Sirilius Kevin, Belum Punya KTP, tapi Turut Bantu Lindungi KTP

Tergerak Penyalahgunaan Data Terkait Pinjol

Telah banyak orang yang terbantu watermarkktp.com bikinan Sirilius Kevin di era ketika penyalahgunaan KTP kerap terjadi. Masih duduk di bangku SMP, dia tertarik dengan pemrograman sejak berusia 7 tahun.

FERLYNDA PUTRI, Jogjakarta

Usianya masih 14 tahun. Belum punya KTP tentu saja. Tapi, dia ikut resah tiap mendengar kabar penyalahgunaan kartu yang berisi data-data penting dari pemiliknya tersebut.

Banyak diantaranya taranya kemudian digunakan untuk mengajukan pinjaman online (pinjol). Dan, buntutnya si pemilik KTP yang kena getah.

Berangkat dari keresahan itu, bocah 14 tahun tersebut memutar otak. Apa yang bisa dia bantu untuk mengatasi masalah itu.

Kebetulan dia memiliki keahlian di bidang pemrograman. Dia memang menyukai bahasa pemrograman.

”(Akhirnya) dapat ide dari kakak,” katanya saat ditemui Jawa Pos di salah satu kafe di Kota Jogja pada Sabtu (20/11) pekan lalu.

Oktober lalu akhirnya dia meluncurkan situs watermarkktp.com. Situs itu terlihat sederhana dan mudah digunakan. Berupa tombol untuk mengunggah foto KTP, pilihan huruf, ukuran, dan tata letak.

Pengguna tidak perlu mengunduh situs tersebut sehingga pemilik handphone ”kentang” juga tetap bisa menggunakan. Sebab, tidak memakan banyak memori HP.

Sejak diluncurkan hingga bertemu dengan Jawa Pos, sampai pukul 21.30 tadi malam situs tersebut sudah mencapai 100 ribu pengunjung. Salah satu pemicunya adalah unggahan sang kakak, Frans Allen, di Twitter.

Lewat Twitter pula banyak yang menceritakan betapa mereka sangat terbantu oleh aplikasi bikinan Kevin. Selain ramai di media sosial, pamor Kevin melejit lantaran beberapa pemberitaan media massa tentang aplikasinya. ”Teman-teman sering ngeledekin kalau sekarang jadi artis,” ucap anak bungsu tiga bersaudara itu.

Frans juga pernah me-mention akun Kemenkominfo atas apa yang dilakukan adiknya tersebut. Hanya direspons ”Makasih, Mas.”

Minat Kevin pada dunia pemrograman muncul sejak masih berumur 7 tahun. Dia penasaran kenapa komputer bisa menampilkan gambar dan huruf. Dia ingin tahu kenapa game-game yang disukainya bisa bergerak di komputer dan HP-nya.

Beruntung ada yang mementori minat tersebut. Frans yang saat itu lulus SMK juga sedang gandrung pada dunia digital. Hampir setiap hari dia mengutak-atik latar belakang aplikasi. Itu dilakukan secara otodidak.

Kemampuan Kevin dianggap mumpuni untuk anak seusia dia. Tawaran pun datang dari seseorang untuk bergabung di perusahaannya.

Tawaran itu datang di balasan cuitan pemilik akun Twitter @siriliuskevin tersebut. Tapi, Kevin memilih melepas tawaran tersebut. ”Saya masih memprioritaskan sekolah,” ujar siswa kelas IX SMP itu.

Dia akan menerima tawaran pekerjaan jika jam kerjanya tidak mengganggu jadwal belajarnya. Selain itu, harus mendukung keinginannya untuk belajar.

Selain sekolah, remaja kelahiran 4 Desember 2006 itu aktif bergaul. Dunia digital tidak lantas merenggut aktivitas sehari-harinya. Dia seperti remaja pada umumnya. Misalnya, pergi nonton atau nongkrong.

Dia juga tidak rewel harus membeli gawai terbaru. Untuk menghasilkan watermarkktp.com, Kevin menggunakan laptop bekas kakaknya. ”Saya sih merasa beruntung karena punya adik yang nggak high-maintenance. Keyboard-nya rusak pun dia mau bersabar,” kata Frans yang ditemui pada kesempatan yang sama.

Frans juga senang bisa menjadi teman bicara Kevin. ”Waktu kecil itu memang diajari lihat program,” kenang Frans.

Saat Kevin Kelas VII SMP, Frans memberinya laptop bekas. Sejak saat itu Kevin cepat belajar koding. ”Sejauh ini nyambung ngobrolin apa pun dengan Kevin,” imbuhnya.

Frans yang memiliki selisih usia 10 tahun dengan Kevin ikut bangga atas prestasi adiknya. Menurut dia, hal itu baru awal. Masih banyak masalah dan tantangan yang harus diselesaikan Kevin. ”Masih aneh aja kalau dengar Kevin sekarang viral atau terkenal,” celetuknya.

Frans dan Kevin pun pernah bekerja sama dalam satu proyek digital. Yakni, membuat website indostatus.com. Website itu bertujuan untuk memberikan notifikasi website pemerintah sedang up atau down.

Frans mencontohkan cara kerja website tersebut. Misalnya, pengguna ingin mendapatkan notifikasi website penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang sudah pulih dari down. Maka, pengguna bisa menggunakan e-mail untuk mendapatkan notifikasi. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu sering-sering buka tutup situs.

Pada website itu, Kevin memiliki tugas memasukkan website milik pemerintah yang akan diintegrasikan pada indostatus.com. ”Mumpung ada SDM gratis dan mau belajar kan ya,” kelakar Frans.

Ibu Kevin dan Frans, Maria Irene Lisdawati, tentu juga bungah anak-anaknya bisa menciptakan sesuatu yang berguna bagi masyarakat. Dia turut senang kini Kevin dikenal banyak orang.

Maria tipe ibu yang memberikan kebebasan untuk anaknya. Awal Kevin suka gawai pun tidak dia marahi. Dia justru diberi tahu Frans bahwa Kevin sedang mengamati dan belajar.

Karena itu, Maria memberikan kesempatan kepada anaknya tersebut untuk mengulik apa yang menjadi kegemarannya. ”Saya cuma memberi tahu kalau sudah sampai larut malam, dia harus segera istirahat,” ujarnya.

Maria tidak marah ketika anaknya lama di depan komputer atau handphone. Sebab, dia tahu anak ketiganya itu tetap bertanggung jawab pada pelajarannya.

”Kalau urusan teknologi, biar sama kakaknya. Saya membantu mengingatkan kewajiban lainnya saja,” tuturnya. Saat ini Kevin hanya punya cita-cita untuk menggeluti dunia pemrograman. Dia ingin menciptakan aplikasi atau website lagi yang bisa membantu kehidupan masyarakat. (jp)