Amin Koktong Bantah Serobot Gang Kebakaran

SIANTAR, bumantaranews.com – Ricuh penyerobotan lahan di Gang Kebakaran, Jalan Sutomo III, Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar ditanggapi olah pihak yang dituding, Jamin alias Amin Koktong. Pria pemilik sejumlah kedai kopi di Kota Pematangsiantar itu membantah tudingan yang dilontarkan Bun Lenny.

Amin mengaku telah memasang pagar di Gang Kebakaran yang berada di belakang rumahnya. Namun menurutnya hal itu bukanlah penyerobotan. Sebab beberapa tetangga juga menyetujuinya.

“Mana ada serobot. Apa salah saya pasang pagar? Dulu belum ada satpam, jadi kami pagar untuk menghindari pencuri. Karena barang-barang peralatan dapur dibuat di sana,” katanya, saat ditemui di salah satu tempat usahanya di Jalan Wahidin Pematangsiantar, kemarin.

Masih kata Amin, sebelumnya Bun Lenny dan mertuanya sudah berkomunikasi dengan dirinya. Mereka meminta agar kanopi yang mengarah ke bangunan Bun Lenny dibuka. “Itu sudah saya penuhi,” tukasnya.

Masih kata Amin, ia sebenarnya tidak mengerti apa maunya pihak Bun Lenny. Sebab dalam enam bulan terakhir, mereka kerap mengusiknya.
“Kita nggak tau apa maunya. Kemarin minta kanopi dibuka, sudah saya buka,” katanya.

Terkait Gang Kebakaran yang dipagar, Amin menyebutkan setiap warga yang bisa mengakses berhak memiliki kunci yang digandakan sendiri.
“Bisa, dia (Bun Lenny) akses ke gang tersebut. Kalau dia mau, minta kunci dan digandakan. Tapi itulah, mau ngapain dia ke sana? Rumahnya saja nggak ada pintu belakang,” sebut Amin.

Amin mengaku siap menerima sanksi jika ia terbukti menyalahi aturan.
“DPRD sudah datang melihat, Satpol PP juga. Tiada masalah, saya sudah tinggal di sana bertahun-tahun,” katanya.

Sebelumnya, Bun Lenny memprotes bangunan yang menutup Gang Kebakaran. Ia mendatangi gedung DPRD Pematangsiantar, Selasa (23/11) siang dan melaporkan Amin Koktong, yang mendirikan bangunan hingga menutup Gang Kebakaran.

Sebelumnya, dia juga telah melaporkan hal tersebut ke tujuh instansi di lingkungan Pemko Pematangsiantar, yakni Kelurahan Proklamasi, Kecamatan Siantar Barat, Dinas PUPR, PMPTSP (Dinas Perizinan), Satpol PP, Sekda, dan Walikota.

“Tanggal 17 Oktober lalu saya sudah menyurati tujuh instansi Pemko, tapi saya hanya disuruh menunggu,” kata Lenny yang mengaku ingin kejelasan dari laporannya.

“Kalaupun pembongkaran tidak bisa dilakukan tahun ini, dan harus tahun depan, tidak apa-apa. Tapi kan keputusan resminya (harusnya) kita tahu,” lanjut Lenny.

“Selain ibu saya sudah tua, saya juga punya tiga anak kecil yang tinggal di situ. Kalau nanti terjadi kebakaran, gimana?” tanyanya. (awa)