Sidang Lanjutan 11 Oknum Polisi Jual Sabu Sitaan, “Biar Pecah di Perut Asal Jangan Pecah di Mulut”

TANJUNGBALAI, bumantaranews.com – Pengadilan Negeri (PN) Tanjungbalai Sumatera Utara (Sumut) kembali menggelar sidang lanjutan kasus oknum polisi jual sabu sitaan dengan agenda mendengarkan keterangan saksi mahkota dari terdakwa salah satunya Hendra.

Hendra merupakan pekerja harian lepas (PHL) di Satuan Polair Polres Tanjungbalai bertugas sebagai teknisi sekaligus perawat kapal-kapal Satpolair dan petugas pengemudi  kapal.

Ia mengingat jelas pesan yang disampaikan Bripka Tuharno selaku atasannya setelah mendapat perintah memindahkan tas berisi sabu dari atas kapal ke rumah Agus Ramadhan Tanjung.

“Setelah sampai di rumah Bang Agus, tasnya dibuka, kami hitung ada 13 bungkus. Tak lama Pak Tuharno datang, dia kasi pesan ‘biar pecah di perut asal jangan pecah di mulut,” terang Hendra saat memberikan kesaksian dihadapan ketua majelis hakim Salomo Ginting di PN Tanjungbalai, Selasa (7/12).

Sebelumnya, Hendra juga menceritakan bagaimana mula dia berangkat bersama Tuharno dan Juanda mengemudikan kapal patroli Babinkamtibmas menuju perairan Sei Lunang, lokasi ditemukannya puluhan kilogram narkoba tak bertuan di kapal kaluk. Di sana telah tiba lebih dulu kapal patroli KP II 10.14.

“Setelah dilakukan dokumentasi, selanjutnya tiga kapal berjalan beriringan. Posisi kapal digandeng, di tengah kapal kaluk, di kiri KP II 10.14, di kanan Kapal Babinsa,” terang Hendra.

Saat ketiga kapal tersebut sedang berjalan, Hendra yang mengemudikan Kapal Babinkamtibmas di ruang kemudi didatangi Tuharno yang membawa sebuah  goni berisi tas sport warna hitam – hijau. Belakangan tas itu diketahui berisi 13 Kg sabu.

Dalam persidangan itu, JPU Rikardo Situmorang juga menunjukkan kepada Hendra yang mengikuti persidangan secara online dari lembaga pemasyarakatan (LP) soal tas hijau yang disimpannya ke lemari minyak di atas kapal setelah diperintah Tuharno.

“Iya yang mulia, itu tasnya. Tas itu dibalut sama goni. Saya disuruh Pak Tuharno menyimpan tas itu ke lemari minyak dekat kemudi kapal,” kata Hendra.

Hendra juga memberi kesaksian selepas memberikan goni berisi tas, Tuharno kemudian berpindah kapal ke KP II.10.14, mereka lalu berpisah. Dua kapal, Bhabinkamtibmas dan kapal Kaluk kemudian menuju ke dermaga Satpolair.

“Malamnya jam 10 saya ditelpon sama Bang Agus Ramadhan Tanjung, untuk memindahkan goni itu ke rumah bang Agus naik sepeda motor kami beriringan. Sampai rumah bang Agus dihitung, ada 13 bungkus. Tak lama Pak Tuharno datang dia pesan ‘biar pecah di perut, asal jangan pecah di mulut,” katanya.

Terdakwa Agus Ramadhan Tanjung juga mendengar pesan yang disampaikan Tuharno ke pada dirinya dan Hendra. Hakim anggota Joshua Sumantri  sempat mempertanyakan maksud pesan ‘biar pecah di perut, asal jangan pecah di mulut kepada terdakwa Agus Ramadhan.  “Maksudnya kalau tertangkap jangan bawa-bawa yang lain, yang mulia,” kata Agus.

Agus kemudian memberikan sabu tangkapan tersebut ke Adi Ismanto, seorang oknum TNI yang selanjutnya menjual sabu tangkapan itu ke Kabupaten Batu Bara hingga akhirnya kasus ini terbongkar. (Per)