Rekayasa Cuaca di Danau Toba Berakhir

Permukaan Air Sudah Naik 23 Cm

MEDAN, bumantaranews.com – Kawasan Danau Toba telah mengalami rekayasa cuaca selama 30 hari karena permukaan air di Danau Toba menurun 15 centimeter.

Tim Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) pun telah memberlakukan rekayasa cuaca sejak Jumat (15/10/2021) hingga 30 hari. Setelah rekayasa cuaca berakhir, permukaan air Danau Toba menaik 23 centimeter dari ukuran sebelumnya.

“Karena defisit air danau toba yang menyebabkan tinggi muka air Danau Toba menurun,” ujar Koordinator Lapangan Perekayasa Pengelolaan TMC Badan Riset dan Inovasi Nasional Dwipa Wirawan pada Senin  (6/12/2021).

“Rekayasa Cuaca (Penyemaian Awan) di Daerah Tangkapan Air Danau Toba yang menggunakan bahan semai berbasis flare atau suar produksi PT. Pindad (persero) dengan sebutan  Cloud Seeding Agent Tube 1000 (CoSAT 1000) telah berakhir,” terangnya.

Ia menjelaskan, penyemaian awan yang dilakukan dengan bahan semai CoSAT 1000 menggunakan pesawat jenis Piper Cheyenne registrasi PK-TMC dengan teknik penyemaian pada dasar awan-awan potensial agar dapat segera menurunkan hujan, dimana bahan semai CoSAT 1000 ditempatkan pada kedua sayap pesawat PK-TMC.

Kegiatan rekayasa cuaca (penyemaian awan) di Danau Toba berlangsung selama 35 hari kalender yang dimulai sejak tanggal 15 Oktober hingga 18 November 2021 lalu dengan total penerbangan semai sebanyak 37 sorti penerbangan dan menggunakan 324 bahan semai CoSAT 1000.

Ia sampaikan, selama kegiatan Tinggi Muka Air Danau Toba mengalami kenaikan setinggi lebih kurang 23 cm serta volume efektif inflow kumulatif sebesar 558, 021 juta meter kubik.

“Untuk penurunan Tinggi Muka Aiar (TMA) Danau Toba sejak akhir bulan September 2021 lalu mengalami penurunan sekitar 15 centimeter,” sambungnya.

Terkait rekayasa cuaca tersebut, pihak nya sudah mendapatkan izin dari Gubernur Sumatera Utara Edy Rahmayadi dan telah berkoordinasi dengan Bupati Toba Poltak Sitorus.

“Sudah mendapat izin gubernur Sumut, dan sudah berkordinasi dengan Bupati Kabupaten Toba. Dari pihak user PT.Inalum akan membatasi kegiatan rekayasa cuaca apabila terjadi aliran masuk (inflow) sebesar 600 meter kubik pernah detik  selama 3 hari  berturut-turut,” terangnya.

“Pelaksanaan rekayasa cuaca saat ini adalah tahap atau periode ke 2 yang dimulai sejak tanggal 15 Oktober hingga 30 hari ke depan,” sambungnya.

Selanjutnya, ia mengutarakan perihal proses rekayasa cuaca tersebut.
“Rekayasa cuaca (penyemaian awan) kali ini di Daerah Tangkapan Air Danau Toba, tidak lagi menggunakan bahan semai micro powder NaCl (garam), melainkan menggunakan bahan semai berbasis flare atau suar,” terangnya.

“Flare ini diproduksi oleh PT Pindad (persero) dengan nama CoSAT 1000 (Cloud Seeding Agent Tube 1000) yang merupakan hasil pengkajian dan pengembangan alih teknologi yang dilakukan Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca – Badan Pengakajian dan Penerapan Teknologi (saat ini telah bergabung dibawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional),” sambungnya.

Ia menjelaskan bahwa penyemaian awan dengan bahan semai CoSAT 1000 dilakukan di dasar awan-awan potensial dengan menggunakan pesawat ringan atau kecil,”

“Pesawat kecil ditempatkan pada kedua sayap pesawat agar dapat segera menurunkan hujan dari awan-awan potensial yang disemai,” pungkasnya. (trc)