Ditagih Utang Alm Suami Rp900 juta, Yusni Purba Lapor ke LPKSM

SIBOLGA, bumantaranews.com – Seorang wanita paruh baya menangis tersedu saat memberikan penjelasan kepada awak media, usai melapor ke Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM), Rabu (15/12/2021).

Kepada awak media ini, wanita bernama Nur Yusni Purba (58) yang merupakan ahli waris tersebut mengaku kecewa terhadap pihak Bank Mandiri Sibolga. Diterangkannya, pada tahun 2016 suaminya Chairuddin Nasution, yang telah meninggal dunia 3 tahun lalu meminjam uang ke Bank Mandiri sebesar Rp150 juta. Uang itu untuk tambahan modal usaha jual beli ikan kering.

Menurutnya, mereka meminjam uang ke Bank Mandiri bukan kali itu saja. Bahkan menurut Nur Yusni, suaminya pernah tercatat sebagai nasabah terbaik Bank konvensional tersebut.

Diakuinya, dalam setahun kontrak hutang tersebut, suaminya macet membayar kewajibannya, karena usaha yang sudah mereka lakoni selama bertahun-tahun tersebut mengalami kerugian.

“Bapak (Chairuddin Nasution) meninggal sudah 3 tahun. Sehari meninggal, pihak (Bank) Mandiri menelpon, mengucapkan innalillahi saja. Padahal waktu hidup Bapak, katanya nasabah terbaik. Tapi satu pun nggak ada yang datang,” ungkap Nur Yusni.

Seminggu kemudian, lanjutnya dirinya mendatangi Bank Mandiri untuk melaporkan kalau suaminya telah meninggal dunia. Namun bukannya memberi penjelasan terkait hak dan kewajiban ahli waris, bulan setelahnya pihak Bank malah datang menagih hutang suaminya yang sudah mencapai Rp900 juta.

Di balik kekalutannya mendengar besaran hutang suaminya tersebut, Nur Yusni juga diancam kalau rumah yang didiaminya sekarang yang terletak di Pulo Rembang Pasar Belakang Sibolga, yang jadi jaminan hutang suaminya akan segera dilelang.

“Bapak (Chairuddin) minjam Rp150 juta. Sekarang kalau ditotal sama bunganya sekitar Rp900 juta. Sebulan kemudian datang orang itu meminta pembayaran (hutang). Yang datang itu si Adila, ditunjukkannya HP, seperti menakut-nakuti. Jangan sempat begini Bu, rumah dieksekusi, sambil menunjukkan HP-nya. Jual ibulah rumah ini. ‘Kan niat ibu untuk bayar hutang. Iya memang harus bayar hutang, tapi harus ada sisa sama kami. Bulan berikutnya datang lagi sampai 3 tahun,” terangnya.

Ia mengaku telah memasang papan pengumuman di depan rumahnya bertuliskan ‘rumah ini dijual’ sesuai perintah pihak Bank Mandiri. Namun hingga kini, rumah tersebut belum juga laku.

Karena terus didesak untuk bayar hutang, Nur Yusni kemudian meminta data utang suaminya sekaligus hak sebagai nasabah yang telah meninggal dunia. Namun, pihak Bank Mandiri belum juga memberikannya.

“Kebetulan ada yang mengajari kami. Kalau orang itu (Bank Mandiri) datang lagi, minta asuransi kami mana. Entah sampai sama orang itu, makanya orang itu nggak datang lagi,” kata Nur Yusni sambil mengusap air matanya.

Ternyata upaya pihak Bank menagih hutang Rp900 juta tersebut masih terus berlanjut, meski tuntutan Nur Yusni belum dipenuhi. Pihak Bank kembali menagih hutang tersebut melalui sambungan telepon. Bahkan, oknum yang menghubunginya mengaku telah melelang rumahnya melalui iklan sebuah media massa terbitan Sidimpuan.

“Tapi datang lagi SMS si Adila ini mengatakan, kalau mau selesai urusan, baca koran terbitan besok, koran Sidempuan. Dari pagi sampai sore kami mencari di koran Sidempuan, nggak ada terbit. Sebelumnya, kami berurusan dengan Pak Danil. Pak Danil-pun pernah datang ke rumah,” sebutnya.

Merasa terus diteror dengan tagihan hutang yang membengkak tersebut, pihak keluarga kemudian berembuk dan memutuskan untuk mendatangi kembali Bank Mandiri, untuk meminta data hutang suami Nur Yusni. Namun, hingga persoalan tersebut dilaporkan ke LPKSM, pihak Bank belum juga memberikan data tersebut.

“Datanglah anak abang meminta, katanya terpisah suratnya. Masa terpisah suratnya, satunya peminjam. Iya, mungkin di kamar sana. Katanya, Rabulah kalian datang, datang kami Rabu, nggak di situ Pak Danil nya. Kamis-lah, katanya lagi. Waktu kami minta datanya, nggak ditanggapi,” kata Nur Yusni berharap keadilan dari pihak Bank Mandiri.

Terpisah, pihak Bank Mandiri yang ditemui di kantornya di jalan Brigjend Katamso Sibolga belum bisa memberikan keterangan terkait keluhan nasabah tersebut. (ts)