‘Rampok’, Merpati Seharga Rp2 M karena Punya Empat Keistimewaan

Rampok tetap makan jagung dengan tambahan beras merah, kacang hijau, dan kenari set (canary seed). Ia hanya berlatih kalau hendak berlomba dan sehari-hari ada 11 orang yang menjaganya.

YERI NOVELI, Kab Tegal

Bulu-bulunya tak lantas diselipi emas di sana-sini. Kedua kakinya juga tidak kemudian dipasangi gelang berlian.

Rampok, demikian namanya, ya sama seperti saudara-saudaranya sesama merpati: tetap makan jagung. Tetap tak bisa ngoceh juga.
Kemampuannya dalam lomba merpati kolong-lah yang membuat harganya sulit dinalar para ’’sobat misqueen”: R 2 miliar! Ya, Rp2 miliar: bisa jadi cukup untuk membiayai tim Liga 3 sampai promosi ke Liga 2.

Menurut Yunius Martin, perawat serta joki Rampok di tiap lomba, ’’pepunden”-nya itu punya empat keistimewaan: terbangnya stabil; memiliki kecepatan tinggi, termasuk saat turun di kolong lomba; serta tekniknya sangat bagus.

’’Rampok juga mampu mengecoh lawan saat terbang tinggi,” kata Yunius kepada Radar Tegal yang menemuinya di Perumahan Saphire, Desa Pacul, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat pekan lalu (19/11).

Yunius mengaku membeli Rampok secara patungan dengan dua kawan yang tinggal di Bekasi yang tak dia sebut namanya. Pemilik sebelumnya juga warga Bekasi yang biasa dia sebut dengan nama Haji Roni.

’’Saya paling hanya urun sedikit. Sekitar 80 persen ditanggung dua kawan saya itu,’’ kata Yunius yang mengaku sehari-hari bekerja penuh sebagai perawat merpati tersebut.

Harga miliaran untuk seekor merpati sejatinya tak cuma berlaku pada Rampok. Pemegang rekor termahal sebelumnya adalah Jayabaya milik warga Kota Bandung, Jawa Barat, yang berharga Rp1 miliar dan kini telah berpindah tangan. Serta, Jaguar senilai Rp1,5 miliar, kepunyaan warga Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, yang juga sudah dibeli warga Jakarta.

Seperti juga Rampok, para merpati miliarder itu dinilai berdasar kemampuannya di lomba merpati kolong. Persatuan Merpati Tinggian Indonesia rata-rata menggelar puluhan lomba dalam setahun di berbagai kota di Indonesia.

Dari lomba-lomba seperti itu pula, Yunius dan kedua kawannya memantau kemampuan Rampok. Jayabaya juga dibeli Rp1 miliar pada Juni 2019 setelah si pembeli memantaunya sekitar setahun.

Nah, di lomba-lomba itu, Rampok terus menunjukkan skill yang berbeda dengan merpati lain. Bahkan, lanjut Yunius, jika dibandingkan dengan Jaguar sekalipun.

’’Ketika mengikuti sebuah lomba merpati kolong di Pekalongan, Rampok berhasil mengungguli Jaguar. Itulah yang membuat harga Rampok lebih mahal ketimbang Jaguar,’’ ujarnya.