Erupsi Gunung Semeru, Satu Dusun Tertimbun Abu 2 Meter

LUMAJANG, bumantaranews.com – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi. Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu menyemburkan material vulkanis. Guguran awan panas dan lahar menyelimuti desa-desa di sekitarnya.

Wakil Bupati Lumajang Indah Amperawati Masdar dalam konferensi pers virtual bersama BNPB menerangkan, kondisi terparah berada di kawasan Curah Kobokan. Sebab, endapan lumpur yang tinggi membuat kendaraan sulit mengevakuasi korban.

’’Lumpurnya setinggi lutut. Tadi ada 10 orang yang belum bisa dievakuasi. Kami meminta bantuan komunitas jip,’’ terangnya.
Indah menerima laporan 41 orang mengalami luka bakar akibat terkena lahar panas. Dua orang di antaranya adalah ibu hamil.

’’Sekarang dievakuasi ke Puskesmas Penanggal,’’ terangnya.
Khusus yang mengalami luka bakar parah, lanjut dia, dirujuk ke rumah sakit terdekat. Warga yang tinggal di sekitar Gunung Semeru telah dievakuasi ke Balai Desa Penanggal.

Di Desa Sumberwuluh, Indah menerima laporan ada dua warga yang hilang. Selain itu, delapan orang dilaporkan terjebak di kantor milik perusahaan tambang. Mereka sempat mengirim video berisi permintaan bantuan. Begitu mendengar kabar tersebut, tim BPBD Lumajang langsung menuju lokasi kejadian.

’’Tapi, lahar panas sudah tinggi. Kami tidak bisa masuk. Harus menunggu surut dulu,’’ terang Indah. Delapan orang itu kini tidak bisa dihubungi. ’’Mudah-mudahan mereka selamat,’’ harap Indah.

Dia juga meminta BNPB mengirim helikopter untuk mengevakuasi para korban yang terjebak lahar panas. ’’Tolong Pak Kepala BNPB, ini keluarga korban menangis semua, tolong segera kirim helikopter,’’ pinta Indah.

Erupsi Gunung Semeru juga menyebabkan Jembatan Piket Nol di Desa Sumberwuluh, Kecamatan Pronojiwo, putus. Praktis, akses Lumajang–Malang jalur selatan terputus total. Sejumlah petugas dikerahkan untuk mengamankan kawasan tersebut.

Indah berharap BPBD Malang membuka posko untuk tempat pengungsian maupun dapur umum. ’’Tolong bantu melayani warga kami di Pronojiwo. Kami tidak bisa ke sana karena jembatan putus dan banyak pohon tumbang,’’ ujarnya.

Sementara itu, beberapa warga yang dihubungi Jawa Pos Radar Semeru menceritakan, letusan awal terjadi sekitar pukul 15.00 WIB. Semula, warga yang tinggal di sekitar Gunung Semeru menganggapnya hal biasa. Sanhaji, warga Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, mengungkapkan bahwa warga baru panik setelah letusan disertai awan panas membubung tinggi.

”Sekitar jam 13.00, ada aliran lahar dingin kecil. Di sekitar Curah Kobokan. Aliran semakin besar dan ada suara letusan beberapa kali. Suaranya seperti guntur dan petir. Setelah tahu Gunung Semeru meletus, warga langsung mengungsi,’’ ungkapnya. Tak lama kemudian, hujan abu mulai turun. ”Di sini listriknya padam juga,’’ tambahnya.

Kabid Kedaruratan Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Lumajang Joko Sambang mengatakan, Dusun Kampung Renteng, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, menjadi salah satu desa yang terdampak paling parah. Sebab, abu vulkanis menutupi hampir semua kawasan tersebut. Dusun yang berjarak sekitar 2 kilometer dari Sungai Rejali tersebut tertimbun abu vulkanis. Akses ke dusun lain terputus. ”Sementara ini belum terdeteksi berapa jumlah warga yang terluka. Tetapi, ada tiga warga yang kulitnya terkena lahar panas. Mereka sopir dari luar desa,’’ ujar Sekretaris Desa Sumberwuluh Samsul Arifin.

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Semeru, ketebalan abu vulkanis di dusun tersebut bahkan mencapai 2 meter. Abu yang menutupi hampir semua kawasan tersebut masih mengeluarkan asap panas. ”Kalau diukur dari atas jembatan yang menjadi penghubung antardusun saja sudah 1 meter lebih. Sedangkan di sisi selatan agak lebih tinggi. Saat disorot cahaya tadi, ada yang hampir mencapai atap gardu. Ya, sekitar hampir 3 meter malah,” ungkap Budi Hartono, ketua satgas keamanan desa (SKD) setempat.

Dia menjelaskan, pencarian korban masih dilakukan. Dia juga mencoba menghubungi sejumlah warga yang terjebak di sisi selatan kawasan tertutup abu vulkanis. ’’Listrik padam. Jadi, sulit komunikasi di awal. Tetapi, petang tadi saya hubungi lagi. Mereka menjawab aman. Dan bertahan di sekitar tanggul yang lokasinya lebih tinggi. Ada delapan orang. Tetapi, jumlahnya bisa bertambah,” jelasnya.

Menurutnya, ada sekitar 60 warga yang tinggal di dusun tersebut. Sebagian besar sudah mengungsi ke kantor desa. Sebab, pihak desa sudah menginformasikan adanya guguran lava sesaat setelah kejadian. Sebelumnya, abu vulkanis tersebut mengalir dari jalan tambang dusun setempat.
Selanjutnya, abu langsung menerjang permukiman dan sekitar lokasi tambang. Dikabarkan, sejumlah kendaraan masih terjebak. Bahkan, alat berat ikut tertimbun.

Dimintai konfirmasi secara terpisah, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan temuan awal dari erupsi Gunung Semeru. Kepala PVMBG Andiani menjelaskan bahwa erupsi Gunung Semeru ini berupa awan panas guguran dan diawali lahar. Erupsi tercatat mulai terjadi pada pukul 13.30.

Sementara itu, sebanyak 13 warga dilaporkan meninggal dunia akibat erupsi Gunung Semeru. Hal ini berdasarkan informasi dari Kepala BNPB Letjen Suhayanto pada Minggu (5/12) pukul 09.20 WIB. Suharyanto kini sedang menuju Lumajang dalam rangka meninjau terdampak erupsi Gunung Semeru.

“Yang baru teridentifikasi dua orang berasal dari Curah Kobokan dan Kubuan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya, Minggu (5/12).

Selain itu, sebanyak 41 orang yang mengalami luka-luka, khususnya luka bakar, telah mendapatkan penanganan awal di Puskesmas Penanggal. Mereka langsung dirujuk menuju RSUD Haryoto dan RS Bhayangkara.

Sementara itu, lanjut Muhari, warga luka lainnya ditangani pada beberapa fasilitas kesehatan, yaitu 40 orang dirawat di Puskesmas Pasirian, 7 orang di Puskesmas Candipuro, serta 10 orang lain di Puskesmas Penanggal di antaranya terdapat dua orang ibu hamil.

“Tim gabungan juga berhasil melakukan evakuasi warga yang tadi malam dilaporkan Wakil Bupati Lumajang terjebak di kantor pemilik tambang. Saat ini para warga telah ditempatkan di Pos Curah Kobokan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” ucap Muhari.

Muhari menyampaikan, mengenai sebaran awas panas guguran juga berdampak pada dua kecamatan, antara lain Kecamatan Pronojiwo pada Desa Pronojiwo, Oro-oro Ombo, Sumberurip, serta Dusun Curah Kobokan di Desa Supiturang serta Kecamatan Candipuro pada Dusun Kamarkajang di Desa Sumberwuluh dan Desa Sumbermujur.

Selain itu terdapat delapan kecamatan dan beberapa desa yang terdampak abu vulkanik, meliputi Kecamatan Ampelgading pada Desa Argoyuwono; Kecamatan Tirtoyudo pada Desa Purwodadi dan Desa Gadungsari; Kecamatan Pagelaran pada Desam Clumprit; Kecamatan Wajak pada Desa Bambang; Kecamatan Kepanjen pada Desa Panggungrejo dan Mojosari; Kecamatan Dampit pada Kelurahan Dampit; Kecamatan Bantur pada Desa Bantur dan Rejosari; Kecamatan Turen pada Desa Talok.

“BPBD Kabupaten Lumajang juga melaporkan terdapat 902 warga mengungsi yang tersebar di beberapa titik kecamatan,” ucap Muhari.

Kejadian sebaran awan panas guguran Gunung Semeru juga menyebabkan beberapa rumah warga tertutup material vulkanik, serta jembatan Gladak Perak di Curah Kobokan yang menjadi akses penghubung Lumajang dan Malang terputus. BPBD Kabupaten Lumajang menggunakan alat berat wheel loader untuk membuka akses jalan curah kobokan, serta melakukan pendataan lanjutan terkait kerugian materil lainnya akibat peristiwa ini.

Berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), lanjut Muhari, saat ini Gunung Semeru masih dalam status level II atau waspada. Berdasarkan pemantauan kondisi udara melalui radar Accuweather Udara, mencapai tingkat polusi tinggi dan berdampak negatif terhadap kelompok yang masuk dalam kategori rentan, yaitu lansia, ibu hamil, disabilitas serta anak-anak.

“Pantauan secara visual juga menunjukkan awas panas guguran telah berhenti dikarenakan kondisi hujan di sekitar puncak kubah lava Gunung Semeru,” ungkap Muhari.

Oleh karena itu, BPBD terus melakukan koordinasi bersama perangkat desa setempat dan Pos Pengamat Gunung Api (PPGA) terkait pemutakhiran aktivitas Gunung Semeru.

“BPBD Kabupaten Lumajang mengimbau masyarakat setempat untuk tidak melakukan aktivitas di Daerah Aliras Sungai (DAS) Mujur di Curah Kobokan dan DAS lainnya maupun beberapa tempat yang dimungkinkan menjadi tempat aliran guguran awan panas,” pungkasnya. (jp)