Seorang Wanita di Labusel Dipaksa Aborsi Oleh Pacarnya, Aksi Gagal Karena Korban Lapor Polisi

LABUHANBATU, bumantaranews.com – Seorang wanita asal Labuhanbatu Selatan yang sedang hamil dengan wajah ketakutan mendatangi Polres Labuhanbatu. Ternyata wanita berinisial LW yang mengenakan kaos warna abu-abu kuning ini melaporkan pacarnya berinisial N yang memaksa dirinya untuk melakukan aborsi hasil hubungan mereka.

Dihadapan personil Polres Labuhanbatu, dengan duduk di kursi memangku tas warna coklat, LW menyampaikan bahwa dirinya dipaksa oleh pacarnya untuk aborsi kandungan yang merupakan hasil hubungan terlarang mereka.

Bila kemauan pacanya tidak dituruti, maka dirinya diancam akan dibunuh. Dengan tindakannya mendatangi Polres Labuhanbatu, maka aborsi kandungan itu berhasil digagalkan.

Atas laporan itu, Kapolres Labuhanbatu, AKBP Anhar Arlia Rangkuti bergerak cepat. Anhar menyelamatkan LW, yang ketakutan lantaran dipaksa pacarnya untuk mengugurkan kandungan.

Pihak Kepolisian Sektor Labuhanbatu masih melakukan penyelidikan terhadap kasus percobaan aborsi dan pengancaman yang terjadi di Labuhanbatu Selatan.

“Kasus itu masih tahap lidik,” ujar Kasat Reskrim Polres Labuhanbatu AKP Rusli Marzuki saat dihubungi wartawan melalui panggilan dari aplikasi Whatsapp pribadinya, Senin (29/11/2021) siang.

Informasi dihimpun, korban yang melapor dijemput dan diantarkan oleh Kapolsek Kota Pinang, AKP Bambang G Hutabarat, SH, MH sebagai pendamping ke Polres Labuhanbatu, Kamis (25/11/2021) kemarin.

Kapolres Labuhanbatu AKBP Anhar Arlia Rangkuti, SIK sangat merespon laporan tersebut dan memerintahkan anggotanya dari Kapolsek kota pinang, Ka. SPKT serta Unit PPA Polres Labuhanbatu untuk diproses dan dilakukan pemeriksaan kepada korban tersebut.

Selain itu, Kapolres telah melaksanakan Presisi “Commander Wish” arahan dari Kapolri dan Kapoldasu atas kasus tersebut.

Respon Kapolres Labuhanbatu atas kasus tersebut mendapat apresiasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Labuhanbatu.

Sekretaris LPA Labuhanbatu Dermawati Harahap kepada wartawan mengapresiasi Bapak Kapolres Labuhanbatu, AKBP. Anhar Arlia Rangkuti,S.iK dalam menyikapi kasus diduga korban percobaan aborsi yang dilakukan korban atas perintah pacarnya berinisial N dengan adanya pengancaman korban dibunuh.

Lanjutnya, dalam permasalahan ini Lembaga Perlindungan Anak Labuhanbatu diberikan kuasa oleh korban untuk mendampingi korban ke Polres Labuhanbatu dalam melaporkan dan pemeriksaan korban hingga ke pengadilan.

“Korban didampingi LPA Labuhanbatu telah melaporkan pelaku yang diduga pacarnya sendiri ke Polres Labuhanbatu dengan STPLP Nomor : STPLP/1468/XI/2021/SPKT/Polres Labuhanbatu/Poldasu pada hari kamis, 25/11/2021 sekitar pukul 15.45 wib yang diterima oleh Ka.SPKT u.b PS Kanit 2 SPKT Polres Labuhanbatu, Aipda Frengki Sagala,SH,” papar Derma.

Ditambahkannya, dalam permasalahan kasus tersebut bahwa perbuatan yang dilakukan pelaku telah melanggar undang-undang nomor 35 tahun 2014 perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Dermawati juga mengatakan orang yang melakukan aborsi terancam hukuman 15 tahun penjara.

Menurutnya, tidak hanya yang melakukan aborsi yang dapat terjerat hukum, Tapi yang membantu juga dapat sanksi pidana 15 tahun penjara.

“Jadi, bukan hanya perempuan yang melakukan aborsi, tapi yang mendukung atau membantu aborsi dan laki-laki yang menyebabkan terjadinya anak mendapatkan hukuman yang setimpal,” kata Derma dia ruang kerjanya.

Mereka, kata dia, akan dijerat dengan Undang-undang nomor 35 tahun 2014 perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Bahkan, mereka dapat dikenai pasal berlapis karna menghilangkan nyawa orang lain.

“Dalam undang-undang itu disebutkan, dan membantu terjadinya aborsi terancam 15 tahun penjara. Pengecualian jika aborsi karna alasan medis atau ada rekomendasi dari pihak berwenang. Misalnya, untuk menyelamatkan nyawa ibunya,” tandas Dermawati Harahap. (Bud/int)