduh di rumah darurat sisa bongkaran rumah lama,” ucapnya.

Diungkapkannya pengerjaan bangunan tidak sesuai dengan arahan dan janji yang disampaikan sebelum pembangunan dimulai.

“Awalnya kita diundang rapat kemudian disampaikan oleh petugasnya secara terinci bangunan dan dana yang diberikan, lalu mereka berpesan agar kita menyiapkan tambahan dana untuk upah pekerja. Sementara biaya beli bahan sudah cukup dari anggaran sepanjang kita tidak menambah volume bangunan,” ungkapnya.

Masih menurut Tiayu, yang disesalkan adalah dalam rapat  disebutkan akan menunjuk toko penyedia bahan bangunan yang akan memberikan harga termurah. Tapi nyatanya kita dapatkan harga yang jauh lebih mahal, misalkan harga semen yang dibandrol dengan harga Rp72.000 per zak.

Sedangkan dipasar kita dapatkan harga  sekitar Rp67.000 sampai Rp68.000. Juga harga seng maupun bahan matetial lainnya jauh lebih mahal. Akibatnya sudah jelas, bahan tidak tercukupi.

“Hal ini kita ketahui sesuai informasi dari pihak penyedia bahan ketika meminta kekurangan bahan seperti batu bata, jawabannya tidak mensuplai kekurangan bahan lagi karena anggaran sudah habis,” tambahnya menirukan jawaban penyedia bahan.

Senada dengan Tiayu, harga bahan yang cenderung lebih mahal dari harga pasar juga diakui Rislan Sitorus (51), penerima manfaat di lingkungan VII Hutabalang.

“Katanya akan memberi harga bahan termurah, nyatanya harga termahal,” ucapnya sambil menunjukkan faktur belanja bahannya.

Rislan berharap agar pemerintah daerah dapat mendengarkan keluhan warga penerima manfaat program RTLH.

“Kalau sudah begini siapa yang akan bertanggungjawab, kami hanya dapat berharap Bapak Bupati Baktiar Ahmad Sibarani mendengarkan keluhan kami, dan kalau diminta kami siap membeberkan semuanya. Jangan sampai niat baik Bapak Bupati untuk membantu warganya, justru disalah manfaatkan oleh pihak pihak tertentu,” harapnya. (edy)