Festival Ulos Ragihotang di Meat Galakkan Promosi Ulos

bumantaranews.com – Masyarakat Desa Meat, Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba menyelenggarakan Festival Ulos Ragihotang. Dengan adanya perhelatan tersebut, masyarakat penenun berharap promosi ulos semakin digalakkan. Kegiatan ini akan berlangsung sejak Sabtu (20/11/2021) hingga Minggu (21/11/2021).

Seorang penenun Adermina boru Pardede menjelaskan bahwa dirinya sudah menggeluti dunia tenun selama 50 tahun, namun dirinya belum pernah merasakan perhatian pemerintah soal tenunan ulos.

“Hingga sekarang, perhatian pemerintah biasa-biasa saja. Kita harapkan promosi dari berbagai pihak dapat membantu pengenalan ulos dari masyarakat yang lain. selain dari hasil tenun, kami juga harus bertani agar bisa memenuhi kebutuhan anak-anak,” ujar Adermina boru Pardede (67) saat dikonfirmasi pada Senin (22/11/2021)

Ia mengeluhkan hingga saat ini tidak sanggup memenuhi kebutuhan keluarga karena tidak ada jaminan pemasaran hasil produk tersebut.
“Ini merupakan kekhasan dari desa kita. Waktu yang kita butuhkan hasilkan sebuah ulos butuh waktu dua minggu dan harganya sekitar 1,5 Juta. Walaupun demikian, hasil dari ulos ini belum sanggup memenuhi kebutuhan keluarga kita,” sebutnya.

Ulos yang biasanya digunakan pada acara pernikahan tersebut, ternyata sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu. Secara turun-temurun, cara bertenun diwariskan. Walaupun demikian, ia sendiri tidak yakin akan kaum muda zaman sekarang mampu menggeluti dunia tenun ulos.

“Ini sebenarnya yang kita takuti. Kaum muda masa kini kurang memberikan perhatian terhadap pelestarian ulos. Dengan demikian, adanya festival seperti ini akan membuat kaum semakin tertarik menenun ulos,” ungkapnya.

Seorang antropolog Universitas Sumatera Utara (USU) sekaligus narasumber pada festival tersebut Avena Matondang menjelaskan bahwa pelestarian ulos di kawasan Meat seharusnya disadari masyarakat sebagai ladang perekonomian sekaligus pelestarian budaya.

“Kita berharap dengan adanya festival seperti ini, masyarakat semakin tertarik melestarikan adat dan budaya setempat. Seperti di Meat, kita tahu bahwa kawasan ini merupakan sumber tenun ulos Ragihotang. Semoga ke depannya, kaum muda kawasan ini mampu menjadi agen pelestari khasanah tradisional tersebut,” pungkasnya.(ipc)